Blogroll

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net
free counters
English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

19 Maret 2013

Maaf...!!!

“Dun….!!! Hinduun….!!!, cepatlah kau ke sini” seru emak lantang dari ruang tengah yang sedang melihat siaran stasiun TV .

“Ada apa mak” ujar Hindun yang masih terengah-engah karena separoh berlari dari kamarnya.

“Kau, simak dan kau tontonlah acara ini, agar hatimu tak terlalu beku tuk minta maaf ke si Maih, lakimu itu”
Dengan menggelosoh di dekat Emak, Hindun bergumam antara terdengar dan tidak oleh emak di sampingnya “Eee..lah, itu lagi,itu lagi…”

“Apa yang kau cakap, apa kau kira aku sudah sedemikian tuli untuk tidak mendengar gerutuanmu”
Dengan muka memelas, Hindun minta maaf sama emak.

“Kau dengarlah baik-baik dialog yang dibawakan oleh pembawa acara dan narasumber itu dulu”, ujar emak yang sudah semakin kesal dengan ulah dan tingkah Hindun, anaknya yang bandel tidak mau di omongin itu.

Sementara lewat pegeras suara televise tetap mengalir diskusi pentingnya minta maaf karena akan memasuki bulan suci Ramadhan 1432 H.

Seakan-akan tayangan yang disajikan televise tersebut tidak berbobot, Hindun rebahkan badanny dan perlahan matanya mulai terpejam. Belum pulas tidurnya, sebuah suara lantang membangunkannya “Hindun, kau ini mau jadi anak durhaka ya?, disuruh menyimak jalannya diskusi yang ditayangkan televisi itu, kau malah tidur?. Apa kau tak mau berbersih-bersih masuk bulan suci ini, apa kau mau ibadah puasamu tidak diterima oleh Allah?” serang emak dengan berjubel pertanyaan.

Seolah tak mau dicap anak durhaka, Hindun melakukan pembelaan diri “Bukan begitu, mak. Minta maagf itu memang sesuatu yang disuruh dan diperintahkan oleh agama tapi semua itu lillahi ta’ala bukan karena selainnya seperti karena Ramadhan, kan banyak mak dengar orang yang minta maaf dengan alasan Ramadhan seperti mereka berucap karena kita akan memasuki bulan suci, mohon maaf lahir batin ya” jelas Hindun, sampai di sini dia sudah takut-takut. Takut dikatakan emak, mengajari emak yang sudah tua, yang sudah banyak makan asam garam katanya.
Karena emak masih diam membisu, Hindun melanjutkan penjelasannya “Tanpa mereka sadari, ucapan mereka yang menisbahkan maaf kepada selain Allah tersebut sudah dikotori dengan ketidak ikhlasan, sebab tidak ada ikhlas jika disandarkan kepada selain Allah”.

“Lalu sebaiknya bagaimana” ujar mak yang kelihatan sudah semakin paham dengan keengganan anaknya.
“Jadi, minta maaf itu disuruh oleh Allah dan merupakan perintah agama bukan saja ketika akan memasuki bulan suci tapi setiap saat” paparnya dengan mantap.

“Coba mak bayangkan, jika seandainya maaf dikaitkan dengan sesuatu seperti halnya Ramadhan, jika Ramadhan tidak ada tentu kita tidak akan saling bermaaf-maafan, bagaimana kita mengaplikasikan fa’fu wasfahu

“Jika minta maaf ketika akan memasuki Ramadhan ini tidak perlu kita kaitkan dengan moment Ramadhan, begitu?” timpal mak.

“Iya mak, sebaiknya kita tidak kaitkan dengan Ramadhan karena akan mengotori keikhlasan kita saja, dan aku akan minta maaf ke Uda Maih, mantu mak itu tapi bukan karna kita akan masuk bulan puasa”.

Usman Jambak
Padang, Penghujung Sya’ban 1432 H

15 Agustus 2012

Mudik Lebaran: Sebuah Tradisi Unik


Harian Umum Interpos, 14/08/2012

Oleh: Usman Jambak*

Menjelang lebaran datang, tepatnya hitungan beberapa hari menjelang lebaran, kata-kata ‘mudik’ menjadi sangat populer. Bagi masyarakat yang berada diperantauan akan menggunakan momen dan kesempatan ini untuk pulang kampung menjenguk orang tua, kerabat, handai-tolan atau sekedar melihat ‘ranah tapian’ yang sydah lama ditinggalkan. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan “mudik adalah berlayar ke hulu, pulang kampung/ menuju desa”. Dengan demikian mudik merupakan suatu upaya untuk kembali berlayar ke hulu atau pulang kampung setelah beberapa lama berada di hilir atau di daerah perantauan. Dari pengertian ini, muncul pertanyaan yang cukup menggelitik untuk kita cermati, mudik kok hanya dikenal ketika mau lebaran saja?. Sejak kapan ‘mudik’ menjadi sebuah tradisi musiman?.

Sebagaimana kita pahami dan kita maklumi bahwa bangunan struktur masyarakat Indonesia sebagian besar terdiri dari penganut agama Islam. Bagi penganut agama Islam Idul Fitri merupakan salah satu hari besar keagamaan, hari merayakan kemenagan umat Islam. Dalam tradisinya, merayakan hari raya Idul Futri ini sangat baik apabila dirayakan bersama keluarga besar di kampung halaman untuk saling bermaaf-maafan di antara mereka. Oleh karena itu masyarakat urban/perantauan banyak yang memiliki persepsi, tiada hari yang lebih baik dan lebih indah untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga kecuali pada saat lebaran. Mudik lebaran tidak semata-mata milik warga perantauan yang berkantong tebal akan tetapi juga oleh kaum pinggiran yang mengais rezeki di kota. Hal ini dapat kita saksikan betapa banyaknya pemudik yang menggunakan kendaraan becak mesin, sepeda motor untuk menempuh perjalanan jauh menuju kampung halaman setiap menjelang lebaran terutama oleh pemudik di Sumatera dan bahkan ada yang hanya merantau ‘subaliak dapua’ (belakang dapur-red) mengejar tradisi mudik lebaran ini dengan sangat antusiasnya.

Besarnya minat pemudik untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman sedikit banyaknya juga dipengaruhi oleh pesan moral yang ditanamkan para orang tua kepada anak-anaknya yang hendak pergi merantau, baik untuk tujuan pendidikan maupun untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Para orang tua yang hendak ditinggal pergi sang anak, biasanya tidak lupa menanamkan pesan moral yaitu, apabila berhasil kelak dalam mengarungi kerasnya kehidupan kota supaya tidak lupa dengan kampung halaman tempat orang tua membesarkannya. Sejauh kaki melangkah, janganlah sekali-kali lupa dengan kampung halaman. Fenomena ini digambarkan dengan legenda yang sangat terkenal seperti Malin Kundang di Sumatera Barat, apabila lupa dengan kampung halaman berarti juga akan lupa dengan kedua orang tua yang senantiasa menanti kedatangan anak kesayangannya.

Falsafah hidup yang diwariskan secara turun-temurun ini, ikatan bathin antara warga perantau dengan masyarakat di kampung halaman tidak akan mudah terputus walau sudah lama meninggalkan daerah asal, panggilan jiwa ke kampung halaman bersama sanak keluarga senantiasa mengiang untuk melihat kembali tempat bermain di kala usia belia, berjumpa dengan sahabat lama, melepas rindu dengan sanak keluarga dan yang terpenting adalah memohon maaf dan sembah sujud di hadapan kedua ibu/bapak. 

Suasana yang paling tepat untuk itu adalah di saat Idul Fitri tiba karena rekan-rekan perantau yang lain biasanya juga banyak yang pulang kampung sehingga menjadi moment yang tepat untuk berjumpa dan mengenang kembali saat-saat kecil sambil bercengkrama nan serba lucu dan indah untuk dikenang. 

Resiko Mudik
Setiap menjelang Idul Fitri, perjuangan pemudik menuju kampung halaman tidaklah semudah membalikkan telapak tangan dan berjalan sesuai dengan rencana yang sudah diatur. Berjuang dengan mempertaruhkan nyawa merupakan prediket yang tidak berlebihan yang disandangkan kepada para pemudik sejati. Betapa tidak, untuk memperjuangkan agenda mudik, para pemudik tersebut rela-relaan sewa becak atau malah memberanikan diri mengendarai kendaraan roda dua dalam perjalanan yang lumayan jauh. Terminal bus, stasion kereta api, bandara dan pelabuhan sebagai alur mudik penuh sesak bak lautan manusia tidak menyurutkan hasrat mereka menuju kampung halaman. Belum lagi jalanan yang penuh sesak dengan kendaraan yang dikemudikan tanpa aturan. 

Selain dari risiko keselamatan, apabila dilihat dari segi biaya yang dikeluarkan pemudik juga memerlukan rupiah yang tidak sedikit, penghasilan satu tahun habis untuk merayakan satu kali Idul Fitri. Demikian mitos yang dianut masyarakat pemudik di beberapa daerah kita ini. 

Memaknai Lebaran
Ekspresi dan tampilan  Idul Fitri sebagai “Iduna Ahlil Islam” kata Nabi “Hari Raya kami penganut Islam”. Sebagai “yaumu aklin  wa syurbin wa bahjatin” yakni hari makan-minum dan bersuka cita. Sehingga diharamkan  berpuasa pada hari ini dan diwajibkan kepada seluruh ahlul Islam memastikan tidak  ada seorang anak muslim pun yang tidak ikut berlebaran. Demi kebesaran hari ini maka harus terbebas dari pengemis. Untuk itu secara khusus zakatul fitri diwajibkan.

Dengan menjalankan puasa Ramadhan secara benar ada jaminan dibersihkan dari dosa vertikal dan dengan silaturahim saling memaafkan/membebaskan maka sesama muslim akan terbebas dari dosa horizontal. Dengan begitu Idul Fitri juga bermakna kembali kepada kesucian terbebas dari dosa perdosa. Kembali seperti bersihnya seorang bayi yang dlahirkan dalam fithrah, tidak membawa beban dosa apapun. Dalam kondisi fithri maka setiap insan siap untuk menerima agama Allah yang fithri, yaitu agama Islam dan agama tauhid.

Mudik dan merayakan Idul Fitri di kampung halaman dapat dijadikan momentum awal kebangkitan untuk meraih prestasi dan karier yang lebih baik di masa yang akan datang. Sesungguhnya tiada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan, justru itu moment yang tepat untuk menganalisa diri, introspeksi diri sebagai cermin untuk melihat jati diri yang sesungguhnya adalah pada hari yang fitri ini, kemudian memulai hidup yang lebih jernih, suci dengan meninggalkan kesalahan, kesombongan dan dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya.
Harapan kita, semoga pemudik yang akan berangkat menuju kampung halaman pada lebaran tahun 1433 H senantiasa berjalan dengan semestinya, Amiiin...***

*Peneliti KAJI Institute Kota Padang

IAIN Imam Bonjol Padang: Tonggak Sejarah Kebangkitan PTI Sumatera Barat

Harian Umum Interpos, 14/08/2012

Oleh: Usman Jambak

Membicarakan sejarah IAIN Imam Bonjol Padang berarti membicarakan “kebangkitan kembali” Perguruan Tinggi Islam (PTI) di Sumatera Barat, setelah Universitas Darul Hikmah mengundurkan diri dari kegiatan akademisnya pada tahun 1958.

Pada prinsipnya proses berdirinya Perguruan Tinggi Islam yang diberi nama dengan Institut Agama Islam (IAIN) Imam Bonjol ini diawali dengan berdirinya Fakultas Tarbiyah IAIN sebagai fakultas jauh dari IAIN  Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1963.

Menoleh ke belakang, situasi sebelum tahun 1960, di Sumatera Barat (ketika itu) dunia pendidikan tinggi Islam merupakan periode yang gawat. Puncaknya ditandai dengan mengundurkan dirinya Universitas Islam Darul Hikmah dari kegiatan akademisnya tahun 1958. Universitas yang berdiri sejak tahun 1953 ini, dalam perkembangannya cukup cemerlang. Namun, karena desakan kondisi yang tidak kondusif mengakibatkan perguruan tinggi Islam ini mengundurkan diri.

Meskipun universitas yang pernah jaya ini lenyap, semangat dan keinginan masyarakat Sumatera Barat tak pernah pudar untuk kembali memiliki dan membangun Perguruan Tinggi Islam di daerah Ranah Minang yang sangat terkenal dengan “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” dan merupakan gudang ulama ini. Tak dapat dipungkiri kontribusi ISI (Ikatan Sarjana Indonesia) Padang (1958) sangat nyata dalam mewujudkan keinginan masyarakat Sumatera Barat untuk membangun Perguruan Tinggi Islam di daerah beradat ini. Dengan semangat yang menyala-nyala, ISI Padang beserta simpatisan membangun semangat dan rencana di atas puing-puing kerubuhan Perguruan Tinggi Islam terdahulu seperti Perguruan Tinggi Islam Pariaman (1513-1697). Perguruan Tinggi Islam Kamang-Bukittinggi (1803-1822), Sekolah Islam Tinggi di Padang (1940-1942) dan yang terakhir Universitas Darul Hikmah (1953-1958).

Akhirnya setelah melalui perjuangan yang panjang, tanggal 1 Oktober 1963 dapat diwujudkan sebuah fakultas ilmu agama Islam, meskipun hanya berstatus sebagai fakultas jauh dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Fakultas Tarbiyah tersebut dikonversi menjadi IAIN Imam Bonjol Padang pada 29 Nopember 1966, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama R.I No. 77/1966 tertanggal 21 Nopember 1966. Dengan surat Keputusan Menteri Agama itu IAIN Imam Bonjol memiliki empat fakultas, yaitu Fakultas Tarbiyah di Padang Fakultas Ushuluddin di Padang Panjang, Fakultas Syari’ah di Bukittinggi dan Fakultas Adab di Payakumbuh. 

Dalam beberapa tahun kemudian terjadi penambahan Fakultas cabang di IAIN Imam Bonjol, yakni Fakultas Tarbiyah tahun 1968 dan Fakultas Ushuluddin tahun 1970 di Padang Sidempuan Sumatera Utara, Fakultas Dakwah tahun 1968 di Solok dan Fakultas Tarbiyah tahun 1971 di Batusangkar. Pada tahun 1973 kedua fakultas cabang di Padang Sidempuan bergabung dengan IAIN Sumatera Utara, dan sementara Fakultas cabang di Batusangkar dan Bukittinggi.

Sejak tahun 1976 lima fakultas (Adab, Dakwah, Syari’ah, Tarbiyah, Ushuluddin) sudah dipusatkan di Padang, sebagai ibukota propinsi Sumatera Barat. Tapi keberadaan Fakultas Syari’ah di Bukittinggi dan Fakultas Tarbiyah di Batusangkar masih dipertahankan sebagai dua fakultas cabang. Sejak tahun 1997 pemerintah melepaskan semua fakultas-fakultas cabang dari IAIN dan meresmikan berdirinya 33 STAIN di Indonesia.

Semenjak menjadi perguruan yang mandiri, IAIN Imam Bonjol Padang sudah mengalami 15 kali periode kepemimpinan, yaitu: Prof. Mahmud Yunus (1966 – 1971) H. Mansur Datuk Nagari Basa (Februari – Juli 1971), H. Baharuddin Syarif (Agustus – November 1971), H.Hasnawi Karim (1971 – 1972), Drs.Soufyan Ras Burhany (1973 – 1975), Drs.H.Fauzan, MA (1975 – 1976), Drs.M.Sanusi Latief (1976 – 1982), H.Hasnawi Karim (1982 – 1983), Prof.Dr.H.Amir Syarifuddin (1983 – 1992), Dr.H.Mansur Malik (1992 – 1997), Prof.Dr.H.Abdul Aziz Dahlan (1997 – 2001),  Prof.Dr.H.Maidir Harun (2001 – 2006), Prof.Dr.H.M.Atho Mudzhar,MA (2006 – Februari 2007), Prof.Dr.H.Sirajuddin Zar, MA (2007 – 2011), dan Prof.Dr.H.Makmur Syarif,SH,M.Ag (2011 – 2015).

IAIN Imam Bonjol Padang sebagai satu dari 14 IAIN di Indonesia sedang berupaya menjadi lembaga pendidikan yang unggul dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi, terutama dalam bidang ilmu-ilmu keislaman. Saat ini IAIN Imam Bojol Padang memiliki dua kampus, yaitu kampus satu yang berada di Jl. Sudirman dan kampus dua berada di Lubuk Lintah Kota Padang. Sedangkan pengembangan kampus tiga sedang diusahakan yang terletak di Sungai Bangek Lubuk Minturun Kota Padang.

Pasca gempa yang meluluh-lantakkan Kota Padang, 2009 lalu, kondisi bangunan kampus dua yang terletak di Lubuk Lintah mengalami kerusakan yang cukup berat dan sekarang sedang diusahakan perbaikan dan pembenahan akibat hantaman gempa tersebut.

Tak dapat disangkal kampus yang notabenenya pencetak ulama pewaris nabi ini sangat besar kontribusinya bagi masyarakat Sumatera Barat dan sekitarnya. Kita berharap ada keseriusan bagi pengelola dan pemerintah dalam memperhatukan setiap kebutuhan kampus yang telah berdiri 46 tahun ini.(*)



Misteri Bukik Gunuang Nago



Harian Umum Interpos, 10/08/2012

Oleh: Usman Jambak

ALAM memang memiliki misteri tak bertara yang selalu menggelitik manusia untuk menyelidikinya. Sejak mereka mengetahui tentang keadaan alam sekitarnya, manusia terus berusaha melakukan pencarian-pencarian tentang makna dan hakekat alam yang mereka diami. Gunuang (gunung-red) Nago merupakan salah satu tempat yang menyimpan seabrek misteri.

Tampat Gunung Nago merupakan sebuah bukit yang berada di Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang. Sebelum bernama Tampat Gunung Nago, tempat ini bernama Sianik. Sianik merupakan sejenis rumput atau tumbuh-tumbuhan yang ada di bukit tersebut. Di sana terdapat sebuah kuburan manusia yang bernama si Baco bergelar atau bagala Maradu Balang yaitu tahun 1866 M. Ia merupakan tokoh masyarakat yang sangat terkenal pada saat itu. Ia dikenal orang sebagai urang bagak (jagoan), orang siak (orang yang tahu dan paham dengan agama). Sebenarnya si Baco lahir dan berasal dari Nagari Solok Salayo, tetapi hidup dan berdomisili serta mencari nafkah di Padang, tepatnya di Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh. Ketika ia meninggal, ia tidak dibawa ke Nagari Solok Salayo tetapi dikuburkan diperistirahatan terakhirnya di Bukit Gunung Nago.

Di puncak Bukit Gunung Nago terdapat beberapa kuburan. Kuburan-kuburan ini pada awalnya dilindungi dengan bangunan berkubah. Terdapat lima kuburan di bawah bangunan berkubah tersebut, salah satunya kuburan seorang yang bernama si Nago. Si Nago, merupakan tokoh masyarakat dari pasukuan Chaniago. Ia meninggal masih di zaman bergolak (di zaman perang sebelum Komunis). Si Nago juga merupakan seorang ulama terkemuka di masanya dan merupakan salah seorang ulama yang taat dan kuat memegang tarekat. Demikian keterangan yang diberikan oleh Yulidar (45), bundo kanduang Lambung Bukit. Namun, dalam penyusuran kami ke lokasi, tidak ditemukan bangunan lagi yang menanungi kuburan-kuburan tersebut.

Si Nago sebenarnya juga berasal dari Nagari Solok Salayo sama seerti si Baco. Ia hijrah ke Padang dan tinggal serta berdomisili di Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang hingga akhir hayatnya. Setelah ia “berpulang”, ia dimakamkan di bukit Gunung Nago. Selain kuburan yang dibangunkan kubah tersebut, terdapat juga beberapa kuburan lain yang usianya relatif muda.

Pada waktu-waktu tertentu, berlangsung seremoni-seremoni ritual di tempat itu. Yang dijadikan sebagai pusat ritual mengantarkan sesajian adalah kuburan si Nago – ulama besar pada zamannya- di bawah nauang kubah itulah kebanyakan orang-orang pergi mengantarkan sesajian atau melakukan ritual-ritual khusus. Anggapan mereka, roh-roh orang yang berkubur di sana masih ada dan diyakini dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Para pelaku ritual datang ke sana dengan membawa niat yang berbeda-beda. Ada yang berniat semoga panen padinya lancar, ada juga yang berniat supaya dapat diberikan keturunan. Ada yang minta supaya sembuh dari sakit yang sedang diderita, ada yang punya hajat agar di dalam perkawinan tidak ada pertengkaran dan lancar  di dalam rumah tangga.

Sudah menjadi tuntutan moral bagi para pelaku ritual untuk datang memuja ke sana. Jika mereka enggan datang melakukan ritual ke sana, mereka tidak pergi mereka merasa berhutang kepada dirinya sendiri. Demikian ditambahkan oleh Janewar Maradu Balang Pandeka Pauh V Kota Padang.

Itulah asal muasal kenapa tampat yang dijadikan sebagai pusat ritual bagi masyarakat Alai Kapalo Koto Kec. Pauh Kota Padang diberi nama dengan Bukit Gunung Nago.(*)

Asal Mula Istilah Taplau


Harian Umum Interpos, 13/08/2012

Oleh: Usman Jambak

Sebagai ibukota Provinsi Sumbar, Kota Padang dikenal memiliki cukup banyak potensi wisata pantai. Sehingga tidak heran, setiap pengunjung yang datang ke Kota Padang pasti tidak akan lupa untuk singgah sesaat di pantai Padang atau lebih popular disebut “tapi lauik (taplau)”. Ada beberapa pantai yang menarik untuk dikunjungi di kota yang baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke-343 tahun ini. Di antara banyak pantai yang ada di Kota Padang, Pantai Padang adalah satu yang paling ramai di kunjungi. Hal ini karena memang akses Pantai Padang yang paling dekat dan paling mudah di gapai.

Berada di pinggiran pusat kota ke arah barat, Pantai Padang yang populer dimulut anak-anak muda Kota Padang dengan sebutan “TAPLAU” ini menyajikan pemandangan yang elok dengan debur ombak Puruih yang kadang menghantam kuat dan kadang bergelombang gemulai. Pantai Padang juga  menyuguhkan pemandangan sunset yang dramatis, terdapat pula berbagai jajanan yang menggugah selera. Jadi tempat hang out yang cukup asyik bagi anak muda Kota Padang. Bagi para surfer pemula ada beberapa spot yang cukup menantang di Pantai ini terutama di bagian Pantai Purus dan Pantai Air Tawar.

Pada tahun 2009, lalu. Kota Padang punya visi pembangunan pesisir, antara lain reklamasi pantai padang dengan Padang Bay City (PBC). Namun, sejak gagasan tentang reklamasi pantai Padang diungkap oleh pemerintah Kota Padang, muncul beranekaragam persepsi kelompok masyarakat. Ada yang pro dan ada yang kontra.

Akhirnya, keputusan Walikota Padang menangguhkan PBC dalam waktu yang tidak ditentukan yang disampaikan melalui surat Nomor 050.434/PMK/IV/2007 tanggal 27 April 2007, dinilai sebagai langkah yang arif dan bijak. Hingga masyarakat pun mempunyai kesempatan untuk menelaah urgensi PBC tersebut.
Pantai Padang biasa dipadati masyarakat setempat maupun para pelancong yang kebetulan berwisata atau dalam rangka urusan bisnis di Padang. Pantai Padang memiliki garis pantai yang panjang. Di salah satu sisi, latar belakang laut dilengkapi dengan sebuah bukit yang disebut sebagai Gunung Padang. Beberapa warung tenda berdiri berjejer di tepi pantai, terutama pantai di depan Taman Budaya. Anda bisa menikmati minuman dingin berupa minuman bersoda dan kelapa muda.

Sayangnya, Pantai Padang tak berpasir. Kalaupun ada, hanya tersisa sedikit di beberapa bagian. Pantai ini telah mengalami abrasi menahun. Dulunya arena berpasir tempat bermain cukup luas, namun sekarang kondisinya memprihatinkan, karena bibir pantai habis terkikis ombak. Sehingga tidak menyisakan tempat bermain pasir di beberapa titik, karena sepanjang bibir pantai sudah dipenuhi bebatuan pemecah ombak, tetapi dengan kondisi ini malah membuat pantai padang memiliki pesona tersendiri.

Di pantai yang sangat memanjakan mata ini, sering dijumpai oleh anak-anak muda yang sedang mengamen tapi bergaya urakan dan sedikit mengganggu kenyaman pelancong yang datang ke kawasan ini.

“Kenapa hal yang demikian tidak ditertibkan oleh pemerintah?” ujar Hilmi (45), salah seorang pelancong asal Malaysia, beberapa waktu lalu.

Sore hari, kelar dengan urusan pekerjaan maupun lelah berwisata, Pantai Padang menjadi penutup hari yang tepat. Mengamati matahari yang perlahan-lahan turun. Lalu mulai menyentuh cakrawala dan menebar sinar terakhir hari itu. Kemudian, tanpa disadari, hari mulai gelap.(*)

14 Agustus 2012

Mekah Mini Lubuk Minturun

Harian Umum Interpos (08/08/2012)


Padang, Interpos
Kota Padang boleh dikatakan memiliki beraneka-ragam cagar budaya dan sejarah yang banyak menyuguhkan keindahan kota bagi setiap insan yang ingin memanjakan mata dan pikirannya. 

Tak dipungkiri, panorama alam tersebut menyimpan segudang makna dan kearifan lokal. Mulai dari keindahan alam yang terkemas dalam bentuk pantai yang memanjakan mata wisatawan sampai pada bangunan dan tempat yang menyimpan nilai sejarah dan budaya. Tak kalah ketinggalan juga di kota yang padat Muslim ini juga terdapat banyak objek wisata Islami.

Salah satu objek wisata Islami yang ada di kota ini adalah “Mekah Mini” yang terletak di kawasan Lubuak Minturun Kota Padang. Objek wisata islami yang lebih dikenal sebagai lokasi manasik haji ini, merupakan miniatur tanah suci Mekah, tempat seluruh umat Islam dari berbagai penjuru dunia menunaikan ibadah haji.
Jika dibandingkan dengan kondisi kota Mekah, iklim dan luasnya sungguh jauh berbeda. Namun, begitu memasuki kawasan ini, pancaran nuansa Islaminya sangat kental.
 
Seperti diketahui, kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah. Kemudian pada tanggal 9 Dzulhijjah, bermalam di Muzdalifah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10, 11, dan 12 Dzulhijjah. Tahapan inilah yang diinterpretasikan melalui lokasi manasik haji, di kawasan Lubuak Minturun ini.

Pada pintu gerbang, terdapat tugu yang diatasnya terdapat Alquran raksasa yang terbentang megah. Di bagian depan kawasan ini, terdapat dua batu besar. Salah satunya bertuliskan nama pendiri lokasi manasik haji ini yaitu H.Nurli Zakir dan Hj. Asmaridha, tercantum tanggal pendirian lokasi ini tertanggal 13 Desember 2000 lalu.

Pemandangan bukit yang hijau, akan memanjakan mata setiap pengunjung yang melihatnya. Ditambah hamparan rumput, diselingi pasir layaknya padang pasir, dengan bebatuan besar yang menandakan setiap perhentian seorang muslim dalam menyelenggarakan ibadah haji. Di bagian pojok kiri kawasan ini, berdiri megah bangunan Masjid Nurzikrillah, yang digunakan oleh masyarakat untuk beribadah dan untuk manasik haji, karena di dalamnya dilengkapi dengan miniatur ka’bah. Namun amat disayangkan, menurut salah seorang penjaganya, Masjid ini hanya dibuka ketika waktu-waktu shalat saja.

Di tengah kawasan, terdapat sebuah jembatan kecil, yang di atasnya terdapat tiga buah tugu, melambangkan tempat umat Islam melempar jumrah, Al-Ula, Al-Wustha, Al-Aqabah. Di samping jembatan berwarna biru tersebut, kita akan menjumpai miniatur terowongan Mina, yang menjadi persinggahan saat menunaikan ibadah haji.

Sedangkan miniatur bukit Safa dan Marwah, yang menjadi tempat tahapan sa’i ibadah haji, atau berlari kecilpun ada di sini. Selain dijadikan tempat manasik haji, lokasi ini juga kerap didatangi masyarakat, untuk berwisata. 

“Biasanya kawasan ini ramai dikunjungi ketika libur sekolah atau pada saat lebaran” ungkap wiwit (25 th), penjaga kawasan ini.

Mekah mini yang didesain untuk objek wisata islami dan sarana manasik haji oleh pendiri dan pengelolanya ini, tak jarang disalah artikan pengunjung. Sering juga ditemukan sepasang muda-mudi di kawasan ini yang memadu asmara dan berjalan berduaan. **

Ihkwan Fillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More