Blogroll

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net
free counters
English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

28 Agustus 2010

QIYAMUL LAIL DAN MUHASABAH

QIYAMUL LAIL DAN MUHASABAH
Ada dua hal besar dalam tema di atas; Pertama, Qiyamul lail dan kedua muhasabah. Mari kita lihat satu demi satu.
Qiyamul lail secara harfiyah berarti mendirikan malam. Istilah mendirikan malam tidak hanya terbatas pada bulan ramadhan, namun semua malam yang kita lewati dalam kehidupan ini. Walaupun kemudian istilah qiyamul lail maknanya mengalami penyempitan, yaitu melaksanakan ibadah pada malam-malam ramadhan.
Qiyamul lail atau yang biasa disebut juga Sholat Tahajjud atau Sholat Malam adalah salah satu ibadah yang agung dan mulia, yang disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ibadah nafilah atau ibadah sunnah. Akan tetapi bila seorang hamba mengamalkannya dengan penuh kesungguhan, maka ia memiliki banyak keutamaan. Berat memang, dan tidak setiap muslim sanggup melakukannya. Andaikan kita tahu keutamaan dan keindahannya, tentu kita akan berlomba-lomba untuk menggapainya. Banyak nash dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang menerangkan keutamaan ibadah ini
Pertama: Barangsiapa menunaikannya, berarti ia telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya al-Isra’ 79:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا(79)
“Dan pada sebagian malam hari, sholat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isro’:79).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Sholat yang paling utama sesudah sholat fardhu adalah qiyamul lail (sholat di tengah malam).” (hadits Muttafaqun ‘alaih)
Kedua: Qiyamul lail itu adalah kebiasaan orang-orang shalih dan calon penghuni surga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: surat Adz-Dzariyat: 15-18
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ(15)ءَاخِذِينَ مَا ءَاتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ(16)كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ(17)وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ(18)
15. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, 16. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. 17. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. 18. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.
Ketiga: Siapa yang menunaikan qiyamul lail itu, dia akan terpelihara dari gangguan setan, dan ia akan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan qiyamul lail, ia akan bangun di pagi hari dalam keadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal sholeh.
Suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk sholat, maka beliau menyatakan: “Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya.” (Muttafaqun ‘alaih).
Keempat: Ketahuilah, di malam hari itu ada satu waktu dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabulkan doa orang yang berdoa, Allah akan memberi sesuatu bagi orang yang meminta kepada-Nya, dan Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bila ia memohon ampunan kepada-Nya.
إِنَّ فِي لَيْلَةٍ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيًّاهُ, وَذَالِكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
“Di waktu malam terdapat satu saat dimana Allah akan mengabulkan doa setiap muslim yang meminta kebaikan dunia dan akhirat, yaitu setiap malam.” (HR Muslim No. 757).
Dalam riwayat lain juga disebutkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Rabb kalian turun setiap malam ke langit dunia tatkala lewat tengah malam, lalu Ia berfirman: “Adakah orang yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?” (HR Bukhari 3/25-26).
Sementara, Muhasabah secara harfiyah berarti melakukan penghitungan, penilaian atau yang dalam bahasa populer disebut juga melakukan evaluasi. Tidak sutupun perbuatan yang yang dilakukan manusia secara sadar yang tidak memiliki tujuan, maksud atau sesuatu yang hendak dicapai. Itulah prinsip dari niat yang ada di dalam hati seseorang, ketika hendak melakukan sesuatu amal.
Ketika seseorang membuka pintu rumahnya, pastilah ada yang hendak dicarinya. Ketika seseorang keluar dari rumahnya, pastilah ada sesuatu yang hendak dicarinya, begitulah seturusnya. Sesuatu yang hendak dicapai itulah, yang disebut tujuan.
Begitu juga, bahwa Allah tidak akan menurunkan suatu perintah untuk dilaksanakan manusia atau melarang suatu perbuatan, kecuali di balik perintah dan larangan tersebut ada tujuan dan maksud yang besar. Oleh karena semua pekerjaan memiliki tujuan yang handak dicapai, maka di sitiluah pentingnya melakukan evaluasi terhadap suatu amal atau aktifitas.
Melakukan evalausi berarti melakukan penilaian terhadap suatu perbuatan, sejauhmana tercapainya tujuan yang sudah ditetapkan. Dengan evaluasi, seseorang akan mengetahui apa kesuksesan yang sudah dicapai, apa kekurangan, dan mesti diperbaiki, apa kendala yang dihadapi, dan sebagainya. Dengan mengetahui semua itu, diharapakan akan menjadi pedoman untuk berbuat yang lebih baik di masa berikutnya.
Dalam surat al-Hasyr [59]: 18, Allah mengingatkan manusia akan perlunya melakukan evaluasi terhadap setiap amalnya. Seperti firman-Nya;
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dalam ayat di atas Allah swt berpesan, agar manusia melakukan penilaian terhadap semua apa yang telah dilakukannya, untuk menjadi pedoman berbuat yang lebih baik di hari esoknya. Seperti layaknya seorang tukang yang membuat sebuah rumah, sebelum selesai dan menyerahkannya kepada pemilik rumah yang akan memberikan upahnya, terlebih dahulu dia harus melakukan peninjauan dengan seksama terhadap pekerjaannya. Jika terdapat kekurangan, dia mesti memperbaikinya, sehingga dia mendapatkan hasil maksimal dari pekerjaannya itu.
Selanjutnya, pemilik rumah juga puas terhadap pekerjaannya. Sehingga, dia akan memperoleh upah sesuai dengan harapannya atau bahkan akan mandapatkan “bonus” dari pemilik rumah. Kesuksesannya terhadap pekerjaan tersebut, akan menjadi modal baginya untuk hari esoknya. Andaikata orang tersebut akan membuat rumah lagi pada masa berikutnya, tentulah dia akan dipercaya kembali. Atau bahkan, jika ada ada orang lain yang hendak membuat rumah, tentulah dia akan dicari dan diberikan kepercayaan sebagai tukangnya.
Tentu saja, akan berbeda halnya dengan tukang yang mengerjakan pekerjaan secara acak dan asal-asalan, serta tanpa melakukan evaluasi terhadap kerjanya. Begitu dia menyerahkan hasil kerjanya, pemilik rumah akan kecewa dan untuk masa berikutnya dia akan sulit mendapatkan kepercayaan lagi.
Begitu juga seorang guru misalnya, dalam mengajar mestilah melakukan evaluasi terhadap anak didiknya. Jika anak didiknya mendapatkan nilai bagus berarti dia sukses mengajar dan kesuksesan ini akan dijadikan pedoman untuk mengajar dan mencapai hasil yang lebih baik untuk masa mendatang. Jika nilai anak didiknya jelek dan kurang memuaskan, maka berarti dia gagal dan mesti mencari cara dan metode lain yang lebih baik untuk menghasilkan perubahan yang lebih baik pada masa berikutnya.
Ada hal yang menarik dari pesan Allah dari ayat di atas, di mana perintah bertaqwa disebutkan dua kali. Pertama, sebelum evalusi dan kedua, setelah evaluasi. Begitulah isyarat Allah kepada manusia, bahwa taqwa pertama adalah landasan untuk melakukan perbuatan dengan sebaik-baiknya, serta dengan kemampuan yang maksimal. Akan tetapi, jika masih terdapat kekurangan, maka mestilah dia memperbaikinya dengan segenap kemampuan dan dengan upaya maksimal, itulah taqwa yang kedua. Begituah hendakanya manusia beramal, lakukanlah suatu perbuatan dengan maksimal, kemudian setelah dievaluasi perbaiki dengan maksimal pula.
Ibadah puasa dan serangkaian ibadah lainnya yang kita laksanakan selama Ramadhan, mestilah juga dievaluasi sebelum kita menyerahkannya kepada Allah, maka perlu diperhatikan segala sesuatunya, termasuk memperbaiki segala bentuk kekurangan dan ketidaksempurnaannya. Sehingga, ketika diserahkan kepada Allah, Allah swt merasa “puas”, sehingga kita berhak atas balasan berupa maghfirah, sorga dan keridhaan-Nya.
Jika kita kembali hubungkan dengan tema kita di atas, qiyamul lail dan muhasabah, maka dapat kita simpulkan bahwa waktu terbaik untuk melaksanakan muhsabah, penghitungan diri atau evaluasi itu dalah saat malam hari tersebut. Sebab, saat itu bukan hanya suasana yang tenang, hening dan khusu’, tetapi hati manusia juga dalam situasi yang paling bening dan jernih karena berada pada saat yang paling dekat dengan Allah.

1 Komentar:

Seorang ulama’ mursyid bermadah “Masa itu adalah umur kita, kalau kita tidak mengisi masa dengan sebaik-baiknya bererti kita telah mensia-siakan umur kita”.

Tempoh perjalanan kehidupan di dunia ini cukup singkat. Mungkin kita rasa hidup 60 atau 70 tahun sebagai suatu masa yang agak panjang. Namun hakikatnya kebanyakan kita lebih banyak membuang usia sia-sia berbanding menggunakan setiap detik yang ada dengan penuh manfaat.

Belayar di lautan kehidupan, biarpun tidak tahu ke mana arah yang hendak di tuju. Kita ini telah diarah jalan mana yang harus dituju. Telah disediakan kemudi, telah diberi pendayung. Cuma tinggal untuk melayarkan bahtera kehidupan sahaja.

Posting Komentar

Ihkwan Fillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More