Blogroll

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net
free counters

Pages

English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

12 Agustus 2012

Masjid Tertua Bertonggak Nama 25 Nabi dan Rasul


Harian Umum Interpos, 06/08/2012
Oleh: Usman Jambak

Padang, Interpos - Masjid Raya Ganting atau populer di kalangan masyarakat dengan sebutan Masjid Raya Gantiang merupakan sebuah masjid tertua di Kota Padang, terletak di jalan Gantiang Padang. Masjid Raya Ganting ini pertama kali dibangun pada tahun 1805 dan selesai pada 1810, dipelopori Angku Gapuak, Angku Syekh Haji Uma yang dimakamkan di belakang masjid bersama-sama sekelompok orang dari pasukuan Chaniago. Demikian dituturkan oleh Yulfikar Yunus, salah seorang pengurus inti Masjid Raya Ganting.

Sebagai sebuah masjid tertua, Masjid Raya Ganting memiliki segudang keunikan dan kelebihan daripada bangunan-bangunan masjid lainnya. Arsitekturnya merupakan kombinasi dari arsitektur Melayu – Cina dan Barat. Dalam ruangan masjid terdapat 25 tiang yang mempunyai nilai filosofis mengingatkan akan umat Islam terhadap 25 Nabi dan Rasul.

Sebelum tahun 1970, di tengah-tengah masjid terdapat anjungan tempat muadzin mengumandangkan azan. Seiring berjalan waktu dan alat pengeras suarapun sudah ditemukan, anjungan tempat muadzin mengumandangkan adzan tidak berfungsi lagi. Untuk alasan efisiensi anjungan tersebut dihilangkan pada tahun 1970. 

Mimbar Masjid Raya Ganting didesain dua buah. Satu buah terdapat di dalam sebagai fasilitas sholat (ibadah), sedangkan satu lagi terdapat di luar ruangan yang difungsikan jika ada acara seremonial kemasyarakatan (muamalah) seperti jika ada kerapatan nagari. Kondisi ini betul-betul mempraktekkan masjid di masa Rasulullah yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah tetapi juga sebagai sarana muamalah.

Keunikan lainnya adalah bahwa Masjid Raya Ganting selama bertahun-tahun (1810 hingga 2009) tidak mengenal konstruksi bangunan dari besi. Baru setelah terjadi gempa dahsyat yang melanda Kota Padang pada tahun 2009 - setelah melalui analisis beberapa orang arsitek - tiang-tiang masjid diperkuat dengan besi beton. Sebab, gempa yang berkekuatan 7.9 Skala Richter tersebut mematahkan hampir sepertiga dari tiang-tiang yang ada. 

Melirik lantai dua dari bangunan Masjid Raya Ganting ini sedikit membuat hati kita trenyuh, sebab lantai dua yang sebagian besar masih terbuat dari kayu tersebut terlihat reot. Kita berharap ada perhatian serius dari pemerintah terhadap kelestarian dan kebutuhan bangunan Masjid Raya Ganting ini yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. (uj)

29 Juli 2012

RAMADHAN: MOMENTUM BERBENAH ANAK BANGSA

Harian Umum INTERPOS [Kamis, 26 Juli 2012]

Oleh: Usman Jambak

Enam puluh tujuh tahun hampir umur kemerdekaan bangsa Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, pemaknaan momentum kemerdekan tanah air tercinta Indonesia dari rongrongan penjajah beberapa dekade terakhir ini seakan hilang tanpa arah, berlalu tanpa arti. Bahkan, Ramadhan yang beberapa tahun belakangan berbarengan dengan momentum kemerdekaan Indonesia ini juga tidak menemukan arti pentingnya sebagai bulan kemenangan bagi umat Islam.
Kehadiran tokoh-tokoh muda baik dipentas nasional maupun regional yang tercampak dari rule idealisme dan kodratnya sebagai avant garde baik dalam perubahan maupun dalam pembangunan, seakan menambah suram potret anak bangsa hari ini. Sebut saja beberapa kasus korupsi dan tindak penyelewengan lainnya yang diawaki oleh generasi muda, mulai dari mafia peradilan hingga mafia pajak. Penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya dirisemakin banyak menjerat tokoh muda hari ini.

Berkaca dari sejarah, generasi muda sebenarnya memiliki peran yang cukup penting dalam merebut kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, 67 tahun silam. Pemuda menjadi penggagas bagaimana kemerdekaan itu harus diraih dan direbut bukan dengan pemberian oleh bangsa asing. Sebab itu mereka menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Ini dimaksudkan agar para pemimpin tak lagi hanya bergantung oleh “iming-iming” yang diberikan bangsa asing.

Usman Jambak in Malaysia
Setelah merdeka, kembali para pemuda tidak tinggal diam begitu saja. Mereka mencermati bagaimana elite-elite politik yang ada belum mengangkat kesejahteraan rakyat sebagaimana yang termaktub dalam UUD 1945 dan Pancasila. Pemuda pun kembali bergerak dengan segala idealismenya. Soekarno dengan segala kekuasaannya harus rela turun dan Soeharto menggantikannya. Soeharto memang banyak menjalankan pelaksanaan pembangunan negeri ini, tapi sayang di situ pula ia bangun jaringan untuk mereguk pundi-pundi uangnya secara kekeluargaan. Para pemuda lagi-lagi bergerak mencermati hal itu yang kemudian mengantarkan dan mendorong lahirnya era reformasi 1998.

Ketercorengan citra pemuda hari ini sebagai harapan bangsa mesti disadari. Hanya dengan menyadarilah proyeksi ke depan dapat diperbaiki. Momentum Ramadhan 1433 H sekarang ini, memang momen yang tepat dan masa yang baik untuk berbenah. Tak salah jika sekiranya pemuda mengambil peranan yang baik pada momentum ramadhan seperti saat ini. Pemuda harus kembali menjadi avant garde bagi bangsanya. Untuk merealisasikannya, setidaknya ada 3 dimensi yang selalu bergerak dalam diri manusia dan keterkaitannya dengan Ramadhan yang harus dimaknai.

Tiga Dimensi Ramadhan

Pertama dimensi qalbiyah; yaitu dimensi hati. Dimensi ini akan berkaitan dengan aqidah. Seberapa besar pertambahan kualitas keimanan ketika Ramadhan masuk, dan hasilnya akan terlihat setelah Ramadhan berakhir. Hitungannya ialah seberapa besar perkembangan ibadah, keyakinan dan keinginan untuk menjadikan semua aktivitas diri menjadi ibadah. Maka, anugerah pertama yang lahir di bulan Ramadhan yang termanfaatkan adalah anugerah qalbiyah, atau keimanan.

Tentu saja sangat merugi umat Islam yang mengabaikan datangnya bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, mahfirah, dan ampunan ini sehingga kelak kita terhindar dari api neraka. Bila puasa kita berjalan dengan baik maka sangat besar peluang dosa-dosa kita sebanyak apapun juga, kecuali sirik, akan diampuni Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita menjalankan ibadah puasa di siang hari dan melaksanakan amalan sunnah lainnya di malam hari, seperti shalat tarawih, tadarus, zikir dll. Berbahagialah mereka yang dapat melaksanakannya dengan sempurna, karena imbalan pahalanya demikinan besar dan berlipat ganda. Bayangkan anda tidak akan pernah bertemu lagi dengan Ramadhan mendatang sehingga kualitas ibadah kita semakin fokus dan khusuk.

Dimensi kedua adalah dimensi moralitas, bahwa Ramadhan harus bisa melahirkan pribadi yang lebih baik lagi, Ramadhan bisa melahirkan sikap yang membahagiakan untuk sesama umat. Inilah cita-cita kedua yang ditelurkan oleh pesantren Ramadhan. Pelatihannya bisa dimulai dari belajar sabar, berbaik sangka, mendahulukan yang penting dan prioritas. Pelatihan selama satu bulan ini harus menjadi perubahan dan perbaikan sikap diri. Menjadi orang yang lebih santun, menjadi orang yang ramah dalam pergaulan social. Oleh karenanya, harus dipastikan Ramadhan ini bisa merobah moralitas diri yang berujung pada perubahan moralitas kolektif.

Tidak dapat dipungkiri ada dua syahwat terbesar tersebut berbanding sejajar dengan realita kehidupan saat ini. Banyak kejadian yang menyimpang berasal dari dua syahwat ini. Syahwat terbesar pertama yang datang dari perut. Kita pasti dapat melihat, berapa banyak orang yang rela (mohon ma’af) mencuri, “melacur”, bohong, korupsi, kolusi, nepotisme dan lain-lain. Alasan semua itu dilakukan karena yang terbesar adalah karena alasan perut. Di samping ada sebab-sebab lain yang mungkin melatarbelakangi hal itu terjadi.

Syahwat terbesar kedua yang disebutkan setelah perut adalah yang berasal dari kemaluan. Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas, dapat kita lihat tingkat kejahatan yang ditimbulkan juga besar. Banyak kejahatan yang ditimbulkan oleh syahwat ini. Asumsi di atas sebagai imbas dari realita sekarang ini dengan semakin tingginya angka kejahatan pemerkosaan, perselingkuhan, aborsi, hamil di luar nikah. Kejahatan itu tentunya disebabkan ketidakmampuan manusia menahan syahwat yang berasal dari kemaluannya.

Kejahatan-kejahatan yang berasal dari dua syahwat terbesar di atas, menandai bahwa perlu adanya pembenahan terhadap nilai moralitas. Tentu hal yang dapat dilakukan yaitu dengan mengambil hikmah terbesar dari ibadah puasa dalam perbaikan moralitas dari syahwat yang berasal dari keduanya. Ibadah puasa tentunya sangat besar pengaruhnya dalam mengerem laju kejahatan-kejahatan yang disebabkan oleh hal tersebut di atas.

Dalam Islam tidak ada upaya untuk membunuh kedua syahwat di atas, akan tetapi Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu mengendalikan kedua syahwat tersebut. Salah satu cara untuk mengendalikan kedua syahwat tersebut yaitu dengan ibadah puasa. Sering kita mendengar pepatah, mencegah itu lebih baik dari mengobati. Pembinaan moral yang diajarkan oleh Islam, salah satunya tentu melalui ibadah puasa ini karena puasa sangat besar pengaruhnya untuk perbaikan moral bangsa. 

Dimensi ketiga adalah dimensi karakter. Dipastikan bahwa kita merubah segala karakter kita menjadi perbuatan yang bernilai baik dan positif setelah Ramadhan. Itulah yang disebut manusia paripurna. Maka diri yang sempurna adalah diri yang sudah mampu merubah prilaku dan perbuatan menjadi lebih baik lagi, menambah kebaikan, mengikis keburukan.
Sesungguhnya Ramadhan merupakan metode yang didesain oleh Allah untuk perbaikan perbuatan manusia, karena di dalamnya terdapat rangkaian proses ibadah agar manusia menjadi lebih baik dalam segala hal. Lebih baik hatinya, lebih pandai bersyukur, lebih peduli sesama, dan lebih bertakwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang hidupnya selalu bersama Alquran. Hidup bersama Alquran artinya hidup bersama Allah. Itulah inti dari ibadah puasa Ramadhan.
Alquran adalah petunjuk bagi umat manusia (hudan li al-nas), ia juga menjadi penyembuh (syifa’), dan penjelas (bayan) dan pembeda antara yang hak dan batil (furqan). Alquran diturunkan supaya manusia bisa mengambil hikmah darinya dalam menjalankan segala amanah dan perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, orang yang mempelajari dan mengamalkan Alquran akan mampu membedakan perbuatan baik dan buruk, benar dan salah, serta halal dan haram. Karena itu, Ramadhan adalah momentum renovasi hati agar karakter manusia kembali seperti saat dia dilahirkan. Kembali pada fitrahnya.

Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan bahwa bila hati seseorang baik, maka baik juga seluruh tubuhnya. Tapi, bila hatinya rusak maka rusaklah seluruh perilakunya. Hati yang rusak bisa disebabkan oleh banyak hal. Misalnya karena dengki, dendam kesumat, nafsu serakah, egois, emosional, serta mau menang dan benar sendiri. Oleh karena itu, marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan amal ibadah melalui Alquran dan ibadah lainnya. 

Membaca dan mempelajari Alquran harus diniatkan dan ditekadkan untuk perbaikan hati agar lisan kita tidak dusta dan perilaku sesuai dengan hati kita. Kita tegakkan shalat agar tidak sombong, angkuh, dan menjadi rendah hati. Kita ulurkan tangan, peduli sesama melalui sedekah, infak, dan zakat agar hilang perasaan kikir dan bakhil dari hati kita. 
Shiyam atau puasa yang berkualitas akan tergambar pasca-Ramadhan. Bila karakter seseorang semakin baik, kesadaran terbentuk dengan pola Alquran, pikiran tidak liar, dan perasaan terkendali, sehingga tidak mudah menderita sakit fisik, maka itulah salah satu tanda berhasilnya Ramadhan seseorang. Sesungguhnya seluruh amal perbuatan anak cucu Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya (Hadis Qudsi).
Kualitas (karakter) hati hasil tempaan di bulan Ramadhan akan diuji setelah Ramadhan nanti. Apakah selama 11 bulan ke depan kita bisa senantiasa menghadirkan Ramadhan di hati kita atau dalam kehidupan kita. Karena, Ramadhan adalah momen yang hanya terjadi setahun sekali. Wallahu ’alam. (*)

28 Desember 2011

ABU DI ATEH TUNGGUA

ABU DI ATEH TUNGGUA
(Diskusi di Ruang Group Facebook: BENARKAH ADAT MINANG BERSENDIKAN SYARAK?)


USMAN JAMBAK: Kedudukan urang sumando dalam masyarakat adaik Minangkabau acok bana digambarkan 'Bak Abu di Ateh Tunggua' dan iko dianggap sebagai salah satu nan balawanan jo syarak, ba a duduak tagak persoalan iko go mamak sarato dunsanak nan duduak dalam ruang nangko...
Top of Form
'Datuk Mudo menyukai ini. (22 Desember 2011)

Komentar:
http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash2/371174_1808396949_127087640_q.jpg'DATUK MUDO: Indak ado ayat Qur'an nan manyingguang atau mangaturnyo, agiahlah bocorannya senek sanak kalau ado
12 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Iyo batua bana tu Mak 'Datuk Mudo, indak ado ayat jo hadih nan mambicarakan tapi katiko bicaro persoalan adaik apolai kalo terkait dg posisi urang sumando mako ungkapan nan sarupo iko muncul, makonyo ambo tanyoan ba a pamahamannyo ko...
12 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash2/371174_1808396949_127087640_q.jpg'DATUK MUDO: Tapi konteks nyo hubungan sasamo manusia kan lai diatur samo agamo kito. Jadi nan paralu kito pedomani sajo baa nan disyariatkan oleh Islam. Saling hormat menghormati dan manjago perasaan hrs diperhatikan
12 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Apo nan mamak katokan itulah kato nan sabananyo mak 'Datuk Mudo, cuma sebagai urang nan dilahiakan dan gadang di ranah Minang tacinto ko sudah sapatuiknyo juo mangatahui seluk beluk masyarakaik jo adaiknyo, kalo toh ado pertentangan tentu ado jalan damainyo. Bukankah falsafah dasarnyo ABS-SBK, kini kito temukan ado beberapo falsafah yang secara sepintas lalu berlawanan dg syarak, nah dalam persolan nan sarupo iko tentu ado pemahamannyo yg tapek sahinggo kito tidak hanyo manilai dari apo nan ta tulih...
12 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: Assalamu’alaikum Wr Wb. MANURUIK ambo, kalau Adat Minangkabau lai konsisten disigi jo kaco mato Islam (bukan sabaliaknyo ajaran Islam nan disenter jo aturan Adat Minangkabau), indak basuo konsep sumando dalam syarak do. Konsep sumando nan hanyo ado dalam adat Minangkabau ko jo konsep mamak, sabananyo samacam dualisme nan bisa mabueak galombang balimpik, (fungsi dan peran yang tumpang tindih bahaso nasionalnyo). Karano mamak ko areak bana hubungannyo jo konsep "anak dipangku kamanakan dibimbiang" Tapi samo jo sumando konsep "kamanakan dibimbiang" ko indak pulo ado dalam syarak do. Itu konsep tangguang jawab sosial nan hanyo ado dalam klausul Adat Minangkabau. Apo sebanyo konsep-konsep sumando jo mamak ko indak ado dalam syarak ? Manuruik ambo dek karano Allah labiah tahu sampoai di ma bateah kamampuan laki-laki. Laki-laki indak kamampu berperan ganda (badwifungsi) "mamangku anak sakali gus mambimbiang kamanakan". Kalaupun ado nan mampu hanyo saketeak sajonyo, mungkin nan tagoloang laki-laki super. Sadangkan ajaran Islam tu indak khusus untuak urang Minangkabau sajo do, berlaku untuak seluruh alam. Indak kamungkin pulo ninik muyang awak saisuak nan manyusun Adat Minangkabau ko labiah tahu pado Allah, labiah santiang pulo visinyo pado Allah. Jadi manuruik ambo, indak ado jalan lain, Islam nan harus manyempurnakan Adat Minangkabau, bukan sabaliaknyo. Baa pandapeak sanak nan lain ? Partanyaannyo : Apo laki-laki Minang harus bapungsi tunggal sajo sabagai imam dalam rumah tanggonyo sasuai jo ajaran Islam ? Atau tetap bafungsi ganda jo “beban tambahan” manjadi mamak bagi kamanakan jo dunsanak padusinyo sarupo nan ado dalam ajaran adat ? Ambo raso, suko atau indak suko, iko partanyaan nan paralu awak cari jawabannyo. Baa manuruik sanak ?.Wassalam
11 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Tarimokasih pencerahannyo mak Helmidjas Hendra, difokuskan dg pertanyaan ambo: apo sebetulnyo pemahaman 'abu di ateh tunggua' ko mak?
10 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/370401_1566114296_838005984_q.jpgIBU ASNIWITA: Menuruik ambo arti abu di ateh tunggui pai tidak maninggaan bakeh..mungkin itu mhn maaf kalau salah,contoh nyo mertuo terhadap minantu hati2 bana manjago hati minantu/ sumando(dulu di kampuang). Sebab menantu salah saktek mudah baganyi(sisuak) nyo baok baju sketek dari rmh ortunyo...tlg tukuak sanak..:)
9 jam yang lalu melalui seluler · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: Assalamu'alaikum Wr Wb. @ USMAN JAMBAK > KOK manuruik pamahaman ambo "abu di ateah tunggua" ko dari kaco mato Islam artinyo negatif, meskipun dari kacomato adat mukasuiknyo adolah penegasan bahaso sumando tu kedudukannyo labil, indak kuat, indak mancakam sarupo kadudukan mamak/tungganai, karano inyo urang lua nan sawaktu-waktu bisa pai (tabang) kalau ado panyabab (angin kancang atau kanai hujan bagai). Mako manuruik ajaran Islam negatif, karano sumando ko banalah sabananyo nan imam dalam keluarganyo, nan mancarikan nafkah, mambimbiang untuk keselamatan keluarganyo (istri jo anak-anaknyo) di dunia di akhirat, nan maitam jo mamutiahkan (istri harus taat ka suaminyo, anak harus taat ka bapaknyo, sapanjang suami/bapak indak manyuruah malangga perintah Allah) Jadi peran dan fungsi sumando ko bukan sakadar manjadi (maaf) pejantan, sarupo katiko Islam alun masuak manyempurnakan adat Minangkabau. BANYAK juo nan bapandapeak istilah "abu di ateah tunggua" ko hanyo digadang-gadangkan dek sumando-sumando nan indak tagoloang sumando niniak mamak, sabagai alasan untuak balapeah tangguang jawab. Tapi dek ambo indak basuo contoah nan sarupo tu do, tertulis atau di lapangan. Wassalam
9 jam yang lalu · Suka · http://static.ak.fbcdn.net/rsrc.php/v1/yw/r/drP8vlvSl_8.gif2

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Sasuai ambo mak Helmidjas Hendra, sebagai perimbangan informasi kan indak ba a ambo nukil juo hasia diskusi ambo jo salah surang Datuak di kampuang doh..?? kok lai buliah ko kasimpulan nan dapek ambo ambiak dari diskusi nan tun. Istilah 'Bak Abu di Ateh Tunggua' ko bukan sebagai perwujudan lamahnyo kedudukan urang sumando karano baliau urang nan dijapuik sarato dijangkau, istilahko muncul sabagai wujud kuat dan logisnyo kaduduak-an inyo. Abu di ateh tunggua bukan abu sumbarang abu nan tatonggok di ateh tunggua, abu di ateh tunggua nan dimukasuik adolah abu hasia pambakaran batang padi (tunggua) di sawah. Abu nan tatonggok di tunggua tu sangat sulik dibarasiahan apolai kalo lah disiram pulo dek aia (kalo ndak picayo buliah eksperiment mak..he..he). Kondisi ko dikaikkan dg posisi urang sumando, kalopun tajadi juo angin nan ka ma asak tampeknyo, toh inyo pulang ka rumah kekerabatan Ibunyo dalam keadaan malenggang sajo (tanpa mambao suatu barang apapun) tamasuak barang nan ketek2, bahkan CD sekalipun tak akan inyo bao, satiok malam barang2 inyo akan selalu dipandangi oleh si isteri, dalam kondisi nan mode iko (kalo kesalahan barasa dari pihak isteri) biaso isteri akan luluh dan akan mamaso mamak atau dunsanak laki-lakinyo untuak mambaliak-an lakinyo. Kalolah seperti iko pemahamannyo ternyato ado ketinggian makna nan tasimpan di baliak papatah-petitih Minangkabau iko....

Oke, mak. kito fokus dg pemaknaan mamaak, pertanyaaan berikutnyo: pabilokoh urang sumando ko dikatoan abu diateh tunggua? apokoh istilah ko balaku umum? Trim's mak.
7 jam yang lalu · Suka · http://static.ak.fbcdn.net/rsrc.php/v1/yw/r/drP8vlvSl_8.gif1

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: Assalamu'alaikum Wr Wb @ USMAN JAMBAK > Kalau untuk sakadar ilustrasi, nan sanak caritokan tu buliah lah, tapi dari aspek filosofi indak basuo. Sabab tunggua jo munggua jo batang padi (jarami) balaian artinyo. Tunggua nan dimukasuik ko bahaso Indonesianyo tunggul, pangka batang kayu nan alah rabah atau ditabang. Cubolah manyiram jo aia atau maambuik jo angin bagai kok indak tabang abu di ateah tunggua tu. Manuruik ambo di siko lah jalan basimpang sanak. Ikolah sabab utamonyo baa mako generasi mudo Minangkabau, apo lai nan gadang jo lahia dirantau indak manyambuang jo tuo-tuo nan di ranah, katiko mereka urang-urang mudo ko ingin mamahami adat Minangkabau ko dari "sumberf asli"nyo (para pangulu) nan saharusnyo bak kayu gadang ditangah padang, ureaknyo tampeak baselo, batangnyo tampeak basanda, KA PAI TAMPEAK BATANYO, KAPULANG TAMPEAK BABARITO. iko nan indak jalan, dek banyak mamak, tungganai jo pangulu, indak mampu manyampaikan informasi adat Minangkabau nan proporsional. Iko pandapeak ambo pribadi mah sanak
TENTANG pertanyaan: pabilokoh urang sumando ko dikatoan abu diateh tunggua? apokoh istilah ko balaku umum?, insya Allah sudah Magrib ambo jaweak. Wassalam
7 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: Assalamu'alikumm Wr Wb. Maaf, talambeak ambo manjaweak tanyo sanak. Iko jawabannyo manuruik ambo. Urang sumando ko dikatoan abu di ateh tunggua salamo manjadi urang sumando. Karano inyo tetap dindak dianggap bagian dari keluarga istri jo anaknyo. Sukunyo babeda jo jo suku istri jo anaknyo karano mereka indak sakaum. Tapi urang sumando ko bisa sacaro sepihak malapeahkan dirinyo dari parasaan manjadi abu di ateah tunggu tu. Caronyo sederhana sajo asa inyo lai mampu. Inyo bao keluarga nyo (keluarga batih = nuclear family) ka tampeak nan "merdeka" (diseo, dikontrak atau dibalinyo) rumah untuk inyo anak baranak, inyo bausao di lua lembaga yang basangkuik pauik jo harta milik kaum istrinyo (rumah gadang, lahan pertanian dsb) Kalau ituy inyo lakukan sulik manyabuik inyo abu di ateah tunggu, karano inyo manjadi imam dalam keluarganyo. Kok datang bana mamak jo dunsanak istrinyo mereka datang sebagai tamu. Itu manuruik ambo, itu makonyo urang sumando di rantau indak marasokan sindrom abu di ateah tunggua ko, karano itu pandangan sepihak ndari pihak kaum istrinyo. PERTANYAAN KADUO apokoh istilah ko balaku umum?
2 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: (SAMBUNGAN) Manuruik ambo memang balaku umum, karano iko manyangkuik status. Nan balaku khusus ado pulo, kok suko maasuang fitanah "sumando kacang miang namonyo", kok nan taruih mambuek malu "sumando langau ijau" namonyo, kok nan gilo maulik anak bini indak acuah ka kamanakan jo dunsanak padusi, biapun sasuai jo ajaran Islam, "sumando apak paja" namonyo, tapi kok lai elok, panyantun, pitih banyak pulo, "sumando ninik mamak" namonyo. Sagitulah dulu, salabiahnyo tanyolah ka inyiak. Wassalam
sekitar sejam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Mamak Helmidjas Hendra, tarimokasih banyak atas tanggapan2 nan mamak barikan walau mamak mangatoan talambek tp bagi ambo ndak talambek doh, karano ambopun baru mambaco baru, satantangan penjelasan mamak 2 nan terakhir agak sulik ambo tarimo mak, persoalannyo: kalo kito kontekstualisasikan persoalan iko dg jaman kini, dimano urang sumando ndak lai ma unyi rumah gadang bininyo dalam artian alah mambali tanah atau pai marantau dan lah mambuek rumah pulo di rantau urang tantu sitilah 'Abu di ateh tunggua' ko indak dapek dipakaikan, sia nan ka ma usiak inyo justru sabaliaknyo kalo mamak (sdr laki2 istri) ikuik sarato jo inyo bisa2 mamaklah nan bakaduduak an sabagai abu di ateh tunggua...
Kalolah analisa ambo ko dapek ditarimo tentu pertanyaan ambo kaduo jawabannyo TIDAK berlaku umum, hanyo balaku bagi urang sumando nan tingga di kekerabatan isterinyo dalam artian masih 'mangakeh' jo harato pusako bininyo, ba a kiro2 analisa ambo ko mak....
sekitar sejam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: Assalamu'alaikum Wr Wb @ USMAN JAMBAK > Indak babeda pandapeak awak tu do, balain latak tumah. Persepsi ambo tentang pengertian "balaku umum", mukasuik ambo untuk kaampeak kategori urang sumando tu (kacang miang dsb) Dek sanak berdasarkan kemandirian sacaro finansial, samo jo apo nan ambo sabuik di komen sabalunnyo, iko kutipannyo sbb :
Tapi urang sumando ko bisa sacaro sepihak malapeahkan dirinyo dari parasaan manjadi abu di ateah tunggu tu. Caronyo sederhana sajo asa inyo lai mampu. Inyo bao keluarga nyo (keluarga batih = nuclear family) ka tampeak nan "merdeka" (diseo, dikontrak atau dibalinyo) rumah untuk inyo anak baranak, inyo bausao di lua lembaga yang basangkuik pauik jo harta milik kaum istrinyo (rumah gadang, lahan pertanian dsb) Kalau itu inyo lakukan sulik manyabuik inyo abu di ateah tunggu, karano inyo manjadi imam dalam keluarganyo. Kok datang bana mamak jo dunsanak istrinyo mereka datang sebagai tamu. Itu manuruik ambo, itu makonyo urang sumando di rantau indak marasokan sindrom abu di ateah tunggua ko, karano itu pandangan sepihak ndari pihak kaum istrinyo.
sekitar sejam yang lalu · Tidak Suka · http://static.ak.fbcdn.net/rsrc.php/v1/yw/r/drP8vlvSl_8.gif1

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Oke mamak Helmidjas Hendra lah agak batamu rueh jo buku di ambo kini tu, sebagai pertanyaan lanjutan mak: Kapan munculnyo istilah iko, mak? adokoh mamak mampunyoi bahan bacaan nan mangulas secara anjang leba persoalan urang sumando di dalam masyarakat adat Minangkabau ko?
55 menit yang lalu · Suka
Bottom of Form

19 Desember 2011

SUDAH SAAT PEMUDA MINANG BERBENAH

SUDAH SAAT PEMUDA MINANG BERBENAH
(Dimuat di portal SumbarONLINE.com

Bersama kawan-kawan
Dalam pendahuluan paperMenyigi Masa Depan Pemuda Minangkabau” yang disampaikan oleh Zelfeni Wimra pada diskusi KAJI Institute (2/12) lalu, Zelfeni Wimra mensitir realitas pemuda Minangkabau hari ini. Menurut penelitian yang dilakukan tahun 2007, ditemukan sejumlah fakta mengejutkan terkait realitas pemuda Minangkabau, dimana setiap tahun ditemukan 154 orang anak gadih/padusi (anak gadis) Minangkabau diperkosa. Ini artinya setiap bulannya ada sekitar 12 orang anak gadih Minang yang diperkosa. Temuan ini, seakan beranjak menyaingi realitas kepemudaan yang ditemukan di negara almarhum Hitler, dimana setiap 15 menit terjadi pemerkosaan dan setiap tahunnya, setidaknya ada 35 ribu wanita yang diperkosa.

Temuan yang tak kalah mengejutkan, sebagaimana yang ditemukan di Amerika, setiap jam ada sekitar 78 orang yang wanita yang diperkosa, artinya sedikitnya ada 683 orang wanita yang diperkosa setiap tahunnya, sekitar 13 % atau 12,1 juta anak gadis Amerika sudah pernah diperkosa lebih dari satu kali. Enam dari sepuluh anak yang diperkosa belum mencapai umur 16 tahun.
Pertanyaan yang kemudian bersemayam di benak, apakah diskursus kepemudaan Minangkabau dalam lintas sejarahnya akan terdampar dan berusaha menyaingi realitas kepemudaan di negeri barat? Lalu, dimanakah tersimpannya kata-kata bertuah “Adat Basandi Syarak – Syarak Basandi Kitabullah” yang selama ini didengung-dengungkan? Bukankah kata-kata bertuah ini, mengindikasikan bahwa setiap tindak dan prilaku setiap anggota masyarakat di ranah tercinta ini, tidak semestinya berseberangan dengan syariat?

Ironisnya, ketika meneropong kontribusi pemuda Minangkabau di pentas nasional, ternyata pemuda Minangkabau hanya larut dengan nostalgia cerita lama. Sebut saja, setengah dari para tokoh-tokoh gerakan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah Pemuda-pemuda Minang, seperti: H. Agus Salim, M. Hatta, St, Syahrir, Tan Malaka, M. Nasir, Hamka, dan banyak yang lainya. Tetapi, jika pertanyaan ini ditujukan kepada pemuda hari ini, ada sedikit kegamangan dalam menjawab dan menemukan sesosok potret pemuda Minangkabau yang benar-benar layak dianggap sebagai sosok yang dapat mewakili pemuda Minangkabau untuk dijadikan jawaban atas pertanyaan yang muncul.

Sebetulnya pemuda Minang mempunyai banyak potensi yang berlebih, menurut data dari Deputi Menpora Bidang Pemberdayaan Pemuda banyaknya jumlah pemuda 37,8 % dari jumlah penduduk Indonesia. Namun dengan banyaknya jumlah pemuda tesebut masalah kepemudaan juga banyak di antaranya rendahnya kesempatan untuk memperoleh pekerjaan dan pendidikan, kemampuan kewirausahaan yang rendah, pengangguran, masalah sosial (narkoba, seks bebas), dan lain sebagainya.

Untuk menghilangkan permasalahan tersebut harus adanya perlindungan terhadap pemuda dengan cara adanya regenerasi dalam politik, sosial. Contohnya dalam partai politik dan oraganisasi mahasiswa atau masyarakat harus adanya kaderisasi, bukan dia-dia terus yang muncul. Serta memberikan kesempatan kepada pemuda untuk membuat keputusan tentang apapun.

Penulis buku “Pengantin Subuh” (Cerpen), yang akrab disapa “Wimo” ini pun menambahkan, sebetulnya khazanah budaya Minangkabau tidak pernah kering dari narasi-narasi kecil (little narative) yang diusahakan menyusup dalam permainan bahasa (language game) yang bersifat heterogen, plural, dan lokal dalam menghargai perbedaan dan toleransi pada keberbagaian pihak. Jika idiom “anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan” masih tetap menjadi dasar segenap agenda kepemudaan dalam berinteraksi, maka kecemasan terhadap realitas temuan 154 anak gadih Minangkabau diperkosa setiap tahunnya tidak perlu menjadi kecemasan yang berlebihan yang perlu dicarikan solusinya.

Jika ternyata jawabannya “tidak”, maka pemuda Minangkabau hari ini mau tidak mau mesti mengevaluasi tingkat keberdayaan mereka dalam mengawal perubahan kebudayaan. Mewacanakan sosok ideal pemuda Minangkabau masa depan adalah suatu yang mustahil tanpa memantau seperti apa daya perubahan yang telah dan akan mereka lakukan, ungkap Wimo lebih lanjut.

Potensi yang harus dikembangkan
Secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kahidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya, sangat wajar jika pemuda memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainya. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan banyak dimiliki kaum muda. Pemikiran kritis mereka sangat didambakan umat. Di mata umat dan masyarakat umumnya, mereka adalah agen perubahan (agent of change) jika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak mereka. Baik buruknya nasib umat kelak, bergantung pada kondisi pemuda dan mahasiswa sekarang ini.

Potensi hanya akan tinggal potensi. Ibarat pedang yang sangat tajam, ketajamannya tidak menjadi penentu bermanfaat atau tidaknya pedang tersebut. Orang yang menggenggam pedang itulah yang menentukannya.  Pedang yang tajam terkadang digunakan untuk menumpas kebaikan dan mengibarkan kemaksiatan, jika dipegang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, jika berada di tangan orang yang bertanggung jawab, ketajaman pedang itu akan membawa manfaat. Demikian juga dengan potensi pemuda. Potensi yang begitu hebat itu bisa dipergunakan untuk menjunjung tinggi kebaikan, bisa juga untuk memperkokoh kejahatan dan kedurjanaan. Itulah sebabnya, begitu banyak contoh pemuda yang berjasa menjadi pilar penentu kemajuan suatu peradaban, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi peradaban, dan menghancurkan kemuliaan suatu tatanan kehidupan.

Jadi, potensi yang dimiliki oleh pemuda, khususnya pemuda Minangkabau, haruslah diarahkan untuk menyokong dan mempropagandakan nilai-nilai kebaikan. Seorang pemuda khususnya pemuda Minagkabau yang nota-benenya 100 % beragama Islam tentunya akan berada di garis depan untuk membela, memperjuangkan, dan mendakwahkan nilai-nilai Islam. Seorang pemuda muslim tidak layak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan di tengah kemunduran umat yang sangat memprihatinkan ini. Seorang pemuda muslim jangan sampai menjadi penghalang kemajuan Islam dan perjuangan kaum muslimin.

USMAN JAMBAK
Penulis adalah penggiat KAJI Institute

Usman Jambak, merupakan nama pena dari Usman, seorang pemuda yang dilahirkan 28 tahun yang lalu di sebuah negeri di lereng Marapi sana. Sekarang sedang melanjutkan studi di Program Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang konsentrasi Hukum Islam. Tinggal di kota Padang. No. Rek (BSM). 1537012398. Hp. 0813 63 780 868. E-mail: oesmanjambak@yahoo.com

22 September 2011

Maaf...!!!

“Dun….!!! Hinduun….!!!, cepatlah kau ke sini” seru emak lantang dari ruang tengah yang sedang melihat siaran stasiun TV .

“Ada apa mak” ujar Hindun yang masih terengah-engah karena separoh berlari dari kamarnya.

“Kau, simak dan kau tontonlah acara ini, agar hatimu tak terlalu beku tuk minta maaf ke si Maih, lakimu itu”
Dengan menggelosoh di dekat Emak, Hindun bergumam antara terdengar dan tidak oleh emak di sampingnya “Eee..lah, itu lagi,itu lagi…”

“Apa yang kau cakap, apa kau kira aku sudah sedemikian tuli untuk tidak mendengar gerutuanmu”
Dengan muka memelas, Hindun minta maaf sama emak.

“Kau dengarlah baik-baik dialog yang dibawakan oleh pembawa acara dan narasumber itu dulu”, ujar emak yang sudah semakin kesal dengan ulah dan tingkah Hindun, anaknya yang bandel tidak mau di omongin itu.

Sementara lewat pegeras suara televise tetap mengalir diskusi pentingnya minta maaf karena akan memasuki bulan suci Ramadhan 1432 H.

Seakan-akan tayangan yang disajikan televise tersebut tidak berbobot, Hindun rebahkan badanny dan perlahan matanya mulai terpejam. Belum pulas tidurnya, sebuah suara lantang membangunkannya “Hindun, kau ini mau jadi anak durhaka ya?, disuruh menyimak jalannya diskusi yang ditayangkan televisi itu, kau malah tidur?. Apa kau tak mau berbersih-bersih masuk bulan suci ini, apa kau mau ibadah puasamu tidak diterima oleh Allah?” serang emak dengan berjubel pertanyaan.

Seolah tak mau dicap anak durhaka, Hindun melakukan pembelaan diri “Bukan begitu, mak. Minta maagf itu memang sesuatu yang disuruh dan diperintahkan oleh agama tapi semua itu lillahi ta’ala bukan karena selainnya seperti karena Ramadhan, kan banyak mak dengar orang yang minta maaf dengan alasan Ramadhan seperti mereka berucap karena kita akan memasuki bulan suci, mohon maaf lahir batin ya” jelas Hindun, sampai di sini dia sudah takut-takut. Takut dikatakan emak, mengajari emak yang sudah tua, yang sudah banyak makan asam garam katanya.

Karena emak masih diam membisu, Hindun melanjutkan penjelasannya “Tanpa mereka sadari, ucapan mereka yang menisbahkan maaf kepada selain Allah tersebut sudah dikotori dengan ketidak ikhlasan, sebab tidak ada ikhlas jika disandarkan kepada selain Allah”.

“Lalu sebaiknya bagaimana” ujar mak yang kelihatan sudah semakin paham dengan keengganan anaknya.
“Jadi, minta maaf itu disuruh oleh Allah dan merupakan perintah agama bukan saja ketika akan memasuki bulan suci tapi setiap saat” paparnya dengan mantap.

“Coba mak bayangkan, jika seandainya maaf dikaitkan dengan sesuatu seperti halnya Ramadhan, jika Ramadhan tidak ada tentu kita tidak akan saling bermaaf-maafan, bagaimana kita mengaplikasikan fa’fu wasfahu

“Jika minta maaf ketika akan memasuki Ramadhan ini tidak perlu kita kaitkan dengan moment Ramadhan, begitu?” timpal mak.

“Iya mak, sebaiknya kita tidak kaitkan dengan Ramadhan karena akan mengotori keikhlasan kita saja, dan aku akan minta maaf ke Uda Maih, mantu mak itu tapi bukan karna kita akan masuk bulan puasa”.

Usman Jambak
Padang, Penghujung Sya’ban 1432 H

10 Mei 2011

SEPERANGKAT ALAT SHOLAT

SEPERANGKAT ALAT SHOLAT
Saya terima nikahnya FULANAH binti FULANIN dengan maharnya seperangkat alat sholat dibayar tunai” (Qabul Nikah)

Pernikahan merupakan momentum yang sangat ditunggu-tunggu dan dinantikan oleh sepasang hati yang telah menautkan ujung-ujung jemari janji-janji untuk mengikat cinta-kasih dalam balutan ridho ar-Rahman dan ar-Rahim, Allah ‘Azza wa Jalla. Siapa yang tidak ingin menjalani pernikahan?. Tentunya sebagai seorang pria/wanita normal dan patuh pada sunnah Nabi Muhammad SAW, tidak seorangpun yang tidak menginginkan melangkah ke jenjang pernikahan. Menikah merupakan mendulang kebahagiaan yang tak ternilai harganya-demikian anekdot yang berkembang di tengah masyarakat.

Wahai para pemuda (pemudi), bagi siapa yang telah sanggup untuk berumah tangga, maka menikahlah, karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Bagi yang belum sanggup maka berpuasalah, karena sesungguhnya puasa tersebut menjadi benteng baginya” (HR. Bukhari-Muslim). Inilah sabda Rasul yang dijadikan sebagai dasar pijakan dalam melaksanakan pernikahan. Sebelum melangsungkan pernikahan ada satu dari beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh calon mempelai pria yaitu mahar atau maskawin.

Mahar atau maskawin merupakan pemberian wajib seorang laki-laki kepada seorang wanita sebagai wujud kesungguhan dirinya untuk menikahi wanita tersebut.  Dasar pijakan bagi pewajiban mahar ini adalah firman Allah SWT dalam Qs. An-Nisa’: 04 “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”. Dalam ayat ini Allah memerintahkan memberikan mahar kepada wanita yang akan dinikahi, hal ini menjadi “karenah” bahwa mahar merupakan syarat sah pernikahan. Pernikahan yang tanpa mahar merupakan pernikahan yang tidak sah, meskipun pihak wanita telah redha untuk tidak mendapatkan mahar.

Mahar merupakan hak penuh mempelai wanita. Tidak boleh hak tersebut diambil oleh orang tua, keluaraga atau bahkan suami sekalipun, kecuali bila mempelai wanita tersebut telah meredhakannya. Mempelai wanita bebas menentukan berapa besar mahar yang harus dipenuhi oleh mempelai pria. Mahar itu ada beberapa macam yang semuanya diperbolehkan dalam Islam, yaitu: pertama: mahar yang disebutkan (ditentukan) ketika akad nikah dan kedua: mahar yang tidak disebutkan ketika akad nikah. Jika mahar disebutkan dalam akad nikah, maka wajib bagi mempelai pria atau suami untuk membayar mahar yang telah disebutkan dalam aqad nikah. Apabila mahar tidak disebutkan dalam akad nikah namun tidak ada kesepakatan untuk menggugurkan mahar, maka wajib bagi suami untuk memberikan mahar semisal mahar kerabat wanita istrinya, seperti ibu atau saudara-saudara perempuannya atau disebut juga dengan mahar mitsl.

Bahkan, untuk mempermudah jalannya pernikahan, Islam membolehkan bagi mempelai pria atau suami antara membayar tunai atau menghutang mahar, dengan persetujuan mempelai wanita, baik keseluruhan maupun sebagian dari mahar tersebut. Jika mahar tersebut adalah mahar yang dihutang baik yang disebutkan jenis dan jumlahnya sebelumnya maupun yang tidak, maka harus ada kejelasan waktu penangguhan atau pencicilannya. Tidak diperbolehkan seorang suami ingkar terhadap mahar istrinya, karena hal tersebut merupakan khianat.

Mahar dan Nilai Nominal
Mahar pada hakikatnya dinilai dengan uang, karena mahar merupakan harta bukan symbol belaka. Oleh karena itulah seorang yang merdeka dibolehkan menikahi budak belian jika tidak mampu memberikan mahar kepada calon mempelai wanita. Kata-kata “tidak mampu” menjadi indikator bahwa pada masa dahulu mahar merupakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya, bukan sekedar simbol seperti mushaf al-Qur’an ataupun seperangkat alat sholat yang secara nominal tidak mempunyai nilai yang berarti, sebab bisa didapat dengan beberapa puluh ribu saja.

Hal ini yang kurang diperhatikan oleh umat Islam hari ini, baik calon mempelai wanita sebagai orang yang akan menerima nafkah awal berupa mahar, maupun calon mempelai pria yang akan menunaikan kewajibannya membayar mahar yang diminta oleh isterinya. Mahar merupakan nafkah awal, pintu nafkah sebelum suami membayarkan nafkah rutin berikutnya. Jadi sangat wajar dan pantas jika seorang isteri meminta mahar yang bernilai nominal kepada calon. Misalnya uang tunai, emas, took. Kendaraan, sertifikat tanah, sertifikat rumah, kendaraan, kontrakan, perusahaan atau benda berharga lainnya. Sangat tidak wajar bila calon suami yang punya penghasilan menengah, tetapi hanya memberi mahar semurah itu “seperangkat alat sholat” kepada calon istrinya.

Rentang sejarah memang menukilkan kepada kita bahwa Nabi SAW pernah menikahkan seorang sahabat dengan mahar mengajarkan al-Qur’an, tetapi hal ini hendaknya tidak ditafsirkan secara harfiah belaka. Kisah tersebut terangkum dalam hadits berikut: Dari Sahal bin Sa’ad bahwa Nabi SAW didatangi seorang wanita yang berkata “Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu” Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata “Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika engkau tidak ingin menikahinya”. Rasulullah berkata “Adakah kamu mempunyai sesuatu untuk dijadikan mahar?” dia berkata, “Tidak, kecuali hanya sehelai sarungku ini” Nabi menjawab, “bila engkau jadikan sarungmu sebagai mahar maka engkau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu yang lain”. Dia berkata, “aku tidak mendapatkan sesuatupun”. Rasulullah berkata, “Carilah walau cincin dari besi”. Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi, “Apakah kamu menghafal Qur’an?” Dia menjawab, “Ya, saya menghafal surat ini dan itu sambil menyebutkan surat yang dihafalnya”. Berkatalah Nabi, “Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan Qur’anmu”.

Abu Hurairah menyebutkan bahwa jumlah ayat yang harus diajarkan oleh sahabat itu kepada isterinya adalah 20 (dua puluh) ayat. Kejadian ini mengindikasikan bahwa: pertama, hafalan al-Qur’an hanya boleh dijadikan sebagai mahar bagi seorang pria yang ingin menikah tapi tidak sanggup dalam membayarkan mahar dalam bentuk nominal yang berharga. Kedua, kejadian yang terjadi di masa Rasulullah SAW tersebut, harus dipahami sebagai jasa mengajarkan al-Quran. Mengajarkan al-Quran itu memang jasa yang lumayan mahal secara nominal. Apalagi kita tahu bahwa istilah “mengajarkan al-Quran” di masa lalu tidak sebatas istri bisa hafal bacaannya saja, melainkan juga sekaligus dengan makna, tafsir, pemahaman fiqih dan ilmu-ilmu yang terkait dengan masing-masing ayat yang diajarkan tersebut.

Para ulama fiqh, memberikan batas yang berbeda dalam persoalan nominal marhar ini. Ulama Hanafiyah memberikan batasan 10 dirham, sedangkan ulama Malikiyah memberikan batasan 3 dirham. Dilain pihak, jumhur ulama tidak memberikan batasan terhadap nominal dari sebuah mahar dalam perkawinan. Kenyataan bahwa tingkat ekonomi umat manusia sangat dipahami dan dimengerti oleh Islam, ada yang mempunyai kelebihan rezeki dan ada yang kekurangan. Karena itulah syari’at memberikan kelonggaran bagi seorang pria yang tidak mempunyai kesanggupan dalam memberikan mahar dengan nominal tinggi yang diminta oleh seorang isteri untuk mencicil atau mengutangnya.
Diperbolehkan bagi laki-laki antara membayar tunai dan atau menghutang mahar dengan persetujuan si wanita, baik keseluruhan maupun sebagian dari mahar tersebut. Jika mahar tersebut adalah mahar yang dihutang baik yang telah disebutkan jenis dan jumlahnya sebelumnya maupun yang tidak, maka harus ada kejelasan waktu penangguhan atau pencicilannya. Tidak diperbolehkan seorang suami ingkar terhadap mahar istrinya, karena hal tersebut merupakan khianat. Rasulullah bersabda, “Syarat yang paling berhak kamu penuhi adalah persyaratan yang dengannya kalian menghalalkan farji.” (HR. Bukhari)

Solusi lainnya adalah dia boleh memilih istri yang sekiranya sudah mengerti keadaan ekonominya. Kalau membayar maharnya saja tidak mampu, apalagi bayar nafkah. Logika seperti itu harus sudah dipahami dengan baik oleh siapapun wanita yang akan menjadi istrinya. Maka Islam membolehkan dia memberi mahar dalam bentuk apapun, dengan nilai serendah mungkin. Misalnya cincin dari besi, sebutir korma, jasa mengajarkan atau yang sejenisnya. Yang penting kedua belah pihak ridho dan rela atas mahar itu.

Dalam tulisan ini penulis tidak ingin menggiring, para wanita untuk menjadi mata duitan, sehingga mengukur segala sesuatunya dengan nominal. Namun harus dipahami bahwa, perlu pengkajian terhadap kebiasaan-kebiasaan yang telah dibiasakan serta perlunya merasionalisasikannya. Seperti konsep mahar dengan seperangkat alat sholat tersebut. Bukan berarti penulis menggugat atau menelanjangi para pengikut seperangkat alat sholat ini. Alangkah lucu dan ironisnya jika seseorang yang mempunyai kemampuan dan hidup dalam gelimang harta hanya memberikan mahar seperangkat alat sholat kepada isterinya, atas dasar ketidaktahuan isteri atas haknya atau suami yang tidak memahami tanggung-jawabnya.

Dalam bahasa atau analogi yang lebih ekstrem, penulis berpikir “masa untuk penghalalan potong tangan dalam kasus pencurian saja harus dinilai dengan seperempat dinar, sedangkan untuk penghalalan farj hanya dinilai dengan seperangkat alat sholat”. Permintaan mahar dalam bentuk harta yang punya nilai nominal ini pada gilirannya harus dipandang wajar, sebab kebanyakan wanita sekarang seolah tidak terlalu mempedulikan lagi nilai nominal mahar yang akan diterimanya, sedangkan laki-laki juga tidak memahami tuntan syari’at atasnya. Wa ‘alallahi turja’ul umur

USMAN
Mahasiswa pascasarjana IAIN Padang/ Penggiat IKAMTI-Pasir

Ihkwan Fillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More