Blogroll

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net
free counters

Pages

English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Feature Usman Jambak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature Usman Jambak. Tampilkan semua postingan

15 Agustus 2012

Misteri Bukik Gunuang Nago



Harian Umum Interpos, 10/08/2012

Oleh: Usman Jambak

ALAM memang memiliki misteri tak bertara yang selalu menggelitik manusia untuk menyelidikinya. Sejak mereka mengetahui tentang keadaan alam sekitarnya, manusia terus berusaha melakukan pencarian-pencarian tentang makna dan hakekat alam yang mereka diami. Gunuang (gunung-red) Nago merupakan salah satu tempat yang menyimpan seabrek misteri.

Tampat Gunung Nago merupakan sebuah bukit yang berada di Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang. Sebelum bernama Tampat Gunung Nago, tempat ini bernama Sianik. Sianik merupakan sejenis rumput atau tumbuh-tumbuhan yang ada di bukit tersebut. Di sana terdapat sebuah kuburan manusia yang bernama si Baco bergelar atau bagala Maradu Balang yaitu tahun 1866 M. Ia merupakan tokoh masyarakat yang sangat terkenal pada saat itu. Ia dikenal orang sebagai urang bagak (jagoan), orang siak (orang yang tahu dan paham dengan agama). Sebenarnya si Baco lahir dan berasal dari Nagari Solok Salayo, tetapi hidup dan berdomisili serta mencari nafkah di Padang, tepatnya di Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh. Ketika ia meninggal, ia tidak dibawa ke Nagari Solok Salayo tetapi dikuburkan diperistirahatan terakhirnya di Bukit Gunung Nago.

Di puncak Bukit Gunung Nago terdapat beberapa kuburan. Kuburan-kuburan ini pada awalnya dilindungi dengan bangunan berkubah. Terdapat lima kuburan di bawah bangunan berkubah tersebut, salah satunya kuburan seorang yang bernama si Nago. Si Nago, merupakan tokoh masyarakat dari pasukuan Chaniago. Ia meninggal masih di zaman bergolak (di zaman perang sebelum Komunis). Si Nago juga merupakan seorang ulama terkemuka di masanya dan merupakan salah seorang ulama yang taat dan kuat memegang tarekat. Demikian keterangan yang diberikan oleh Yulidar (45), bundo kanduang Lambung Bukit. Namun, dalam penyusuran kami ke lokasi, tidak ditemukan bangunan lagi yang menanungi kuburan-kuburan tersebut.

Si Nago sebenarnya juga berasal dari Nagari Solok Salayo sama seerti si Baco. Ia hijrah ke Padang dan tinggal serta berdomisili di Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang hingga akhir hayatnya. Setelah ia “berpulang”, ia dimakamkan di bukit Gunung Nago. Selain kuburan yang dibangunkan kubah tersebut, terdapat juga beberapa kuburan lain yang usianya relatif muda.

Pada waktu-waktu tertentu, berlangsung seremoni-seremoni ritual di tempat itu. Yang dijadikan sebagai pusat ritual mengantarkan sesajian adalah kuburan si Nago – ulama besar pada zamannya- di bawah nauang kubah itulah kebanyakan orang-orang pergi mengantarkan sesajian atau melakukan ritual-ritual khusus. Anggapan mereka, roh-roh orang yang berkubur di sana masih ada dan diyakini dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Para pelaku ritual datang ke sana dengan membawa niat yang berbeda-beda. Ada yang berniat semoga panen padinya lancar, ada juga yang berniat supaya dapat diberikan keturunan. Ada yang minta supaya sembuh dari sakit yang sedang diderita, ada yang punya hajat agar di dalam perkawinan tidak ada pertengkaran dan lancar  di dalam rumah tangga.

Sudah menjadi tuntutan moral bagi para pelaku ritual untuk datang memuja ke sana. Jika mereka enggan datang melakukan ritual ke sana, mereka tidak pergi mereka merasa berhutang kepada dirinya sendiri. Demikian ditambahkan oleh Janewar Maradu Balang Pandeka Pauh V Kota Padang.

Itulah asal muasal kenapa tampat yang dijadikan sebagai pusat ritual bagi masyarakat Alai Kapalo Koto Kec. Pauh Kota Padang diberi nama dengan Bukit Gunung Nago.(*)

Asal Mula Istilah Taplau


Harian Umum Interpos, 13/08/2012

Oleh: Usman Jambak

Sebagai ibukota Provinsi Sumbar, Kota Padang dikenal memiliki cukup banyak potensi wisata pantai. Sehingga tidak heran, setiap pengunjung yang datang ke Kota Padang pasti tidak akan lupa untuk singgah sesaat di pantai Padang atau lebih popular disebut “tapi lauik (taplau)”. Ada beberapa pantai yang menarik untuk dikunjungi di kota yang baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke-343 tahun ini. Di antara banyak pantai yang ada di Kota Padang, Pantai Padang adalah satu yang paling ramai di kunjungi. Hal ini karena memang akses Pantai Padang yang paling dekat dan paling mudah di gapai.

Berada di pinggiran pusat kota ke arah barat, Pantai Padang yang populer dimulut anak-anak muda Kota Padang dengan sebutan “TAPLAU” ini menyajikan pemandangan yang elok dengan debur ombak Puruih yang kadang menghantam kuat dan kadang bergelombang gemulai. Pantai Padang juga  menyuguhkan pemandangan sunset yang dramatis, terdapat pula berbagai jajanan yang menggugah selera. Jadi tempat hang out yang cukup asyik bagi anak muda Kota Padang. Bagi para surfer pemula ada beberapa spot yang cukup menantang di Pantai ini terutama di bagian Pantai Purus dan Pantai Air Tawar.

Pada tahun 2009, lalu. Kota Padang punya visi pembangunan pesisir, antara lain reklamasi pantai padang dengan Padang Bay City (PBC). Namun, sejak gagasan tentang reklamasi pantai Padang diungkap oleh pemerintah Kota Padang, muncul beranekaragam persepsi kelompok masyarakat. Ada yang pro dan ada yang kontra.

Akhirnya, keputusan Walikota Padang menangguhkan PBC dalam waktu yang tidak ditentukan yang disampaikan melalui surat Nomor 050.434/PMK/IV/2007 tanggal 27 April 2007, dinilai sebagai langkah yang arif dan bijak. Hingga masyarakat pun mempunyai kesempatan untuk menelaah urgensi PBC tersebut.
Pantai Padang biasa dipadati masyarakat setempat maupun para pelancong yang kebetulan berwisata atau dalam rangka urusan bisnis di Padang. Pantai Padang memiliki garis pantai yang panjang. Di salah satu sisi, latar belakang laut dilengkapi dengan sebuah bukit yang disebut sebagai Gunung Padang. Beberapa warung tenda berdiri berjejer di tepi pantai, terutama pantai di depan Taman Budaya. Anda bisa menikmati minuman dingin berupa minuman bersoda dan kelapa muda.

Sayangnya, Pantai Padang tak berpasir. Kalaupun ada, hanya tersisa sedikit di beberapa bagian. Pantai ini telah mengalami abrasi menahun. Dulunya arena berpasir tempat bermain cukup luas, namun sekarang kondisinya memprihatinkan, karena bibir pantai habis terkikis ombak. Sehingga tidak menyisakan tempat bermain pasir di beberapa titik, karena sepanjang bibir pantai sudah dipenuhi bebatuan pemecah ombak, tetapi dengan kondisi ini malah membuat pantai padang memiliki pesona tersendiri.

Di pantai yang sangat memanjakan mata ini, sering dijumpai oleh anak-anak muda yang sedang mengamen tapi bergaya urakan dan sedikit mengganggu kenyaman pelancong yang datang ke kawasan ini.

“Kenapa hal yang demikian tidak ditertibkan oleh pemerintah?” ujar Hilmi (45), salah seorang pelancong asal Malaysia, beberapa waktu lalu.

Sore hari, kelar dengan urusan pekerjaan maupun lelah berwisata, Pantai Padang menjadi penutup hari yang tepat. Mengamati matahari yang perlahan-lahan turun. Lalu mulai menyentuh cakrawala dan menebar sinar terakhir hari itu. Kemudian, tanpa disadari, hari mulai gelap.(*)

14 Agustus 2012

Mekah Mini Lubuk Minturun

Harian Umum Interpos (08/08/2012)


Padang, Interpos
Kota Padang boleh dikatakan memiliki beraneka-ragam cagar budaya dan sejarah yang banyak menyuguhkan keindahan kota bagi setiap insan yang ingin memanjakan mata dan pikirannya. 

Tak dipungkiri, panorama alam tersebut menyimpan segudang makna dan kearifan lokal. Mulai dari keindahan alam yang terkemas dalam bentuk pantai yang memanjakan mata wisatawan sampai pada bangunan dan tempat yang menyimpan nilai sejarah dan budaya. Tak kalah ketinggalan juga di kota yang padat Muslim ini juga terdapat banyak objek wisata Islami.

Salah satu objek wisata Islami yang ada di kota ini adalah “Mekah Mini” yang terletak di kawasan Lubuak Minturun Kota Padang. Objek wisata islami yang lebih dikenal sebagai lokasi manasik haji ini, merupakan miniatur tanah suci Mekah, tempat seluruh umat Islam dari berbagai penjuru dunia menunaikan ibadah haji.
Jika dibandingkan dengan kondisi kota Mekah, iklim dan luasnya sungguh jauh berbeda. Namun, begitu memasuki kawasan ini, pancaran nuansa Islaminya sangat kental.
 
Seperti diketahui, kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah. Kemudian pada tanggal 9 Dzulhijjah, bermalam di Muzdalifah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10, 11, dan 12 Dzulhijjah. Tahapan inilah yang diinterpretasikan melalui lokasi manasik haji, di kawasan Lubuak Minturun ini.

Pada pintu gerbang, terdapat tugu yang diatasnya terdapat Alquran raksasa yang terbentang megah. Di bagian depan kawasan ini, terdapat dua batu besar. Salah satunya bertuliskan nama pendiri lokasi manasik haji ini yaitu H.Nurli Zakir dan Hj. Asmaridha, tercantum tanggal pendirian lokasi ini tertanggal 13 Desember 2000 lalu.

Pemandangan bukit yang hijau, akan memanjakan mata setiap pengunjung yang melihatnya. Ditambah hamparan rumput, diselingi pasir layaknya padang pasir, dengan bebatuan besar yang menandakan setiap perhentian seorang muslim dalam menyelenggarakan ibadah haji. Di bagian pojok kiri kawasan ini, berdiri megah bangunan Masjid Nurzikrillah, yang digunakan oleh masyarakat untuk beribadah dan untuk manasik haji, karena di dalamnya dilengkapi dengan miniatur ka’bah. Namun amat disayangkan, menurut salah seorang penjaganya, Masjid ini hanya dibuka ketika waktu-waktu shalat saja.

Di tengah kawasan, terdapat sebuah jembatan kecil, yang di atasnya terdapat tiga buah tugu, melambangkan tempat umat Islam melempar jumrah, Al-Ula, Al-Wustha, Al-Aqabah. Di samping jembatan berwarna biru tersebut, kita akan menjumpai miniatur terowongan Mina, yang menjadi persinggahan saat menunaikan ibadah haji.

Sedangkan miniatur bukit Safa dan Marwah, yang menjadi tempat tahapan sa’i ibadah haji, atau berlari kecilpun ada di sini. Selain dijadikan tempat manasik haji, lokasi ini juga kerap didatangi masyarakat, untuk berwisata. 

“Biasanya kawasan ini ramai dikunjungi ketika libur sekolah atau pada saat lebaran” ungkap wiwit (25 th), penjaga kawasan ini.

Mekah mini yang didesain untuk objek wisata islami dan sarana manasik haji oleh pendiri dan pengelolanya ini, tak jarang disalah artikan pengunjung. Sering juga ditemukan sepasang muda-mudi di kawasan ini yang memadu asmara dan berjalan berduaan. **

12 Agustus 2012

Masjid Tertua Bertonggak Nama 25 Nabi dan Rasul


Harian Umum Interpos, 06/08/2012
Oleh: Usman Jambak

Padang, Interpos - Masjid Raya Ganting atau populer di kalangan masyarakat dengan sebutan Masjid Raya Gantiang merupakan sebuah masjid tertua di Kota Padang, terletak di jalan Gantiang Padang. Masjid Raya Ganting ini pertama kali dibangun pada tahun 1805 dan selesai pada 1810, dipelopori Angku Gapuak, Angku Syekh Haji Uma yang dimakamkan di belakang masjid bersama-sama sekelompok orang dari pasukuan Chaniago. Demikian dituturkan oleh Yulfikar Yunus, salah seorang pengurus inti Masjid Raya Ganting.

Sebagai sebuah masjid tertua, Masjid Raya Ganting memiliki segudang keunikan dan kelebihan daripada bangunan-bangunan masjid lainnya. Arsitekturnya merupakan kombinasi dari arsitektur Melayu – Cina dan Barat. Dalam ruangan masjid terdapat 25 tiang yang mempunyai nilai filosofis mengingatkan akan umat Islam terhadap 25 Nabi dan Rasul.

Sebelum tahun 1970, di tengah-tengah masjid terdapat anjungan tempat muadzin mengumandangkan azan. Seiring berjalan waktu dan alat pengeras suarapun sudah ditemukan, anjungan tempat muadzin mengumandangkan adzan tidak berfungsi lagi. Untuk alasan efisiensi anjungan tersebut dihilangkan pada tahun 1970. 

Mimbar Masjid Raya Ganting didesain dua buah. Satu buah terdapat di dalam sebagai fasilitas sholat (ibadah), sedangkan satu lagi terdapat di luar ruangan yang difungsikan jika ada acara seremonial kemasyarakatan (muamalah) seperti jika ada kerapatan nagari. Kondisi ini betul-betul mempraktekkan masjid di masa Rasulullah yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah tetapi juga sebagai sarana muamalah.

Keunikan lainnya adalah bahwa Masjid Raya Ganting selama bertahun-tahun (1810 hingga 2009) tidak mengenal konstruksi bangunan dari besi. Baru setelah terjadi gempa dahsyat yang melanda Kota Padang pada tahun 2009 - setelah melalui analisis beberapa orang arsitek - tiang-tiang masjid diperkuat dengan besi beton. Sebab, gempa yang berkekuatan 7.9 Skala Richter tersebut mematahkan hampir sepertiga dari tiang-tiang yang ada. 

Melirik lantai dua dari bangunan Masjid Raya Ganting ini sedikit membuat hati kita trenyuh, sebab lantai dua yang sebagian besar masih terbuat dari kayu tersebut terlihat reot. Kita berharap ada perhatian serius dari pemerintah terhadap kelestarian dan kebutuhan bangunan Masjid Raya Ganting ini yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. (uj)

Ihkwan Fillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More