Blogroll

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net
free counters

Pages

English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

21 Februari 2011

KABUT MUJAHIDIN

Hujan yang mengguyur bumi Allah sore itu begitu tiba-tiba dan tanpa didahului oleh mendung, jalanan yang sebelumnya padat oleh kerumunan orang yang lalu lalang mendadak sepi, hanya raung kendaraan yang dipacu oleh si pengemudi yang yang mendesau-desau seolah mengalahkan pekikan halilintar yang menyelingi kecipak guyuran hujan.

Jalanan yang sedari tadi sudah menyepi mulai digenangi oleh air yang semakin meninggi. Dari balik kamar kost-anku sesekali aku sibakkan tirai penutup jendela sambil melayangkan pandangan melihat langit yang tak kunjung jernih. “hm…apa jadi ya ni acara” gumamku sendiri. Seperti orang yang berharap saja, aku tak pernah bosan menyibakkan tirai yang menutup jendela itu, mungkin tak terhitung kalinya aku menyibakkan tirai jendela kamarku. Memang, malam ini tepatnya ba’da Isya, aku telah berjanji akan ikut dalam diskusi yang digelar seorang teman dengan sejawatnya dari sebuah pergerakan Islam (sebut saja ormas X) yang konon topiknya membahas isu Negara Islam.

Seperti masih belum pupus harapan kali ini kembali aku sibakkan tirai jendela kamarku, seperti tadi, kembali kulayangkan pandangan  kelangit yang masih diselimuti awan hitam pekat, sambil tertegun melihat derasnya air yang mengucur deras dari atap kost-anku, pikiranku melayang keseputaran persoalan yang ingin kami bahas nanti, kira-kira ide apa yang akan aku tawarkan nanti untuk menetralisir persoalan yang memang sudah melarut-marut ini.

Sayup-sayup dari menara Masjid al-Ikhlas Surau Balai terdengar kumandang azan pertanda sudah masuknya waktu Isya, yach. Sudah Isya tapi hujan belumlah lagi reda, sambil harap-harap cemas, aku bangkit menuju tempat berwudhu’ untuk segera memperkenankan seruanNya. Selesai shalat seperti biasa tak lupa aku bersimpuh memohon kepadaNya supaya aku diberi hidayah dan tuntunanNya dalam meniti kehidupan ini dan tak lupa juga memanjatkan  doa semoga “Mak” di kampung selalu diberikan kelimpahan kesehatan yang prima.

Di luar hujan sudah semakin reda, sambil bersalin pakaian aku sempatkan juga melirik jam yang sudah menunjukkan jam 20.05, aku memang mempunyai prinsip tak mau telat jika dalam persoalan janji, kalau janji telah dibuat “hujan patuih” akan aku hadang. Setelah mengeluarkan “kekasihku” si Jupiter Z, warna hijau yang berplat BAGOJAWI itu, aku mulai mestarter dan berlalu di bawah rintik-rintik hujan yang masih lumayan membasahi. Basah oleh hujan sedikit belumlah seberapa ketimbang dengan ilmu yang ingin aku explorasikan pikirku, seperti telah menjadi pakar saja, pikirku sembari mengulum senyum sendiri sambil sedikit lebih memacu “tungganganku”.

Perlahan aku mulai memasuki pekarangan Masjid Mujahidin, sambil sesekali membunyikan klakson si “Jup” seakan ingin mengasih tau kedatanganku kepada empunya tempat.

“Assalamu’alaikum..” ucapku, menyapa seisi ruangan istirahat sahabatku itu, tampak duduk bersandar ke dinding lelaki paruh baya yang saya hanya tau beliau adalah salah seorang jamaah di masjid yang dihuni oleh temanku ini dan beliau telah menganggap sahabatku itu sebagai adiknya. Di sisi lain “menggelosoh” seorang remaja “tanggung” yang begitu melihatku melayangkan senyum simpul sembari menyahut salam yang barusan kuucapkan. Tapi aku tidak temukan sahabatku, Aldi, sebut sajalah begitu namanya. Setelah bercengkrama dengan seisi ruang yang memang sudah aku kenal dengan baik, aku dapat menyimpulkan bahwa “tamu kehormatan” yang akan menjelaskan ide perjuangan “mereka” belumlah lagi datang.

Aku pesimis mereka akan datang, melihat cuaca yang sedikit agak tidak bersahabat, namun semua keraguanku segera sirna, mendengar klakson motor yang masih menderu di luar, bergegas aku suruh Madi, remaja “tanggung” yang tinggal bersama sahabatku itu keluar menemui mereka. Benar saja tidak lama kemudian mereka sudah masuk kembali ke ruangan di mana kami masih “menggesoh” sambil bercengkrama dengan Uda Parjo. Aku melihat dua wajah yang belum lagi kekenal memasuki ruangan diiringi oleh Madi, setelah saling bertegur sapa dan saling berkenalan tahulah aku bahwa mereka yang baru dating ini masih berstatus Mahasiswa pada PT. Agama di kota ini, yang satu semester 5, Iwan sebut sajalah begitu namanya dan yang satunya lagi baru semester satu, Ahmad aku panggil.

Belumlah panjang lebar kami berucap, terdengar lagi sebuah kendaraan lagi singgah ke pelataran bangunan kami, ternyata sahabatku yang dating. Setelah ia ucapkan salam dan meletakkan bungkus bawaannya dia berucap yang barangkali memang dialamatkan kepadaku. “Lah lamo tibo, Ndan” ucapnya “oh..eh..baru sabanta ko” balasku. Ternyata bawaannya adalah nasi goring, ya kami makan dulu, hitung-hitung ngisi amunisi pikirku, ahh..seperti mau perang saja.

“jadi Negara Islam seperti apa yang saudara-saudara ormas x perjuangkan” sahabatku yang kayaknya dari tadi sudah tak sabaran, membuka segmen diskusi. Dengan sedikit keraguan Iwan coba jelaskan, keraguan itu dapat kami tangkap dari nada yang keluar dari mulutnya, seperti orang kesurupan saja sahabatku menghujaninya dengan berjubel pertanyaan yang menurutku wajar sebagai orang yang memang mempunyai unek-unek dengan ormas x ini. Merasa tak lagi kapasitasnya untuk menjelaskan kepada kami, Iwan mohon izin menjemput “suhu”nya.

Tak selang beberapa waktu, benar saja Iwan sudah kembali dengan seorang pemuda, yang aku pikir punya intelektual yang cukup untuk diajak sharing mengenai persoalan ini.

Betul saja, Ucok (demikian kami bahasakan) menjelaskan dengan amat detail kronologi dan titik akar perjuangan dengan sesekali mengutip ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi. Walau pada dasarnya kami berpikir bahwa saudara kami ini terlalu terjebak dengan tekstualitas sehingga kelihatan bahwa Islam itu sebuah ajaran yang kaku dan tidak toleran, “aku pikir Islam itu ya’lu walaa yu’la alaihi so jangan terlalu sempitlah mengejawantahkan pemahaman sebuah ayat atau hadits” potongku dalam pemaparannya. Dalam pemaparannya Ucok menyebutkan “Kondisi kaum muslim saat ini yang tidak mempunyai pemerintahan Islam mengalami keterpurukan di berbagai bidang. Hal ini dapat kita lihat dari pemikiran umat yang jumud, pendidikan yang materialistik, ekonomi yang kapitalistik, politik yang sekuleristik,  kebudayaan yang hedonistik dan pergaulan yang serba permissive. Tentu saja hal ini sangat ironis karena terjadi pada umat yang diberi gelar oleh Allah SWT sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Oleh karena itu, diperlukan usaha agar umat Islam dapat bangkit dan meraih kembali gelarnya. Salah satu pemikir yang giat dalam membangkitkan pemikiran umat adalah Taqiyuddin An Nabhani. Beliau adalah seorang pemikir, politikus dan hakim Mahkamah Banding di Palestina. Pemikirannya tentang Islam dan umatnya telah menjadi bagian dalam mainstream gerakan Islam di dunia. Lebih dari itu, An Nabhani selalu menyatakan pentingnya pemerintahan Islam dalam menegakkan semua aturan yang telah diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Bagaimana metode untuk menegakkan pemerintahan Islam? Taqiyuddin An Nabhani mencoba untuk menganalisis perjalanan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya ketika menjalani tahapan dakwah dan merekonstruksinya agar menjadi metode baku bagi siapa saja yang menginginkan tegaknya Islam.”

Walaupun Ucok mencoba menjelaskan dengan sedetailnya, namun tetap saja sahabatku membombardirnya dengan seabrek pertanyaan yang selama ini menghantui perasaannya, bak mendapat kesempatan emas, seolah dia tak mau melewatkan setiap depa perdepa penjabaran Ucok. Penjabaran Ucok mulai melemah dan tak lagi konsekuen dengan pembicaraan awal. “Negara Islam itu yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah” statement Ucok. “Kalau yang tidak berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah, gimana” sosoh Aldi, “ya, jelas kufur”. “Jadi Negara kita, sebagai penganut demokrasi pancasila yang nota benenya tidak berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah, kufur” “ya” “berarti orang Indonesia, termasuk kami adalah kafir”. Mendapatkan pertanyaan seperti ini Ucok sudah kehabisan amunisi, dia mencoba berapologi. Ditambah lagi beberapa pertanyaan yang prinsipil yang disodorkan oleh Uda Parjo.

Melihat suasana yang semakin panas, aku mencoba menengahi “Dari awal aku lebih tertarik jika diskusi ini kita giring kepada tataran praktisnya, pada tataran konsep memang kita sepakat dengan nilai-nilai yang saudara usung, tohc..tujuan kita sama kok”.

Malam begitu panjang rasanya, walaupun sudah lebih seperdua malam kami habiskan untuk mendudukkan persoalan ini, namun sepertinya selalu terperangkap oleh “daur aw tasalsul”. Yang jadi persoalan selalu sama, yang diinginkan Islam itu “jargon” atau kehidupan yang benafaskan Islam?. Akhirnya waktu jualah yang mengantarkan kami kepada segmen closing.

Closing yang disampaikan Ucok tetap pada argumennya seperti semula, belum diterima juga nggak apa apa, saya saja bertahun-tahun baru bias nerima, imbuhnya. Aku memberikan closing, mengajak teman-teman di ormas x untuk membuka diri, jangan kita seperti katak di bawah tempurung, mari juga berislam itu secara kaffah seperti yang disampaikan bung Ucok tadi, mari lihat persoalan dengan berbagai perspektif dan buka juga diri untuk membaca realitas yang ada dan yang paling terpenting hindari klaim mengklaim justifikasi dan yang senada sehingga kita tidak ikut dalam mengotori keyu’la-an Islam itu sendiri. Sahabatku memberikan penekanan tak jauh beda denganku, Cuma dia lebih menekankan pada aspek al-Qur’an dan Haditsnya (barangkali karena jurusan tafsir hadits kali ye) mulai sudah siapa saja pakar yang telah menela’ah hujjah-hujjah yang mereka suarakan.

Terang dan jelas saja kami tidak menentang isu Negara Islam ini dan bukan agent anti misi ini, cuma pada tataran teknisnya kami tidak mempersoalkan jargon, karena yang dikehendaki Islam itu bukan jargon tapi sesuatu yang substantif, pikir kami.

Begitulah jalannya malam yang masih menyisakan kabut dipikiran kami, ini belum final, kami akan menggali, kawan-kawan di ormas x juga mengkaji, aku pikir. Sepanjang itu produk manusia, sekalipun yang sudah mapan, menurutku layak dan pantas diuji dan dikaji ulang yang pada akhirnya akan membawa kepada dua kesimpulan. Pertama, akan mematangkan kemapan yang telah terbentuk atau yang kedua, membatalkan kematang itu sendiri.

Penghujung Malam, 20/02/2011

17 Februari 2011

Senja Bagi Pak Malin…

Bersama dengan datangnya senja, udara dingin mulai merembes masuk dari jendela yang sesenja ini belum ditutup. Di luaran sana masih terdengar kecikak anak-anak yang asyik bermain yang sepertinya tak acuh dengan sang gelap yang mulai merayap. Di balik jendela berdiri seorang laki-laki paruh baya. Pandangannya lurus, tajam seolah membidik anak-anak yang sedang bermain di halaman rumahnya. Halaman rumah yang begitu luas dihiasi dengan berbagai macam tanaman. Tampak di garasi berjejer tiga buah mobil mewah.

Pak Malin, demikian nama pemilik satu-satunya rumah mewah yang ada di kampung ini. Rumah yang begitu luas dihiasi dengan furnitur-furnitur import. Lampu-lampu yang mulai dinyalakan oleh pembantu pak Malin menambah anggun rumah itu. Kabarnya Pak Malin dulu merupakan seorang konglomerat yang mempunyai usaha di berbagai daerah.

Udara yang dihembuskan gunung merapi kian menusuk tulang, namun seperti orang enggan Pak Malin tak kunjung menutup jendela kamarnya. Pikirannya melayang, jauh kebeberapa tahun yang lalu, ketika putra-putrinya masih bersama dengannya menapaki hidup. Hidup sebagai sebuah keluarga yang utuh selama bertahun-tahun sampai peristiwa itu hadir di tengah mereka.

Ya, sebuah peristiwa yang menyisakan luka di hatinya.
Pak Malin memiliki sepasang anak, yang tua perempuan bernama Imah sedangkan yang bungsu bernama Ipang.
“Setamat SMA ini, Imah mau melanjutkan ke UI atau ITB, pa”
Seolah tak mendengar suara anaknya, Pak Malin masih asyik saja membaca Koran yang ada di tangannya sambil sesekali menyeruput kopi yang ada di atas meja.
“Pa, papa dengar Imah bilang apa, pa”
“Eh…apa”
“Tadi Imah bilang setamat SMA ini Imah mau melanjutkan ke UI atau ITB, pa” ulang imah dengan sedikit gusar sambil mengeja ucapannya dengan maksud papanya betul-betul menanggapi serius omongannya. Memang, setiap Pak Malin di ajak ngomong pendidikan oleh anak sulungnya ini, seolah ada keengganan dalam dirinya untuk berpanjang-panjang dengan masalah ini. Berbeda dengan anak bungsunya, Ipang. Ipang selalu mendapat sokongan baik dari segi materi maupun dari segi moril. Hal ini terbukti, jika Ipang butuh keperluan sekolah, tanpa pikir panjang Pak Malin langsung memberikan kebutuhannya dan hamper setiap malam, menjelang tidur Ipang mendapat wejangan motivasi untuk rajin-rajin sekolah, kelak kamu akan menjadi pemimpin orang, selalu ini yang dijadikan pamungkas oleh Pak Malin dalam menyuguhkan wejangan kepada anak bungsunya.

“Imah, seperti yang telah papa sebut sebelumnya sebaiknya setamat SMA ini kamu berhenti saja sekolah”
“Tapi kenapa, pa. Papa pilih kasih, Ipang papa sokong belajar rajin, semua keinginan terpenuhi beda sekali dengan Imah, merengek dulu sampai kering dulu air mata Imah, baru papa berikan keperluan Imah”
“Bukan begitu, anakku. Ipang dia itu laki-laki, dia akan menjadi junjungan orang, akan menjadi pemimpin, masa pemimpin lebih bodoh dari yang dipimpin”

Selalu inilah dalih yang diberikan oleh Pak Malin ketika berdebat dengan anak sulungnya.
“Papa tidak adil, pokoknya Imah setamat SMA akan kuliah terserah papa mau setuju atau tidak” bentak Imah dalam isakan tangis kepiluan yang mendalam.

“Ya terserah, tapi perlu kamu ketahui nak, papa tidak membeda-bedakan kamu bersaudara Cuma papa memfasilitasi kebutuhan kamu masing-masing saja. Ipang setelah dia berumah tangga nanti dia akan memimpin anak-anak beserta isterinya sedangkan kamu, kamu akan dipimpin oleh suami kamu dan satu lagi kerja perempuan itu hanya antara dapur, kamar dan ruang tamu. Nah, buat apa sekolah tinggi-tinggi hanya akan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak berguna, mubazir namanya”

Itulah lukisan pemahaman Pak Malin tentang perempuan. Memang Pak Malin dilahirkan dalam keluarga yang berkecukupan sebagian kekayaannya merupakan warisan dari mendiang bapaknya. Di rumahnya ada TV, bahkan digital lagi, hanya dia satu-satunya orang yang mempunyai digital di kampung ini. Entah dia tidak mengikuti perkembangan jaman, entah memang dia tidak ambil pusing dengan perkembangan jaman atau entah memang prinsip itu sudah terpatri kokoh dalam dirinya, sampai-sampai di jaman semodern ini prinsip itu masih dipertahankannya.

“Imah tidak mau, pokoknya Imah mau kuliah” tangis Imah semakin tersedu-sedan menahan gejolak dalam dadanya.
“Imah, jika Imah mau kuliah silahkan tapi jangan minta biaya kepada papa” timpal Pak Malin dengan datarnya. Namun, tanpa dia sadari dia telah menancapkan duri ke dalam dada putrid sulungnya.
Benar saja, setelah pengumuman kelulusan SMA 01 Canduang keluar dan disana tertera nama Imah dengan peringkat tertinggi. Imah bergegas mengurus pengambilan ijazahnya.

Tak berapa hari setelah pengambilan ijazah Imah tak lagi kelihatan di rumah, entah kemana dia pergi, tak satu orangpun melihat kepergiannya, bahkan Pak Malin sendiri shock mendapati putrid sulungnya tidak ada kabar beritanya.
Sejak peristiwa itu, sepuluh tahun sudah hitungan waktunya dimana putrinya tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini.
“Pak…pak…”
Ohh…desahnya Pak Malin sambil tangannya menyeka air mata yang menetes di pipinya.
“Sudah malam pak, jendelanya kok belum ditutup”
Tanpa menyahut Pak Malin merangkul jendela kamarnya, dia masih bingung berapa lama dia terpaku, meneruka pilu yang telah menancap dihatinya sekian lama.
Jika waktu bias dia putar kebelakang, ingin rasanya ia rubah semua keadaan ini, mungkin juga ia takkan sekeras itu kepada Imah, anaknya. Jikalah ia tahu akan menanggung ragam yang sepilu ini tak mungkin ia akan ambil sikap itu.

Sehabis sholat Isya, perlahan ia baringkan badannya di atas kasur empuk di kamarnya “Maafkan papa, Imah” desahnya yang tanpa disadarinya gumaman itu keluar dari mulutnya disela isakan tangis menahan rindu yang berkepanjangan kepada si buah hati, Imah, anaknya.
Lereng Merapi (Lasi Mudo), 11/02/2011

30 Agustus 2010

PERTAPA DAN KEPITING


Suatu ketika terdapatlah seorang pertapa muda yang sedang bermeditasi dibawa pohon yang teduh dipinggir sungai. Saat sedang konsentrasi tiba-tiba perhatiannya terpecah dengan suara yang berisik. Kemudian ia membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.

Ternyata suara yang ditimbulkan oleh seekor kepiting yang sedang berusaha keras untuk mencapai tepian sungai dengan melawan arus. Karena merasa kasihan, pertapa itu mengulurkan tangannya untuk menolong. Seketika keriting itu dengan sigap menjepit tangan pertapa itu. Meskipun jarinya terluka karena jepitan kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena telah menyelamatkan si kepiting .

Belum lama bersila untuk melanjutkan meditasinya terdengar lagi suara yang sama dari tepi sungai , ternyata keriting itu mengalami kejadian yang sama. Kemudian pertapa itu kembali menggunakan cara yang sama untuk menolong kepiting itu, yang menyebabkan jari-jarinya terluka dan semakin membengkak.

Melihat kejadian ini, ada seorang tua yang kemudian datang dan menegur si pertapa muda itu, “Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hati yang baik. Tetapi , mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukai jarimu hingga sobek dan bengkak?”

Pertapa itu mencoba menjelaskan, “Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Oleh sebab itu saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka, asalkan bisa menolong nyawa makhluk lain, saya sudah senang! “

Mendengar jawaban pertapa itu, kemudian orang tua itu mengambil ranting, lalu dijulurkan kearah kepiting yang terlihat sedang melawan arus. Segera si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya. “Lihat anak muda, melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, untuk menolong makhluk lain, bukankah tidak harus dengan mengorbankan diri sendiri. Ranting pun kita bisa manfaatkan, bukan begitu?” Kata-kata arif itu keluar dari mulut sang orang tua.

Seketika itu juga pertapa itu tersadarkan. Dalam hidup ini, banyak hal baik yang kita lakukan, tetapi tidak diiringi dengan kebijaksanaan, namun hanya menggunakan pemikiran dan kepintaran sendiri saja.

Seumpama saat anak kita bersalah, kita memarahi dan memukulnya dengan alasan sebagai wujud sayang dan untuk kebaikannya agar tidak mengulangi perbuatannya. Tetapi yang ada, selanjutnya anak itu malah semakin nakal. Karena kemarahan dan pukulan bukanlah jalan yang terbaik.

Seperti juga kita selalu mengikuti keinginan anak, apapun sampai yang tidak perlu kalau diminta pasti dibelikan, sekali lagi karena sayang. Tapi tanpa sadar kita telah mencelakakannya menjadi anak yang akan selalu memaksakan keinginannya. Selanjutnya itu akan terbawa sampai ia dewasa.

Begitu juga, soal denda bagi yang bersedekah kepada anak jalanan di Jakarta. Memang kelihatan aturannya kejam , tapi kalau direnungkan, bila kita selalu memberi dan memberi pada mereka, selamanya mereka akan jadi peminta-minta. Bukankah kita turut bersalah juga? Ada kata bijak mengatakan, orang bijak itu terlihat kejam, tapi hatinya sungguh lembut. Karena yang ia lakukan adalah semata untuk kebajikan.

Jadi intinya, jangan hanya menggunakan pemikiran dalam setiap hal yang kita kulakan, tapi pertimbangkan dengan kebijaksanaan, mungkin pada waktu itu kita akan tidak disenangi, tapi pada akhirnya nanti mereka pasti akan mengerti dan berterimakasih. (UJ)

Ihkwan Fillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More