Blogroll

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net
free counters
English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

17 Februari 2011

Senja Bagi Pak Malin…

Bersama dengan datangnya senja, udara dingin mulai merembes masuk dari jendela yang sesenja ini belum ditutup. Di luaran sana masih terdengar kecikak anak-anak yang asyik bermain yang sepertinya tak acuh dengan sang gelap yang mulai merayap. Di balik jendela berdiri seorang laki-laki paruh baya. Pandangannya lurus, tajam seolah membidik anak-anak yang sedang bermain di halaman rumahnya. Halaman rumah yang begitu luas dihiasi dengan berbagai macam tanaman. Tampak di garasi berjejer tiga buah mobil mewah.

Pak Malin, demikian nama pemilik satu-satunya rumah mewah yang ada di kampung ini. Rumah yang begitu luas dihiasi dengan furnitur-furnitur import. Lampu-lampu yang mulai dinyalakan oleh pembantu pak Malin menambah anggun rumah itu. Kabarnya Pak Malin dulu merupakan seorang konglomerat yang mempunyai usaha di berbagai daerah.

Udara yang dihembuskan gunung merapi kian menusuk tulang, namun seperti orang enggan Pak Malin tak kunjung menutup jendela kamarnya. Pikirannya melayang, jauh kebeberapa tahun yang lalu, ketika putra-putrinya masih bersama dengannya menapaki hidup. Hidup sebagai sebuah keluarga yang utuh selama bertahun-tahun sampai peristiwa itu hadir di tengah mereka.

Ya, sebuah peristiwa yang menyisakan luka di hatinya.
Pak Malin memiliki sepasang anak, yang tua perempuan bernama Imah sedangkan yang bungsu bernama Ipang.
“Setamat SMA ini, Imah mau melanjutkan ke UI atau ITB, pa”
Seolah tak mendengar suara anaknya, Pak Malin masih asyik saja membaca Koran yang ada di tangannya sambil sesekali menyeruput kopi yang ada di atas meja.
“Pa, papa dengar Imah bilang apa, pa”
“Eh…apa”
“Tadi Imah bilang setamat SMA ini Imah mau melanjutkan ke UI atau ITB, pa” ulang imah dengan sedikit gusar sambil mengeja ucapannya dengan maksud papanya betul-betul menanggapi serius omongannya. Memang, setiap Pak Malin di ajak ngomong pendidikan oleh anak sulungnya ini, seolah ada keengganan dalam dirinya untuk berpanjang-panjang dengan masalah ini. Berbeda dengan anak bungsunya, Ipang. Ipang selalu mendapat sokongan baik dari segi materi maupun dari segi moril. Hal ini terbukti, jika Ipang butuh keperluan sekolah, tanpa pikir panjang Pak Malin langsung memberikan kebutuhannya dan hamper setiap malam, menjelang tidur Ipang mendapat wejangan motivasi untuk rajin-rajin sekolah, kelak kamu akan menjadi pemimpin orang, selalu ini yang dijadikan pamungkas oleh Pak Malin dalam menyuguhkan wejangan kepada anak bungsunya.

“Imah, seperti yang telah papa sebut sebelumnya sebaiknya setamat SMA ini kamu berhenti saja sekolah”
“Tapi kenapa, pa. Papa pilih kasih, Ipang papa sokong belajar rajin, semua keinginan terpenuhi beda sekali dengan Imah, merengek dulu sampai kering dulu air mata Imah, baru papa berikan keperluan Imah”
“Bukan begitu, anakku. Ipang dia itu laki-laki, dia akan menjadi junjungan orang, akan menjadi pemimpin, masa pemimpin lebih bodoh dari yang dipimpin”

Selalu inilah dalih yang diberikan oleh Pak Malin ketika berdebat dengan anak sulungnya.
“Papa tidak adil, pokoknya Imah setamat SMA akan kuliah terserah papa mau setuju atau tidak” bentak Imah dalam isakan tangis kepiluan yang mendalam.

“Ya terserah, tapi perlu kamu ketahui nak, papa tidak membeda-bedakan kamu bersaudara Cuma papa memfasilitasi kebutuhan kamu masing-masing saja. Ipang setelah dia berumah tangga nanti dia akan memimpin anak-anak beserta isterinya sedangkan kamu, kamu akan dipimpin oleh suami kamu dan satu lagi kerja perempuan itu hanya antara dapur, kamar dan ruang tamu. Nah, buat apa sekolah tinggi-tinggi hanya akan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak berguna, mubazir namanya”

Itulah lukisan pemahaman Pak Malin tentang perempuan. Memang Pak Malin dilahirkan dalam keluarga yang berkecukupan sebagian kekayaannya merupakan warisan dari mendiang bapaknya. Di rumahnya ada TV, bahkan digital lagi, hanya dia satu-satunya orang yang mempunyai digital di kampung ini. Entah dia tidak mengikuti perkembangan jaman, entah memang dia tidak ambil pusing dengan perkembangan jaman atau entah memang prinsip itu sudah terpatri kokoh dalam dirinya, sampai-sampai di jaman semodern ini prinsip itu masih dipertahankannya.

“Imah tidak mau, pokoknya Imah mau kuliah” tangis Imah semakin tersedu-sedan menahan gejolak dalam dadanya.
“Imah, jika Imah mau kuliah silahkan tapi jangan minta biaya kepada papa” timpal Pak Malin dengan datarnya. Namun, tanpa dia sadari dia telah menancapkan duri ke dalam dada putrid sulungnya.
Benar saja, setelah pengumuman kelulusan SMA 01 Canduang keluar dan disana tertera nama Imah dengan peringkat tertinggi. Imah bergegas mengurus pengambilan ijazahnya.

Tak berapa hari setelah pengambilan ijazah Imah tak lagi kelihatan di rumah, entah kemana dia pergi, tak satu orangpun melihat kepergiannya, bahkan Pak Malin sendiri shock mendapati putrid sulungnya tidak ada kabar beritanya.
Sejak peristiwa itu, sepuluh tahun sudah hitungan waktunya dimana putrinya tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini.
“Pak…pak…”
Ohh…desahnya Pak Malin sambil tangannya menyeka air mata yang menetes di pipinya.
“Sudah malam pak, jendelanya kok belum ditutup”
Tanpa menyahut Pak Malin merangkul jendela kamarnya, dia masih bingung berapa lama dia terpaku, meneruka pilu yang telah menancap dihatinya sekian lama.
Jika waktu bias dia putar kebelakang, ingin rasanya ia rubah semua keadaan ini, mungkin juga ia takkan sekeras itu kepada Imah, anaknya. Jikalah ia tahu akan menanggung ragam yang sepilu ini tak mungkin ia akan ambil sikap itu.

Sehabis sholat Isya, perlahan ia baringkan badannya di atas kasur empuk di kamarnya “Maafkan papa, Imah” desahnya yang tanpa disadarinya gumaman itu keluar dari mulutnya disela isakan tangis menahan rindu yang berkepanjangan kepada si buah hati, Imah, anaknya.
Lereng Merapi (Lasi Mudo), 11/02/2011

11 Komentar:

Semoga tidak ada lagi Imah-Imah lain yang meninggalkan bapaknya di usia senja

Salam ukhuwah

@BeDa Thank's atas komentarnya BeDa, memang sudah tugas dan tanggung jwb kita semua untuk merobah kondisi yg ada, sehingga nanti betul2 tdak akan ada Imah2 yg lain yg dilahirkan...

SALAM
UJ

bingung mau komentar apa ,.,.

wah 7 sob, sebaiknya perempuan jangan bekerja, lebih baik jaga anag aja, :)

artikel yang bagus , saya suka sob :D

@agungaw thank's ya dah berkunjung, sukses slalu

@Daris Firzan thank's komentnya sob, he..he..tidak begitu juga sob, sekarang kesetaraan gender kan dah digaungkan so kita juga harus hormatilah persamaan itu dan coba posisikan perempuan pada posisi yg telah diamanatkan oleh al-Qur'an

@sichandra thank's ya pujiannya, tapi ni mah masih artikel sang pemula...

Hmm salam sobat, blognya dah difollow.

Salam sahabat maaf telat dan sangat memberikan inspirasi bagi saya memang benar sich keadaan tidak bisa ditebak dan direkayasa makanya kita berusaha agar tidak kecewa dikemudian hari ups merembes itu artinya pa mas???

@Author Medianers.com thank's sob, jambangi jugalah PEMADU KATA di lain kesempatan minimal sekedar melanggengkan silaturrahmi, Salam Ukhuwah

@Dhana/戴安娜 trim's mbak dhana, setidaknya masih ada pada masyarakat kita yang berpikiran picik seperti itu yang hanya menganggap perempuan hanya sebagai pelengkap saja.....
merembes itu sama juga dengan merambat, masuk secara perlahan-lahan...(he...he...mode on)

salam sahabat
komeng lagi mas biar BL meningkat hehehe
pak malin ini menginspirasikan sosok yang perlu dicermati dengan hati dan fakta yang ada mas

cerita mantap sob.....lanjut nanti saya datang lagi ,nice post

Posting Komentar

Ihkwan Fillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More