Blogroll

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net
free counters

Pages

English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

19 Maret 2013

Maaf...!!!

“Dun….!!! Hinduun….!!!, cepatlah kau ke sini” seru emak lantang dari ruang tengah yang sedang melihat siaran stasiun TV .

“Ada apa mak” ujar Hindun yang masih terengah-engah karena separoh berlari dari kamarnya.

“Kau, simak dan kau tontonlah acara ini, agar hatimu tak terlalu beku tuk minta maaf ke si Maih, lakimu itu”
Dengan menggelosoh di dekat Emak, Hindun bergumam antara terdengar dan tidak oleh emak di sampingnya “Eee..lah, itu lagi,itu lagi…”

“Apa yang kau cakap, apa kau kira aku sudah sedemikian tuli untuk tidak mendengar gerutuanmu”
Dengan muka memelas, Hindun minta maaf sama emak.

“Kau dengarlah baik-baik dialog yang dibawakan oleh pembawa acara dan narasumber itu dulu”, ujar emak yang sudah semakin kesal dengan ulah dan tingkah Hindun, anaknya yang bandel tidak mau di omongin itu.

Sementara lewat pegeras suara televise tetap mengalir diskusi pentingnya minta maaf karena akan memasuki bulan suci Ramadhan 1432 H.

Seakan-akan tayangan yang disajikan televise tersebut tidak berbobot, Hindun rebahkan badanny dan perlahan matanya mulai terpejam. Belum pulas tidurnya, sebuah suara lantang membangunkannya “Hindun, kau ini mau jadi anak durhaka ya?, disuruh menyimak jalannya diskusi yang ditayangkan televisi itu, kau malah tidur?. Apa kau tak mau berbersih-bersih masuk bulan suci ini, apa kau mau ibadah puasamu tidak diterima oleh Allah?” serang emak dengan berjubel pertanyaan.

Seolah tak mau dicap anak durhaka, Hindun melakukan pembelaan diri “Bukan begitu, mak. Minta maagf itu memang sesuatu yang disuruh dan diperintahkan oleh agama tapi semua itu lillahi ta’ala bukan karena selainnya seperti karena Ramadhan, kan banyak mak dengar orang yang minta maaf dengan alasan Ramadhan seperti mereka berucap karena kita akan memasuki bulan suci, mohon maaf lahir batin ya” jelas Hindun, sampai di sini dia sudah takut-takut. Takut dikatakan emak, mengajari emak yang sudah tua, yang sudah banyak makan asam garam katanya.
Karena emak masih diam membisu, Hindun melanjutkan penjelasannya “Tanpa mereka sadari, ucapan mereka yang menisbahkan maaf kepada selain Allah tersebut sudah dikotori dengan ketidak ikhlasan, sebab tidak ada ikhlas jika disandarkan kepada selain Allah”.

“Lalu sebaiknya bagaimana” ujar mak yang kelihatan sudah semakin paham dengan keengganan anaknya.
“Jadi, minta maaf itu disuruh oleh Allah dan merupakan perintah agama bukan saja ketika akan memasuki bulan suci tapi setiap saat” paparnya dengan mantap.

“Coba mak bayangkan, jika seandainya maaf dikaitkan dengan sesuatu seperti halnya Ramadhan, jika Ramadhan tidak ada tentu kita tidak akan saling bermaaf-maafan, bagaimana kita mengaplikasikan fa’fu wasfahu”

“Jika minta maaf ketika akan memasuki Ramadhan ini tidak perlu kita kaitkan dengan moment Ramadhan, begitu?” timpal mak.

“Iya mak, sebaiknya kita tidak kaitkan dengan Ramadhan karena akan mengotori keikhlasan kita saja, dan aku akan minta maaf ke Uda Maih, mantu mak itu tapi bukan karna kita akan masuk bulan puasa”.

Usman Jambak
Padang, Penghujung Sya’ban 1432 H

15 Agustus 2012

Mudik Lebaran: Sebuah Tradisi Unik


Harian Umum Interpos, 14/08/2012

Oleh: Usman Jambak*

Menjelang lebaran datang, tepatnya hitungan beberapa hari menjelang lebaran, kata-kata ‘mudik’ menjadi sangat populer. Bagi masyarakat yang berada diperantauan akan menggunakan momen dan kesempatan ini untuk pulang kampung menjenguk orang tua, kerabat, handai-tolan atau sekedar melihat ‘ranah tapian’ yang sydah lama ditinggalkan. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan “mudik adalah berlayar ke hulu, pulang kampung/ menuju desa”. Dengan demikian mudik merupakan suatu upaya untuk kembali berlayar ke hulu atau pulang kampung setelah beberapa lama berada di hilir atau di daerah perantauan. Dari pengertian ini, muncul pertanyaan yang cukup menggelitik untuk kita cermati, mudik kok hanya dikenal ketika mau lebaran saja?. Sejak kapan ‘mudik’ menjadi sebuah tradisi musiman?.

Sebagaimana kita pahami dan kita maklumi bahwa bangunan struktur masyarakat Indonesia sebagian besar terdiri dari penganut agama Islam. Bagi penganut agama Islam Idul Fitri merupakan salah satu hari besar keagamaan, hari merayakan kemenagan umat Islam. Dalam tradisinya, merayakan hari raya Idul Futri ini sangat baik apabila dirayakan bersama keluarga besar di kampung halaman untuk saling bermaaf-maafan di antara mereka. Oleh karena itu masyarakat urban/perantauan banyak yang memiliki persepsi, tiada hari yang lebih baik dan lebih indah untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga kecuali pada saat lebaran. Mudik lebaran tidak semata-mata milik warga perantauan yang berkantong tebal akan tetapi juga oleh kaum pinggiran yang mengais rezeki di kota. Hal ini dapat kita saksikan betapa banyaknya pemudik yang menggunakan kendaraan becak mesin, sepeda motor untuk menempuh perjalanan jauh menuju kampung halaman setiap menjelang lebaran terutama oleh pemudik di Sumatera dan bahkan ada yang hanya merantau ‘subaliak dapua’ (belakang dapur-red) mengejar tradisi mudik lebaran ini dengan sangat antusiasnya.

Besarnya minat pemudik untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman sedikit banyaknya juga dipengaruhi oleh pesan moral yang ditanamkan para orang tua kepada anak-anaknya yang hendak pergi merantau, baik untuk tujuan pendidikan maupun untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Para orang tua yang hendak ditinggal pergi sang anak, biasanya tidak lupa menanamkan pesan moral yaitu, apabila berhasil kelak dalam mengarungi kerasnya kehidupan kota supaya tidak lupa dengan kampung halaman tempat orang tua membesarkannya. Sejauh kaki melangkah, janganlah sekali-kali lupa dengan kampung halaman. Fenomena ini digambarkan dengan legenda yang sangat terkenal seperti Malin Kundang di Sumatera Barat, apabila lupa dengan kampung halaman berarti juga akan lupa dengan kedua orang tua yang senantiasa menanti kedatangan anak kesayangannya.

Falsafah hidup yang diwariskan secara turun-temurun ini, ikatan bathin antara warga perantau dengan masyarakat di kampung halaman tidak akan mudah terputus walau sudah lama meninggalkan daerah asal, panggilan jiwa ke kampung halaman bersama sanak keluarga senantiasa mengiang untuk melihat kembali tempat bermain di kala usia belia, berjumpa dengan sahabat lama, melepas rindu dengan sanak keluarga dan yang terpenting adalah memohon maaf dan sembah sujud di hadapan kedua ibu/bapak. 

Suasana yang paling tepat untuk itu adalah di saat Idul Fitri tiba karena rekan-rekan perantau yang lain biasanya juga banyak yang pulang kampung sehingga menjadi moment yang tepat untuk berjumpa dan mengenang kembali saat-saat kecil sambil bercengkrama nan serba lucu dan indah untuk dikenang. 

Resiko Mudik
Setiap menjelang Idul Fitri, perjuangan pemudik menuju kampung halaman tidaklah semudah membalikkan telapak tangan dan berjalan sesuai dengan rencana yang sudah diatur. Berjuang dengan mempertaruhkan nyawa merupakan prediket yang tidak berlebihan yang disandangkan kepada para pemudik sejati. Betapa tidak, untuk memperjuangkan agenda mudik, para pemudik tersebut rela-relaan sewa becak atau malah memberanikan diri mengendarai kendaraan roda dua dalam perjalanan yang lumayan jauh. Terminal bus, stasion kereta api, bandara dan pelabuhan sebagai alur mudik penuh sesak bak lautan manusia tidak menyurutkan hasrat mereka menuju kampung halaman. Belum lagi jalanan yang penuh sesak dengan kendaraan yang dikemudikan tanpa aturan. 

Selain dari risiko keselamatan, apabila dilihat dari segi biaya yang dikeluarkan pemudik juga memerlukan rupiah yang tidak sedikit, penghasilan satu tahun habis untuk merayakan satu kali Idul Fitri. Demikian mitos yang dianut masyarakat pemudik di beberapa daerah kita ini. 

Memaknai Lebaran
Ekspresi dan tampilan  Idul Fitri sebagai “Iduna Ahlil Islam” kata Nabi “Hari Raya kami penganut Islam”. Sebagai “yaumu aklin  wa syurbin wa bahjatin” yakni hari makan-minum dan bersuka cita. Sehingga diharamkan  berpuasa pada hari ini dan diwajibkan kepada seluruh ahlul Islam memastikan tidak  ada seorang anak muslim pun yang tidak ikut berlebaran. Demi kebesaran hari ini maka harus terbebas dari pengemis. Untuk itu secara khusus zakatul fitri diwajibkan.

Dengan menjalankan puasa Ramadhan secara benar ada jaminan dibersihkan dari dosa vertikal dan dengan silaturahim saling memaafkan/membebaskan maka sesama muslim akan terbebas dari dosa horizontal. Dengan begitu Idul Fitri juga bermakna kembali kepada kesucian terbebas dari dosa perdosa. Kembali seperti bersihnya seorang bayi yang dlahirkan dalam fithrah, tidak membawa beban dosa apapun. Dalam kondisi fithri maka setiap insan siap untuk menerima agama Allah yang fithri, yaitu agama Islam dan agama tauhid.

Mudik dan merayakan Idul Fitri di kampung halaman dapat dijadikan momentum awal kebangkitan untuk meraih prestasi dan karier yang lebih baik di masa yang akan datang. Sesungguhnya tiada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan, justru itu moment yang tepat untuk menganalisa diri, introspeksi diri sebagai cermin untuk melihat jati diri yang sesungguhnya adalah pada hari yang fitri ini, kemudian memulai hidup yang lebih jernih, suci dengan meninggalkan kesalahan, kesombongan dan dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya.
Harapan kita, semoga pemudik yang akan berangkat menuju kampung halaman pada lebaran tahun 1433 H senantiasa berjalan dengan semestinya, Amiiin...***

*Peneliti KAJI Institute Kota Padang

IAIN Imam Bonjol Padang: Tonggak Sejarah Kebangkitan PTI Sumatera Barat

Harian Umum Interpos, 14/08/2012

Oleh: Usman Jambak

Membicarakan sejarah IAIN Imam Bonjol Padang berarti membicarakan “kebangkitan kembali” Perguruan Tinggi Islam (PTI) di Sumatera Barat, setelah Universitas Darul Hikmah mengundurkan diri dari kegiatan akademisnya pada tahun 1958.

Pada prinsipnya proses berdirinya Perguruan Tinggi Islam yang diberi nama dengan Institut Agama Islam (IAIN) Imam Bonjol ini diawali dengan berdirinya Fakultas Tarbiyah IAIN sebagai fakultas jauh dari IAIN  Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1963.

Menoleh ke belakang, situasi sebelum tahun 1960, di Sumatera Barat (ketika itu) dunia pendidikan tinggi Islam merupakan periode yang gawat. Puncaknya ditandai dengan mengundurkan dirinya Universitas Islam Darul Hikmah dari kegiatan akademisnya tahun 1958. Universitas yang berdiri sejak tahun 1953 ini, dalam perkembangannya cukup cemerlang. Namun, karena desakan kondisi yang tidak kondusif mengakibatkan perguruan tinggi Islam ini mengundurkan diri.

Meskipun universitas yang pernah jaya ini lenyap, semangat dan keinginan masyarakat Sumatera Barat tak pernah pudar untuk kembali memiliki dan membangun Perguruan Tinggi Islam di daerah Ranah Minang yang sangat terkenal dengan “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” dan merupakan gudang ulama ini. Tak dapat dipungkiri kontribusi ISI (Ikatan Sarjana Indonesia) Padang (1958) sangat nyata dalam mewujudkan keinginan masyarakat Sumatera Barat untuk membangun Perguruan Tinggi Islam di daerah beradat ini. Dengan semangat yang menyala-nyala, ISI Padang beserta simpatisan membangun semangat dan rencana di atas puing-puing kerubuhan Perguruan Tinggi Islam terdahulu seperti Perguruan Tinggi Islam Pariaman (1513-1697). Perguruan Tinggi Islam Kamang-Bukittinggi (1803-1822), Sekolah Islam Tinggi di Padang (1940-1942) dan yang terakhir Universitas Darul Hikmah (1953-1958).

Akhirnya setelah melalui perjuangan yang panjang, tanggal 1 Oktober 1963 dapat diwujudkan sebuah fakultas ilmu agama Islam, meskipun hanya berstatus sebagai fakultas jauh dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Fakultas Tarbiyah tersebut dikonversi menjadi IAIN Imam Bonjol Padang pada 29 Nopember 1966, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama R.I No. 77/1966 tertanggal 21 Nopember 1966. Dengan surat Keputusan Menteri Agama itu IAIN Imam Bonjol memiliki empat fakultas, yaitu Fakultas Tarbiyah di Padang Fakultas Ushuluddin di Padang Panjang, Fakultas Syari’ah di Bukittinggi dan Fakultas Adab di Payakumbuh. 

Dalam beberapa tahun kemudian terjadi penambahan Fakultas cabang di IAIN Imam Bonjol, yakni Fakultas Tarbiyah tahun 1968 dan Fakultas Ushuluddin tahun 1970 di Padang Sidempuan Sumatera Utara, Fakultas Dakwah tahun 1968 di Solok dan Fakultas Tarbiyah tahun 1971 di Batusangkar. Pada tahun 1973 kedua fakultas cabang di Padang Sidempuan bergabung dengan IAIN Sumatera Utara, dan sementara Fakultas cabang di Batusangkar dan Bukittinggi.

Sejak tahun 1976 lima fakultas (Adab, Dakwah, Syari’ah, Tarbiyah, Ushuluddin) sudah dipusatkan di Padang, sebagai ibukota propinsi Sumatera Barat. Tapi keberadaan Fakultas Syari’ah di Bukittinggi dan Fakultas Tarbiyah di Batusangkar masih dipertahankan sebagai dua fakultas cabang. Sejak tahun 1997 pemerintah melepaskan semua fakultas-fakultas cabang dari IAIN dan meresmikan berdirinya 33 STAIN di Indonesia.

Semenjak menjadi perguruan yang mandiri, IAIN Imam Bonjol Padang sudah mengalami 15 kali periode kepemimpinan, yaitu: Prof. Mahmud Yunus (1966 – 1971) H. Mansur Datuk Nagari Basa (Februari – Juli 1971), H. Baharuddin Syarif (Agustus – November 1971), H.Hasnawi Karim (1971 – 1972), Drs.Soufyan Ras Burhany (1973 – 1975), Drs.H.Fauzan, MA (1975 – 1976), Drs.M.Sanusi Latief (1976 – 1982), H.Hasnawi Karim (1982 – 1983), Prof.Dr.H.Amir Syarifuddin (1983 – 1992), Dr.H.Mansur Malik (1992 – 1997), Prof.Dr.H.Abdul Aziz Dahlan (1997 – 2001),  Prof.Dr.H.Maidir Harun (2001 – 2006), Prof.Dr.H.M.Atho Mudzhar,MA (2006 – Februari 2007), Prof.Dr.H.Sirajuddin Zar, MA (2007 – 2011), dan Prof.Dr.H.Makmur Syarif,SH,M.Ag (2011 – 2015).

IAIN Imam Bonjol Padang sebagai satu dari 14 IAIN di Indonesia sedang berupaya menjadi lembaga pendidikan yang unggul dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi, terutama dalam bidang ilmu-ilmu keislaman. Saat ini IAIN Imam Bojol Padang memiliki dua kampus, yaitu kampus satu yang berada di Jl. Sudirman dan kampus dua berada di Lubuk Lintah Kota Padang. Sedangkan pengembangan kampus tiga sedang diusahakan yang terletak di Sungai Bangek Lubuk Minturun Kota Padang.

Pasca gempa yang meluluh-lantakkan Kota Padang, 2009 lalu, kondisi bangunan kampus dua yang terletak di Lubuk Lintah mengalami kerusakan yang cukup berat dan sekarang sedang diusahakan perbaikan dan pembenahan akibat hantaman gempa tersebut.

Tak dapat disangkal kampus yang notabenenya pencetak ulama pewaris nabi ini sangat besar kontribusinya bagi masyarakat Sumatera Barat dan sekitarnya. Kita berharap ada keseriusan bagi pengelola dan pemerintah dalam memperhatukan setiap kebutuhan kampus yang telah berdiri 46 tahun ini.(*)



Misteri Bukik Gunuang Nago



Harian Umum Interpos, 10/08/2012

Oleh: Usman Jambak

ALAM memang memiliki misteri tak bertara yang selalu menggelitik manusia untuk menyelidikinya. Sejak mereka mengetahui tentang keadaan alam sekitarnya, manusia terus berusaha melakukan pencarian-pencarian tentang makna dan hakekat alam yang mereka diami. Gunuang (gunung-red) Nago merupakan salah satu tempat yang menyimpan seabrek misteri.

Tampat Gunung Nago merupakan sebuah bukit yang berada di Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang. Sebelum bernama Tampat Gunung Nago, tempat ini bernama Sianik. Sianik merupakan sejenis rumput atau tumbuh-tumbuhan yang ada di bukit tersebut. Di sana terdapat sebuah kuburan manusia yang bernama si Baco bergelar atau bagala Maradu Balang yaitu tahun 1866 M. Ia merupakan tokoh masyarakat yang sangat terkenal pada saat itu. Ia dikenal orang sebagai urang bagak (jagoan), orang siak (orang yang tahu dan paham dengan agama). Sebenarnya si Baco lahir dan berasal dari Nagari Solok Salayo, tetapi hidup dan berdomisili serta mencari nafkah di Padang, tepatnya di Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh. Ketika ia meninggal, ia tidak dibawa ke Nagari Solok Salayo tetapi dikuburkan diperistirahatan terakhirnya di Bukit Gunung Nago.

Di puncak Bukit Gunung Nago terdapat beberapa kuburan. Kuburan-kuburan ini pada awalnya dilindungi dengan bangunan berkubah. Terdapat lima kuburan di bawah bangunan berkubah tersebut, salah satunya kuburan seorang yang bernama si Nago. Si Nago, merupakan tokoh masyarakat dari pasukuan Chaniago. Ia meninggal masih di zaman bergolak (di zaman perang sebelum Komunis). Si Nago juga merupakan seorang ulama terkemuka di masanya dan merupakan salah seorang ulama yang taat dan kuat memegang tarekat. Demikian keterangan yang diberikan oleh Yulidar (45), bundo kanduang Lambung Bukit. Namun, dalam penyusuran kami ke lokasi, tidak ditemukan bangunan lagi yang menanungi kuburan-kuburan tersebut.

Si Nago sebenarnya juga berasal dari Nagari Solok Salayo sama seerti si Baco. Ia hijrah ke Padang dan tinggal serta berdomisili di Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang hingga akhir hayatnya. Setelah ia “berpulang”, ia dimakamkan di bukit Gunung Nago. Selain kuburan yang dibangunkan kubah tersebut, terdapat juga beberapa kuburan lain yang usianya relatif muda.

Pada waktu-waktu tertentu, berlangsung seremoni-seremoni ritual di tempat itu. Yang dijadikan sebagai pusat ritual mengantarkan sesajian adalah kuburan si Nago – ulama besar pada zamannya- di bawah nauang kubah itulah kebanyakan orang-orang pergi mengantarkan sesajian atau melakukan ritual-ritual khusus. Anggapan mereka, roh-roh orang yang berkubur di sana masih ada dan diyakini dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Para pelaku ritual datang ke sana dengan membawa niat yang berbeda-beda. Ada yang berniat semoga panen padinya lancar, ada juga yang berniat supaya dapat diberikan keturunan. Ada yang minta supaya sembuh dari sakit yang sedang diderita, ada yang punya hajat agar di dalam perkawinan tidak ada pertengkaran dan lancar  di dalam rumah tangga.

Sudah menjadi tuntutan moral bagi para pelaku ritual untuk datang memuja ke sana. Jika mereka enggan datang melakukan ritual ke sana, mereka tidak pergi mereka merasa berhutang kepada dirinya sendiri. Demikian ditambahkan oleh Janewar Maradu Balang Pandeka Pauh V Kota Padang.

Itulah asal muasal kenapa tampat yang dijadikan sebagai pusat ritual bagi masyarakat Alai Kapalo Koto Kec. Pauh Kota Padang diberi nama dengan Bukit Gunung Nago.(*)

Asal Mula Istilah Taplau


Harian Umum Interpos, 13/08/2012

Oleh: Usman Jambak

Sebagai ibukota Provinsi Sumbar, Kota Padang dikenal memiliki cukup banyak potensi wisata pantai. Sehingga tidak heran, setiap pengunjung yang datang ke Kota Padang pasti tidak akan lupa untuk singgah sesaat di pantai Padang atau lebih popular disebut “tapi lauik (taplau)”. Ada beberapa pantai yang menarik untuk dikunjungi di kota yang baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke-343 tahun ini. Di antara banyak pantai yang ada di Kota Padang, Pantai Padang adalah satu yang paling ramai di kunjungi. Hal ini karena memang akses Pantai Padang yang paling dekat dan paling mudah di gapai.

Berada di pinggiran pusat kota ke arah barat, Pantai Padang yang populer dimulut anak-anak muda Kota Padang dengan sebutan “TAPLAU” ini menyajikan pemandangan yang elok dengan debur ombak Puruih yang kadang menghantam kuat dan kadang bergelombang gemulai. Pantai Padang juga  menyuguhkan pemandangan sunset yang dramatis, terdapat pula berbagai jajanan yang menggugah selera. Jadi tempat hang out yang cukup asyik bagi anak muda Kota Padang. Bagi para surfer pemula ada beberapa spot yang cukup menantang di Pantai ini terutama di bagian Pantai Purus dan Pantai Air Tawar.

Pada tahun 2009, lalu. Kota Padang punya visi pembangunan pesisir, antara lain reklamasi pantai padang dengan Padang Bay City (PBC). Namun, sejak gagasan tentang reklamasi pantai Padang diungkap oleh pemerintah Kota Padang, muncul beranekaragam persepsi kelompok masyarakat. Ada yang pro dan ada yang kontra.

Akhirnya, keputusan Walikota Padang menangguhkan PBC dalam waktu yang tidak ditentukan yang disampaikan melalui surat Nomor 050.434/PMK/IV/2007 tanggal 27 April 2007, dinilai sebagai langkah yang arif dan bijak. Hingga masyarakat pun mempunyai kesempatan untuk menelaah urgensi PBC tersebut.
Pantai Padang biasa dipadati masyarakat setempat maupun para pelancong yang kebetulan berwisata atau dalam rangka urusan bisnis di Padang. Pantai Padang memiliki garis pantai yang panjang. Di salah satu sisi, latar belakang laut dilengkapi dengan sebuah bukit yang disebut sebagai Gunung Padang. Beberapa warung tenda berdiri berjejer di tepi pantai, terutama pantai di depan Taman Budaya. Anda bisa menikmati minuman dingin berupa minuman bersoda dan kelapa muda.

Sayangnya, Pantai Padang tak berpasir. Kalaupun ada, hanya tersisa sedikit di beberapa bagian. Pantai ini telah mengalami abrasi menahun. Dulunya arena berpasir tempat bermain cukup luas, namun sekarang kondisinya memprihatinkan, karena bibir pantai habis terkikis ombak. Sehingga tidak menyisakan tempat bermain pasir di beberapa titik, karena sepanjang bibir pantai sudah dipenuhi bebatuan pemecah ombak, tetapi dengan kondisi ini malah membuat pantai padang memiliki pesona tersendiri.

Di pantai yang sangat memanjakan mata ini, sering dijumpai oleh anak-anak muda yang sedang mengamen tapi bergaya urakan dan sedikit mengganggu kenyaman pelancong yang datang ke kawasan ini.

“Kenapa hal yang demikian tidak ditertibkan oleh pemerintah?” ujar Hilmi (45), salah seorang pelancong asal Malaysia, beberapa waktu lalu.

Sore hari, kelar dengan urusan pekerjaan maupun lelah berwisata, Pantai Padang menjadi penutup hari yang tepat. Mengamati matahari yang perlahan-lahan turun. Lalu mulai menyentuh cakrawala dan menebar sinar terakhir hari itu. Kemudian, tanpa disadari, hari mulai gelap.(*)

14 Agustus 2012

Mekah Mini Lubuk Minturun

Harian Umum Interpos (08/08/2012)


Padang, Interpos
Kota Padang boleh dikatakan memiliki beraneka-ragam cagar budaya dan sejarah yang banyak menyuguhkan keindahan kota bagi setiap insan yang ingin memanjakan mata dan pikirannya. 

Tak dipungkiri, panorama alam tersebut menyimpan segudang makna dan kearifan lokal. Mulai dari keindahan alam yang terkemas dalam bentuk pantai yang memanjakan mata wisatawan sampai pada bangunan dan tempat yang menyimpan nilai sejarah dan budaya. Tak kalah ketinggalan juga di kota yang padat Muslim ini juga terdapat banyak objek wisata Islami.

Salah satu objek wisata Islami yang ada di kota ini adalah “Mekah Mini” yang terletak di kawasan Lubuak Minturun Kota Padang. Objek wisata islami yang lebih dikenal sebagai lokasi manasik haji ini, merupakan miniatur tanah suci Mekah, tempat seluruh umat Islam dari berbagai penjuru dunia menunaikan ibadah haji.
Jika dibandingkan dengan kondisi kota Mekah, iklim dan luasnya sungguh jauh berbeda. Namun, begitu memasuki kawasan ini, pancaran nuansa Islaminya sangat kental.
 
Seperti diketahui, kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah. Kemudian pada tanggal 9 Dzulhijjah, bermalam di Muzdalifah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10, 11, dan 12 Dzulhijjah. Tahapan inilah yang diinterpretasikan melalui lokasi manasik haji, di kawasan Lubuak Minturun ini.

Pada pintu gerbang, terdapat tugu yang diatasnya terdapat Alquran raksasa yang terbentang megah. Di bagian depan kawasan ini, terdapat dua batu besar. Salah satunya bertuliskan nama pendiri lokasi manasik haji ini yaitu H.Nurli Zakir dan Hj. Asmaridha, tercantum tanggal pendirian lokasi ini tertanggal 13 Desember 2000 lalu.

Pemandangan bukit yang hijau, akan memanjakan mata setiap pengunjung yang melihatnya. Ditambah hamparan rumput, diselingi pasir layaknya padang pasir, dengan bebatuan besar yang menandakan setiap perhentian seorang muslim dalam menyelenggarakan ibadah haji. Di bagian pojok kiri kawasan ini, berdiri megah bangunan Masjid Nurzikrillah, yang digunakan oleh masyarakat untuk beribadah dan untuk manasik haji, karena di dalamnya dilengkapi dengan miniatur ka’bah. Namun amat disayangkan, menurut salah seorang penjaganya, Masjid ini hanya dibuka ketika waktu-waktu shalat saja.

Di tengah kawasan, terdapat sebuah jembatan kecil, yang di atasnya terdapat tiga buah tugu, melambangkan tempat umat Islam melempar jumrah, Al-Ula, Al-Wustha, Al-Aqabah. Di samping jembatan berwarna biru tersebut, kita akan menjumpai miniatur terowongan Mina, yang menjadi persinggahan saat menunaikan ibadah haji.

Sedangkan miniatur bukit Safa dan Marwah, yang menjadi tempat tahapan sa’i ibadah haji, atau berlari kecilpun ada di sini. Selain dijadikan tempat manasik haji, lokasi ini juga kerap didatangi masyarakat, untuk berwisata. 

“Biasanya kawasan ini ramai dikunjungi ketika libur sekolah atau pada saat lebaran” ungkap wiwit (25 th), penjaga kawasan ini.

Mekah mini yang didesain untuk objek wisata islami dan sarana manasik haji oleh pendiri dan pengelolanya ini, tak jarang disalah artikan pengunjung. Sering juga ditemukan sepasang muda-mudi di kawasan ini yang memadu asmara dan berjalan berduaan. **

12 Agustus 2012

Masjid Tertua Bertonggak Nama 25 Nabi dan Rasul


Harian Umum Interpos, 06/08/2012
Oleh: Usman Jambak

Padang, Interpos - Masjid Raya Ganting atau populer di kalangan masyarakat dengan sebutan Masjid Raya Gantiang merupakan sebuah masjid tertua di Kota Padang, terletak di jalan Gantiang Padang. Masjid Raya Ganting ini pertama kali dibangun pada tahun 1805 dan selesai pada 1810, dipelopori Angku Gapuak, Angku Syekh Haji Uma yang dimakamkan di belakang masjid bersama-sama sekelompok orang dari pasukuan Chaniago. Demikian dituturkan oleh Yulfikar Yunus, salah seorang pengurus inti Masjid Raya Ganting.

Sebagai sebuah masjid tertua, Masjid Raya Ganting memiliki segudang keunikan dan kelebihan daripada bangunan-bangunan masjid lainnya. Arsitekturnya merupakan kombinasi dari arsitektur Melayu – Cina dan Barat. Dalam ruangan masjid terdapat 25 tiang yang mempunyai nilai filosofis mengingatkan akan umat Islam terhadap 25 Nabi dan Rasul.

Sebelum tahun 1970, di tengah-tengah masjid terdapat anjungan tempat muadzin mengumandangkan azan. Seiring berjalan waktu dan alat pengeras suarapun sudah ditemukan, anjungan tempat muadzin mengumandangkan adzan tidak berfungsi lagi. Untuk alasan efisiensi anjungan tersebut dihilangkan pada tahun 1970. 

Mimbar Masjid Raya Ganting didesain dua buah. Satu buah terdapat di dalam sebagai fasilitas sholat (ibadah), sedangkan satu lagi terdapat di luar ruangan yang difungsikan jika ada acara seremonial kemasyarakatan (muamalah) seperti jika ada kerapatan nagari. Kondisi ini betul-betul mempraktekkan masjid di masa Rasulullah yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah tetapi juga sebagai sarana muamalah.

Keunikan lainnya adalah bahwa Masjid Raya Ganting selama bertahun-tahun (1810 hingga 2009) tidak mengenal konstruksi bangunan dari besi. Baru setelah terjadi gempa dahsyat yang melanda Kota Padang pada tahun 2009 - setelah melalui analisis beberapa orang arsitek - tiang-tiang masjid diperkuat dengan besi beton. Sebab, gempa yang berkekuatan 7.9 Skala Richter tersebut mematahkan hampir sepertiga dari tiang-tiang yang ada. 

Melirik lantai dua dari bangunan Masjid Raya Ganting ini sedikit membuat hati kita trenyuh, sebab lantai dua yang sebagian besar masih terbuat dari kayu tersebut terlihat reot. Kita berharap ada perhatian serius dari pemerintah terhadap kelestarian dan kebutuhan bangunan Masjid Raya Ganting ini yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. (uj)

29 Juli 2012

RAMADHAN: MOMENTUM BERBENAH ANAK BANGSA

Harian Umum INTERPOS [Kamis, 26 Juli 2012]

Oleh: Usman Jambak

Enam puluh tujuh tahun hampir umur kemerdekaan bangsa Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, pemaknaan momentum kemerdekan tanah air tercinta Indonesia dari rongrongan penjajah beberapa dekade terakhir ini seakan hilang tanpa arah, berlalu tanpa arti. Bahkan, Ramadhan yang beberapa tahun belakangan berbarengan dengan momentum kemerdekaan Indonesia ini juga tidak menemukan arti pentingnya sebagai bulan kemenangan bagi umat Islam.
Kehadiran tokoh-tokoh muda baik dipentas nasional maupun regional yang tercampak dari rule idealisme dan kodratnya sebagai avant garde baik dalam perubahan maupun dalam pembangunan, seakan menambah suram potret anak bangsa hari ini. Sebut saja beberapa kasus korupsi dan tindak penyelewengan lainnya yang diawaki oleh generasi muda, mulai dari mafia peradilan hingga mafia pajak. Penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya dirisemakin banyak menjerat tokoh muda hari ini.

Berkaca dari sejarah, generasi muda sebenarnya memiliki peran yang cukup penting dalam merebut kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, 67 tahun silam. Pemuda menjadi penggagas bagaimana kemerdekaan itu harus diraih dan direbut bukan dengan pemberian oleh bangsa asing. Sebab itu mereka menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Ini dimaksudkan agar para pemimpin tak lagi hanya bergantung oleh “iming-iming” yang diberikan bangsa asing.

Usman Jambak in Malaysia
Setelah merdeka, kembali para pemuda tidak tinggal diam begitu saja. Mereka mencermati bagaimana elite-elite politik yang ada belum mengangkat kesejahteraan rakyat sebagaimana yang termaktub dalam UUD 1945 dan Pancasila. Pemuda pun kembali bergerak dengan segala idealismenya. Soekarno dengan segala kekuasaannya harus rela turun dan Soeharto menggantikannya. Soeharto memang banyak menjalankan pelaksanaan pembangunan negeri ini, tapi sayang di situ pula ia bangun jaringan untuk mereguk pundi-pundi uangnya secara kekeluargaan. Para pemuda lagi-lagi bergerak mencermati hal itu yang kemudian mengantarkan dan mendorong lahirnya era reformasi 1998.

Ketercorengan citra pemuda hari ini sebagai harapan bangsa mesti disadari. Hanya dengan menyadarilah proyeksi ke depan dapat diperbaiki. Momentum Ramadhan 1433 H sekarang ini, memang momen yang tepat dan masa yang baik untuk berbenah. Tak salah jika sekiranya pemuda mengambil peranan yang baik pada momentum ramadhan seperti saat ini. Pemuda harus kembali menjadi avant garde bagi bangsanya. Untuk merealisasikannya, setidaknya ada 3 dimensi yang selalu bergerak dalam diri manusia dan keterkaitannya dengan Ramadhan yang harus dimaknai.

Tiga Dimensi Ramadhan

Pertama dimensi qalbiyah; yaitu dimensi hati. Dimensi ini akan berkaitan dengan aqidah. Seberapa besar pertambahan kualitas keimanan ketika Ramadhan masuk, dan hasilnya akan terlihat setelah Ramadhan berakhir. Hitungannya ialah seberapa besar perkembangan ibadah, keyakinan dan keinginan untuk menjadikan semua aktivitas diri menjadi ibadah. Maka, anugerah pertama yang lahir di bulan Ramadhan yang termanfaatkan adalah anugerah qalbiyah, atau keimanan.

Tentu saja sangat merugi umat Islam yang mengabaikan datangnya bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, mahfirah, dan ampunan ini sehingga kelak kita terhindar dari api neraka. Bila puasa kita berjalan dengan baik maka sangat besar peluang dosa-dosa kita sebanyak apapun juga, kecuali sirik, akan diampuni Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita menjalankan ibadah puasa di siang hari dan melaksanakan amalan sunnah lainnya di malam hari, seperti shalat tarawih, tadarus, zikir dll. Berbahagialah mereka yang dapat melaksanakannya dengan sempurna, karena imbalan pahalanya demikinan besar dan berlipat ganda. Bayangkan anda tidak akan pernah bertemu lagi dengan Ramadhan mendatang sehingga kualitas ibadah kita semakin fokus dan khusuk.

Dimensi kedua adalah dimensi moralitas, bahwa Ramadhan harus bisa melahirkan pribadi yang lebih baik lagi, Ramadhan bisa melahirkan sikap yang membahagiakan untuk sesama umat. Inilah cita-cita kedua yang ditelurkan oleh pesantren Ramadhan. Pelatihannya bisa dimulai dari belajar sabar, berbaik sangka, mendahulukan yang penting dan prioritas. Pelatihan selama satu bulan ini harus menjadi perubahan dan perbaikan sikap diri. Menjadi orang yang lebih santun, menjadi orang yang ramah dalam pergaulan social. Oleh karenanya, harus dipastikan Ramadhan ini bisa merobah moralitas diri yang berujung pada perubahan moralitas kolektif.

Tidak dapat dipungkiri ada dua syahwat terbesar tersebut berbanding sejajar dengan realita kehidupan saat ini. Banyak kejadian yang menyimpang berasal dari dua syahwat ini. Syahwat terbesar pertama yang datang dari perut. Kita pasti dapat melihat, berapa banyak orang yang rela (mohon ma’af) mencuri, “melacur”, bohong, korupsi, kolusi, nepotisme dan lain-lain. Alasan semua itu dilakukan karena yang terbesar adalah karena alasan perut. Di samping ada sebab-sebab lain yang mungkin melatarbelakangi hal itu terjadi.

Syahwat terbesar kedua yang disebutkan setelah perut adalah yang berasal dari kemaluan. Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas, dapat kita lihat tingkat kejahatan yang ditimbulkan juga besar. Banyak kejahatan yang ditimbulkan oleh syahwat ini. Asumsi di atas sebagai imbas dari realita sekarang ini dengan semakin tingginya angka kejahatan pemerkosaan, perselingkuhan, aborsi, hamil di luar nikah. Kejahatan itu tentunya disebabkan ketidakmampuan manusia menahan syahwat yang berasal dari kemaluannya.

Kejahatan-kejahatan yang berasal dari dua syahwat terbesar di atas, menandai bahwa perlu adanya pembenahan terhadap nilai moralitas. Tentu hal yang dapat dilakukan yaitu dengan mengambil hikmah terbesar dari ibadah puasa dalam perbaikan moralitas dari syahwat yang berasal dari keduanya. Ibadah puasa tentunya sangat besar pengaruhnya dalam mengerem laju kejahatan-kejahatan yang disebabkan oleh hal tersebut di atas.

Dalam Islam tidak ada upaya untuk membunuh kedua syahwat di atas, akan tetapi Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu mengendalikan kedua syahwat tersebut. Salah satu cara untuk mengendalikan kedua syahwat tersebut yaitu dengan ibadah puasa. Sering kita mendengar pepatah, mencegah itu lebih baik dari mengobati. Pembinaan moral yang diajarkan oleh Islam, salah satunya tentu melalui ibadah puasa ini karena puasa sangat besar pengaruhnya untuk perbaikan moral bangsa. 

Dimensi ketiga adalah dimensi karakter. Dipastikan bahwa kita merubah segala karakter kita menjadi perbuatan yang bernilai baik dan positif setelah Ramadhan. Itulah yang disebut manusia paripurna. Maka diri yang sempurna adalah diri yang sudah mampu merubah prilaku dan perbuatan menjadi lebih baik lagi, menambah kebaikan, mengikis keburukan.
Sesungguhnya Ramadhan merupakan metode yang didesain oleh Allah untuk perbaikan perbuatan manusia, karena di dalamnya terdapat rangkaian proses ibadah agar manusia menjadi lebih baik dalam segala hal. Lebih baik hatinya, lebih pandai bersyukur, lebih peduli sesama, dan lebih bertakwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang hidupnya selalu bersama Alquran. Hidup bersama Alquran artinya hidup bersama Allah. Itulah inti dari ibadah puasa Ramadhan.
Alquran adalah petunjuk bagi umat manusia (hudan li al-nas), ia juga menjadi penyembuh (syifa’), dan penjelas (bayan) dan pembeda antara yang hak dan batil (furqan). Alquran diturunkan supaya manusia bisa mengambil hikmah darinya dalam menjalankan segala amanah dan perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, orang yang mempelajari dan mengamalkan Alquran akan mampu membedakan perbuatan baik dan buruk, benar dan salah, serta halal dan haram. Karena itu, Ramadhan adalah momentum renovasi hati agar karakter manusia kembali seperti saat dia dilahirkan. Kembali pada fitrahnya.

Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan bahwa bila hati seseorang baik, maka baik juga seluruh tubuhnya. Tapi, bila hatinya rusak maka rusaklah seluruh perilakunya. Hati yang rusak bisa disebabkan oleh banyak hal. Misalnya karena dengki, dendam kesumat, nafsu serakah, egois, emosional, serta mau menang dan benar sendiri. Oleh karena itu, marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan amal ibadah melalui Alquran dan ibadah lainnya. 

Membaca dan mempelajari Alquran harus diniatkan dan ditekadkan untuk perbaikan hati agar lisan kita tidak dusta dan perilaku sesuai dengan hati kita. Kita tegakkan shalat agar tidak sombong, angkuh, dan menjadi rendah hati. Kita ulurkan tangan, peduli sesama melalui sedekah, infak, dan zakat agar hilang perasaan kikir dan bakhil dari hati kita. 
Shiyam atau puasa yang berkualitas akan tergambar pasca-Ramadhan. Bila karakter seseorang semakin baik, kesadaran terbentuk dengan pola Alquran, pikiran tidak liar, dan perasaan terkendali, sehingga tidak mudah menderita sakit fisik, maka itulah salah satu tanda berhasilnya Ramadhan seseorang. Sesungguhnya seluruh amal perbuatan anak cucu Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya (Hadis Qudsi).
Kualitas (karakter) hati hasil tempaan di bulan Ramadhan akan diuji setelah Ramadhan nanti. Apakah selama 11 bulan ke depan kita bisa senantiasa menghadirkan Ramadhan di hati kita atau dalam kehidupan kita. Karena, Ramadhan adalah momen yang hanya terjadi setahun sekali. Wallahu ’alam. (*)

28 Desember 2011

ABU DI ATEH TUNGGUA

ABU DI ATEH TUNGGUA
(Diskusi di Ruang Group Facebook: BENARKAH ADAT MINANG BERSENDIKAN SYARAK?)


USMAN JAMBAK: Kedudukan urang sumando dalam masyarakat adaik Minangkabau acok bana digambarkan 'Bak Abu di Ateh Tunggua' dan iko dianggap sebagai salah satu nan balawanan jo syarak, ba a duduak tagak persoalan iko go mamak sarato dunsanak nan duduak dalam ruang nangko...
Top of Form
'Datuk Mudo menyukai ini. (22 Desember 2011)

Komentar:
http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash2/371174_1808396949_127087640_q.jpg'DATUK MUDO’: Indak ado ayat Qur'an nan manyingguang atau mangaturnyo, agiahlah bocorannya senek sanak kalau ado
12 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Iyo batua bana tu Mak 'Datuk Mudo, indak ado ayat jo hadih nan mambicarakan tapi katiko bicaro persoalan adaik apolai kalo terkait dg posisi urang sumando mako ungkapan nan sarupo iko muncul, makonyo ambo tanyoan ba a pamahamannyo ko...
12 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash2/371174_1808396949_127087640_q.jpg'DATUK MUDO: Tapi konteks nyo hubungan sasamo manusia kan lai diatur samo agamo kito. Jadi nan paralu kito pedomani sajo baa nan disyariatkan oleh Islam. Saling hormat menghormati dan manjago perasaan hrs diperhatikan
12 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Apo nan mamak katokan itulah kato nan sabananyo mak 'Datuk Mudo, cuma sebagai urang nan dilahiakan dan gadang di ranah Minang tacinto ko sudah sapatuiknyo juo mangatahui seluk beluk masyarakaik jo adaiknyo, kalo toh ado pertentangan tentu ado jalan damainyo. Bukankah falsafah dasarnyo ABS-SBK, kini kito temukan ado beberapo falsafah yang secara sepintas lalu berlawanan dg syarak, nah dalam persolan nan sarupo iko tentu ado pemahamannyo yg tapek sahinggo kito tidak hanyo manilai dari apo nan ta tulih...
12 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: Assalamu’alaikum Wr Wb. MANURUIK ambo, kalau Adat Minangkabau lai konsisten disigi jo kaco mato Islam (bukan sabaliaknyo ajaran Islam nan disenter jo aturan Adat Minangkabau), indak basuo konsep sumando dalam syarak do. Konsep sumando nan hanyo ado dalam adat Minangkabau ko jo konsep mamak, sabananyo samacam dualisme nan bisa mabueak galombang balimpik, (fungsi dan peran yang tumpang tindih bahaso nasionalnyo). Karano mamak ko areak bana hubungannyo jo konsep "anak dipangku kamanakan dibimbiang" Tapi samo jo sumando konsep "kamanakan dibimbiang" ko indak pulo ado dalam syarak do. Itu konsep tangguang jawab sosial nan hanyo ado dalam klausul Adat Minangkabau. Apo sebanyo konsep-konsep sumando jo mamak ko indak ado dalam syarak ? Manuruik ambo dek karano Allah labiah tahu sampoai di ma bateah kamampuan laki-laki. Laki-laki indak kamampu berperan ganda (badwifungsi) "mamangku anak sakali gus mambimbiang kamanakan". Kalaupun ado nan mampu hanyo saketeak sajonyo, mungkin nan tagoloang laki-laki super. Sadangkan ajaran Islam tu indak khusus untuak urang Minangkabau sajo do, berlaku untuak seluruh alam. Indak kamungkin pulo ninik muyang awak saisuak nan manyusun Adat Minangkabau ko labiah tahu pado Allah, labiah santiang pulo visinyo pado Allah. Jadi manuruik ambo, indak ado jalan lain, Islam nan harus manyempurnakan Adat Minangkabau, bukan sabaliaknyo. Baa pandapeak sanak nan lain ? Partanyaannyo : Apo laki-laki Minang harus bapungsi tunggal sajo sabagai imam dalam rumah tanggonyo sasuai jo ajaran Islam ? Atau tetap bafungsi ganda jo “beban tambahan” manjadi mamak bagi kamanakan jo dunsanak padusinyo sarupo nan ado dalam ajaran adat ? Ambo raso, suko atau indak suko, iko partanyaan nan paralu awak cari jawabannyo. Baa manuruik sanak ?.Wassalam
11 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Tarimokasih pencerahannyo mak Helmidjas Hendra, difokuskan dg pertanyaan ambo: apo sebetulnyo pemahaman 'abu di ateh tunggua' ko mak?
10 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/370401_1566114296_838005984_q.jpgIBU ASNIWITA: Menuruik ambo arti abu di ateh tunggui pai tidak maninggaan bakeh..mungkin itu mhn maaf kalau salah,contoh nyo mertuo terhadap minantu hati2 bana manjago hati minantu/ sumando(dulu di kampuang). Sebab menantu salah saktek mudah baganyi(sisuak) nyo baok baju sketek dari rmh ortunyo...tlg tukuak sanak..:)
9 jam yang lalu melalui seluler · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: Assalamu'alaikum Wr Wb. @ USMAN JAMBAK > KOK manuruik pamahaman ambo "abu di ateah tunggua" ko dari kaco mato Islam artinyo negatif, meskipun dari kacomato adat mukasuiknyo adolah penegasan bahaso sumando tu kedudukannyo labil, indak kuat, indak mancakam sarupo kadudukan mamak/tungganai, karano inyo urang lua nan sawaktu-waktu bisa pai (tabang) kalau ado panyabab (angin kancang atau kanai hujan bagai). Mako manuruik ajaran Islam negatif, karano sumando ko banalah sabananyo nan imam dalam keluarganyo, nan mancarikan nafkah, mambimbiang untuk keselamatan keluarganyo (istri jo anak-anaknyo) di dunia di akhirat, nan maitam jo mamutiahkan (istri harus taat ka suaminyo, anak harus taat ka bapaknyo, sapanjang suami/bapak indak manyuruah malangga perintah Allah) Jadi peran dan fungsi sumando ko bukan sakadar manjadi (maaf) pejantan, sarupo katiko Islam alun masuak manyempurnakan adat Minangkabau. BANYAK juo nan bapandapeak istilah "abu di ateah tunggua" ko hanyo digadang-gadangkan dek sumando-sumando nan indak tagoloang sumando niniak mamak, sabagai alasan untuak balapeah tangguang jawab. Tapi dek ambo indak basuo contoah nan sarupo tu do, tertulis atau di lapangan. Wassalam
9 jam yang lalu · Suka · http://static.ak.fbcdn.net/rsrc.php/v1/yw/r/drP8vlvSl_8.gif2

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Sasuai ambo mak Helmidjas Hendra, sebagai perimbangan informasi kan indak ba a ambo nukil juo hasia diskusi ambo jo salah surang Datuak di kampuang doh..?? kok lai buliah ko kasimpulan nan dapek ambo ambiak dari diskusi nan tun. Istilah 'Bak Abu di Ateh Tunggua' ko bukan sebagai perwujudan lamahnyo kedudukan urang sumando karano baliau urang nan dijapuik sarato dijangkau, istilahko muncul sabagai wujud kuat dan logisnyo kaduduak-an inyo. Abu di ateh tunggua bukan abu sumbarang abu nan tatonggok di ateh tunggua, abu di ateh tunggua nan dimukasuik adolah abu hasia pambakaran batang padi (tunggua) di sawah. Abu nan tatonggok di tunggua tu sangat sulik dibarasiahan apolai kalo lah disiram pulo dek aia (kalo ndak picayo buliah eksperiment mak..he..he). Kondisi ko dikaikkan dg posisi urang sumando, kalopun tajadi juo angin nan ka ma asak tampeknyo, toh inyo pulang ka rumah kekerabatan Ibunyo dalam keadaan malenggang sajo (tanpa mambao suatu barang apapun) tamasuak barang nan ketek2, bahkan CD sekalipun tak akan inyo bao, satiok malam barang2 inyo akan selalu dipandangi oleh si isteri, dalam kondisi nan mode iko (kalo kesalahan barasa dari pihak isteri) biaso isteri akan luluh dan akan mamaso mamak atau dunsanak laki-lakinyo untuak mambaliak-an lakinyo. Kalolah seperti iko pemahamannyo ternyato ado ketinggian makna nan tasimpan di baliak papatah-petitih Minangkabau iko....

Oke, mak. kito fokus dg pemaknaan mamaak, pertanyaaan berikutnyo: pabilokoh urang sumando ko dikatoan abu diateh tunggua? apokoh istilah ko balaku umum? Trim's mak.
7 jam yang lalu · Suka · http://static.ak.fbcdn.net/rsrc.php/v1/yw/r/drP8vlvSl_8.gif1

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: Assalamu'alaikum Wr Wb @ USMAN JAMBAK > Kalau untuk sakadar ilustrasi, nan sanak caritokan tu buliah lah, tapi dari aspek filosofi indak basuo. Sabab tunggua jo munggua jo batang padi (jarami) balaian artinyo. Tunggua nan dimukasuik ko bahaso Indonesianyo tunggul, pangka batang kayu nan alah rabah atau ditabang. Cubolah manyiram jo aia atau maambuik jo angin bagai kok indak tabang abu di ateah tunggua tu. Manuruik ambo di siko lah jalan basimpang sanak. Ikolah sabab utamonyo baa mako generasi mudo Minangkabau, apo lai nan gadang jo lahia dirantau indak manyambuang jo tuo-tuo nan di ranah, katiko mereka urang-urang mudo ko ingin mamahami adat Minangkabau ko dari "sumberf asli"nyo (para pangulu) nan saharusnyo bak kayu gadang ditangah padang, ureaknyo tampeak baselo, batangnyo tampeak basanda, KA PAI TAMPEAK BATANYO, KAPULANG TAMPEAK BABARITO. iko nan indak jalan, dek banyak mamak, tungganai jo pangulu, indak mampu manyampaikan informasi adat Minangkabau nan proporsional. Iko pandapeak ambo pribadi mah sanak
TENTANG pertanyaan: pabilokoh urang sumando ko dikatoan abu diateh tunggua? apokoh istilah ko balaku umum?, insya Allah sudah Magrib ambo jaweak. Wassalam
7 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: Assalamu'alikumm Wr Wb. Maaf, talambeak ambo manjaweak tanyo sanak. Iko jawabannyo manuruik ambo. Urang sumando ko dikatoan abu di ateh tunggua salamo manjadi urang sumando. Karano inyo tetap dindak dianggap bagian dari keluarga istri jo anaknyo. Sukunyo babeda jo jo suku istri jo anaknyo karano mereka indak sakaum. Tapi urang sumando ko bisa sacaro sepihak malapeahkan dirinyo dari parasaan manjadi abu di ateah tunggu tu. Caronyo sederhana sajo asa inyo lai mampu. Inyo bao keluarga nyo (keluarga batih = nuclear family) ka tampeak nan "merdeka" (diseo, dikontrak atau dibalinyo) rumah untuk inyo anak baranak, inyo bausao di lua lembaga yang basangkuik pauik jo harta milik kaum istrinyo (rumah gadang, lahan pertanian dsb) Kalau ituy inyo lakukan sulik manyabuik inyo abu di ateah tunggu, karano inyo manjadi imam dalam keluarganyo. Kok datang bana mamak jo dunsanak istrinyo mereka datang sebagai tamu. Itu manuruik ambo, itu makonyo urang sumando di rantau indak marasokan sindrom abu di ateah tunggua ko, karano itu pandangan sepihak ndari pihak kaum istrinyo. PERTANYAAN KADUO apokoh istilah ko balaku umum?
2 jam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: ‎(SAMBUNGAN) Manuruik ambo memang balaku umum, karano iko manyangkuik status. Nan balaku khusus ado pulo, kok suko maasuang fitanah "sumando kacang miang namonyo", kok nan taruih mambuek malu "sumando langau ijau" namonyo, kok nan gilo maulik anak bini indak acuah ka kamanakan jo dunsanak padusi, biapun sasuai jo ajaran Islam, "sumando apak paja" namonyo, tapi kok lai elok, panyantun, pitih banyak pulo, "sumando ninik mamak" namonyo. Sagitulah dulu, salabiahnyo tanyolah ka inyiak. Wassalam
sekitar sejam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Mamak Helmidjas Hendra, tarimokasih banyak atas tanggapan2 nan mamak barikan walau mamak mangatoan talambek tp bagi ambo ndak talambek doh, karano ambopun baru mambaco baru, satantangan penjelasan mamak 2 nan terakhir agak sulik ambo tarimo mak, persoalannyo: kalo kito kontekstualisasikan persoalan iko dg jaman kini, dimano urang sumando ndak lai ma unyi rumah gadang bininyo dalam artian alah mambali tanah atau pai marantau dan lah mambuek rumah pulo di rantau urang tantu sitilah 'Abu di ateh tunggua' ko indak dapek dipakaikan, sia nan ka ma usiak inyo justru sabaliaknyo kalo mamak (sdr laki2 istri) ikuik sarato jo inyo bisa2 mamaklah nan bakaduduak an sabagai abu di ateh tunggua...
Kalolah analisa ambo ko dapek ditarimo tentu pertanyaan ambo kaduo jawabannyo TIDAK berlaku umum, hanyo balaku bagi urang sumando nan tingga di kekerabatan isterinyo dalam artian masih 'mangakeh' jo harato pusako bininyo, ba a kiro2 analisa ambo ko mak....
sekitar sejam yang lalu · Suka

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/23096_100001117852271_1254_q.jpgHELMIDJAS HENDRA: Assalamu'alaikum Wr Wb @ USMAN JAMBAK > Indak babeda pandapeak awak tu do, balain latak tumah. Persepsi ambo tentang pengertian "balaku umum", mukasuik ambo untuk kaampeak kategori urang sumando tu (kacang miang dsb) Dek sanak berdasarkan kemandirian sacaro finansial, samo jo apo nan ambo sabuik di komen sabalunnyo, iko kutipannyo sbb :
Tapi urang sumando ko bisa sacaro sepihak malapeahkan dirinyo dari parasaan manjadi abu di ateah tunggu tu. Caronyo sederhana sajo asa inyo lai mampu. Inyo bao keluarga nyo (keluarga batih = nuclear family) ka tampeak nan "merdeka" (diseo, dikontrak atau dibalinyo) rumah untuk inyo anak baranak, inyo bausao di lua lembaga yang basangkuik pauik jo harta milik kaum istrinyo (rumah gadang, lahan pertanian dsb) Kalau itu inyo lakukan sulik manyabuik inyo abu di ateah tunggu, karano inyo manjadi imam dalam keluarganyo. Kok datang bana mamak jo dunsanak istrinyo mereka datang sebagai tamu. Itu manuruik ambo, itu makonyo urang sumando di rantau indak marasokan sindrom abu di ateah tunggua ko, karano itu pandangan sepihak ndari pihak kaum istrinyo.
sekitar sejam yang lalu · Tidak Suka · http://static.ak.fbcdn.net/rsrc.php/v1/yw/r/drP8vlvSl_8.gif1

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/211725_100001169762423_1583121283_q.jpgUSMAN JAMBAK: Oke mamak Helmidjas Hendra lah agak batamu rueh jo buku di ambo kini tu, sebagai pertanyaan lanjutan mak: Kapan munculnyo istilah iko, mak? adokoh mamak mampunyoi bahan bacaan nan mangulas secara anjang leba persoalan urang sumando di dalam masyarakat adat Minangkabau ko?
55 menit yang lalu · Suka
Bottom of Form

Ihkwan Fillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More