Blogroll

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net
free counters

Pages

English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

16 Februari 2011

Valentine’s Day Vs Maulid Nabi SAW

(Tulisan ini pernah dikirim ke Harian Umum HALUAN tapi diskualifikasi...he..he..he)

Hari Valentin (dalam bahasa inggris: valentine’s day) merupakan momen yang ditunggu-tunggu dan dinantikan oleh pasangan muda-mudi yang akan mengumbar cinta kasih pada momen tersebut.  Momen yang dianggap penting dan sangat berharga itu seolah tak ingin dilepaskan oleh muda-mudi yang meyakini bahwa pada hari itu merupakan hari perayaan kasih sayang. Tanggal 14 Februari diyakini dan dipahami sebagai hari perayaan kasih sayang atau yang lebih populer dengan sebutan valentine’s day.

Cara yang digunakan sebagai ajang “mengumbar” cinta kasih tersebut bermacam ragam. Mulai dari Short Message Service (SMS), cara ini digunakan bagi mereka yang tidak dapat izin keluar bersama atau bagi pasangan kekasih yang dipisahkan oleh jarak, cara lain yang digunakan untuk menyatakan happy valentine day adalah calling, cara ini hampir sama dengan cara yang pertama, sama-sama melalui media hand phone (hp) bagi pasangan kekasih yang dipisahkan oleh ruang dan jarak atau dengan mengucapkan happy valentine lewat hand phone. Selain dua cara yang disebutkan itu ada lagi cara lain untuk mengumbar cinta kasih, yaitu dengan keluar bersama dan menghabiskan setiap detik-detik valentin secara bersama bahkan secara bergerombolan atau pesta valentine bersama.

Bahkan ada yang mengemasnya dengan sebuah kompetisi, seperti yang diadakan di Thailand, sebagaimana dilansir oleh Skynews (13/02/2011), dimana untuk memperingati Valentine’s Day diadakan sebuah kompetisi daya tahan berciuman (yang konon kabarnya selalu diadakan setiap tahun). Tahun ini kompetisi diikuti oleh 14 orang pasangan yang akan mempertontonkan aksi ketahanan (lama) berciuman yang pemenangnya akan mendapatkan sebuah cincin senilai 1.000 poundsterling dan uang tunai senilai 2.000 pundsterling (jika dijumlahkan kira-kira 43 juta rupiah).

Barangkali demikianlah sedikit gambaran perayaan valentine’s day yang telah memasyarakat dan membudaya bagi orang-orang yang meyakini bahwa perayaan valentine itu memang ada, bahkan tak tanggung-tanggung, mereka mau “berhabis-habis” untuk sesuatu yang mereka yakini sebagai sebuah “ajaran” atau tradisi.

Sedikit menegaskan artikel Buya H. Mas’ud Abidin yang dimuat di Harian Umum Haluan tertanggal 12 Februari 2011 bertajuk Tidak Perlu Ikut Merayakan Valentine’s Day, dimana Buya telah panjang lebar memaparkan sejarah dan pandangan Islam dalam menyikapi Valentine’s Day yang nota bene-nya adalah peringatan hari kematian Santo Valentine yang dipenggal oleh kaisar Romawi yang bernama Cladius II karena melanggar larangan sang Kaisar untuk tidak menikah. Lalu dimana letak kasih sayangnya? Bukankah ini semacam pembodohan, penyebaran ritual agama berkedok?.

Maulid Nabi SAW
Berbanding terbalik dengan Valentine’s Day, peringatan maulid Nabi (hari lahirnya Nabi SAW) yang disadari dan diyakini sebagi uswatun hasanah yang diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).

Berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan, demikian ungkap Dr. Yusuf Al Qaradhawi.

Rentang sejarah telah mengisahkan kepada kita, bahwa disebabkan kita belum bersungguh-sunguh dalam meneladani Rasulullah yang telah diberi label oleh Allah SWT dengan uswatun hasanah, sebaik-baik idola atau panutan, baik dalam pola bertutur, bertingkah maupun dalam pola beribadah, maka kehidupan kita, kaumuslimin sekarang jauh tertinggal, terbelakang dibandingkan dengan umat lain dihampir semua bidang kehidupan.

Berkaca dengan kondisi seperti ini, jika kita mengginginkan perubahan, kita mesti melakukan “restorasi” pola pikir, karena Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah segala sesuatu yang ada pada diri mereka sendiri” (Qs. Ar-Ra’du : 11).
Kebiasaan mengabaikan teladan Nabi SAW dalam kehidupan kita sehari-hari ternyata membawa kita kepada kemunduran derajat hidup, maka jika ingin berubah menjadi ummat yang maju dan bermartabat, kita harus merubah kebiasaan kita. Kita harus tinggalkan sikap menyepelekan dan mengabaikan uswatun hasanah Nabi SAW. Kita harus bersungguh-sungguh dan lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengenal dan mengikuti teladan Nabi SAW dalam hidup ini. Kesungguhan kita dalam mengikuti teladan Nabi SAW secara utuh dalam mengarungi perjuangan hidup ini adalah kunci menuju kehidupan ummat yang lebih maju dan bermartabat di masa yang akan datang.

Barangkali inilah sedikit hikmah dari pentingnya mengingat dan merayakan maulid Nabi SAW. Namun kenyataan yang kita temukan, momen Maulid Nabi yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 15 Februari 2011, sehari setelah perayaan Valentine’s Day, peringatan maulid Nabi SAW seakan hambar, kurang greget. Tidak bergema seperti gema-nya Valentine’s Day. Kalaupun ada yang memperingati di mesjid-mesjid atau di musholla-musholla, kenyataan yang hadir tetap generasi-generasi “bau tanah”. Kemana generasi muda Islam? Disaat momen yang sangat bersejarah dalam lintas sejarah Islam diingat, apa yang mereka lakukan?.

Duhai generasi muda Islam kita sudah tertinggal jauh dibelakang, mari kita jemput ketertinggalan dengan menjalankan hidup sesuai dengan aturan hidup yang telah digariskan oleh Islam itu sendiri, sebagaimana sabda Nabi: “Telah aku tinggalkan untuk kamu sekalian dua perkara yang apabila kamu berpegang teguh pada keduanya, niscaya tidak akan sesat selamanya, yaitu: Kitabullah dan Sunnah-ku” (Hadis Shahih diriwayatkan Imam Muslim).(Wallahu’alam bishawab)

USMAN JAMBAK
(Penggiat IKAMTI-Pasir)

26 November 2010

Catatan Kecil Perjalanan MTQ ke-34 Kabupaten Agam


* Alhamdulillah tulisan ini juga di publish di Koran Digital

Rahma Maulidya (Ponakanku) salah seorang kafilah Kec. Canduang pada MTQ 34 Kab. Agam dan Alhamdulillah...tampil sebagai terbaik I (satu) Tingkat Tartil Dasar
Kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Kabupaten Agam yang ke XXXIV sedang berlangsung sekarang yang yang diagendakan mulai tanggal 22-26 November 2010 di Nagari Sungai Pua. Penyelenggaraan MTQ ini tentunya bagi kita umat Islam, diharapkan mampu memberikan secercah harapan bagi penanaman kembali nilai-nilai Quran di lapisan masyarakat yang barangkali penulis lebih senang membahasakan dengan “Memasyarakatkan Alquran dan mengqurankan masyarakat”.

Dengan kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran ini diharapkan gizzah Islam yang hampir punah di kalangan masyarakat terbangkitkan kembali sehingga Alquran betul-betul lekat pada diri masyarakat dan dengan sendirinya prilaku masyarakatpun akan terarah menuju prilaku yang qurani.

Harapan kita kegiatan ini tidak hanya sekedar seremonial atau bahkan pelaksanaan program pemerintahan (dalam hal ini Kemenag) semata. MTQ adalah momentum yang tepat untuk menumbuhkan kembali semangat keislaman dan semanagat Persatuan Umat Islam yang saat ini sedang mengalami masa krisis, di mana Alquran hanya sebatas ditenggorokan, belum menyentuh qalbu. Semangat baru inilah yang akan menanamkan kembali nilai-nilai Islam di kalangan umat Islam.
MTQ Tingkat Kabupaten Agam harus kita maknai sebagai ajang atau momentum pengaktualisasian ajaran Islam dalam peri kehidupan kita, sebagaimana kita sadar dan paham bahwa ajaran Islam itu kaffah, melingkup seluruh aspek kehidupan, mulai dari tataran teori sampai tataran praktek. Maka oleh karena itulah, MTQ merupakan ajang yang tepat untuk proses pengaktualisasian ajaran Isam.

Pada lahiriyahnya MTQ memang mempertemukan para kafilah utusan Kecamatan masing-masing untuk saling bertarung, mengeluarkan semua kemampuan yang ada untuk memperoleh hasil terbaik. Namun, pada hakikatnya bukan persoalan kalah ataupun menang tetapi bagaimana menumbuhkan jiwa qur’ani dalam diri setiap individu yanag disentuh dengan berbagai macam alunan nan merdu setiap pelafal ayat suci al-Qur’an serta menumbuhkan rasa ukhuwah islamiyah, sebagaimana firman Allah:
“Innamal Mukminu na Ikhwah” (Qs. Al-Hujurat: 49)

Oleh karena itu sangat penting memupuk rasa ukhuwah, saling mengenal dan mempelajari kelebihan dan keunggulan masing-masing. Rasanya, sangat picik jika hanya orientasi kita adalah menang dalam kompetisi yang luhur ini. (UJ)

28 Agustus 2010

QIYAMUL LAIL DAN MUHASABAH

QIYAMUL LAIL DAN MUHASABAH
Ada dua hal besar dalam tema di atas; Pertama, Qiyamul lail dan kedua muhasabah. Mari kita lihat satu demi satu.
Qiyamul lail secara harfiyah berarti mendirikan malam. Istilah mendirikan malam tidak hanya terbatas pada bulan ramadhan, namun semua malam yang kita lewati dalam kehidupan ini. Walaupun kemudian istilah qiyamul lail maknanya mengalami penyempitan, yaitu melaksanakan ibadah pada malam-malam ramadhan.
Qiyamul lail atau yang biasa disebut juga Sholat Tahajjud atau Sholat Malam adalah salah satu ibadah yang agung dan mulia, yang disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ibadah nafilah atau ibadah sunnah. Akan tetapi bila seorang hamba mengamalkannya dengan penuh kesungguhan, maka ia memiliki banyak keutamaan. Berat memang, dan tidak setiap muslim sanggup melakukannya. Andaikan kita tahu keutamaan dan keindahannya, tentu kita akan berlomba-lomba untuk menggapainya. Banyak nash dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang menerangkan keutamaan ibadah ini
Pertama: Barangsiapa menunaikannya, berarti ia telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya al-Isra’ 79:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا(79)
“Dan pada sebagian malam hari, sholat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isro’:79).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Sholat yang paling utama sesudah sholat fardhu adalah qiyamul lail (sholat di tengah malam).” (hadits Muttafaqun ‘alaih)
Kedua: Qiyamul lail itu adalah kebiasaan orang-orang shalih dan calon penghuni surga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: surat Adz-Dzariyat: 15-18
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ(15)ءَاخِذِينَ مَا ءَاتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ(16)كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ(17)وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ(18)
15. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, 16. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. 17. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. 18. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.
Ketiga: Siapa yang menunaikan qiyamul lail itu, dia akan terpelihara dari gangguan setan, dan ia akan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan qiyamul lail, ia akan bangun di pagi hari dalam keadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal sholeh.
Suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk sholat, maka beliau menyatakan: “Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya.” (Muttafaqun ‘alaih).
Keempat: Ketahuilah, di malam hari itu ada satu waktu dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabulkan doa orang yang berdoa, Allah akan memberi sesuatu bagi orang yang meminta kepada-Nya, dan Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bila ia memohon ampunan kepada-Nya.
إِنَّ فِي لَيْلَةٍ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيًّاهُ, وَذَالِكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
“Di waktu malam terdapat satu saat dimana Allah akan mengabulkan doa setiap muslim yang meminta kebaikan dunia dan akhirat, yaitu setiap malam.” (HR Muslim No. 757).
Dalam riwayat lain juga disebutkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Rabb kalian turun setiap malam ke langit dunia tatkala lewat tengah malam, lalu Ia berfirman: “Adakah orang yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?” (HR Bukhari 3/25-26).
Sementara, Muhasabah secara harfiyah berarti melakukan penghitungan, penilaian atau yang dalam bahasa populer disebut juga melakukan evaluasi. Tidak sutupun perbuatan yang yang dilakukan manusia secara sadar yang tidak memiliki tujuan, maksud atau sesuatu yang hendak dicapai. Itulah prinsip dari niat yang ada di dalam hati seseorang, ketika hendak melakukan sesuatu amal.
Ketika seseorang membuka pintu rumahnya, pastilah ada yang hendak dicarinya. Ketika seseorang keluar dari rumahnya, pastilah ada sesuatu yang hendak dicarinya, begitulah seturusnya. Sesuatu yang hendak dicapai itulah, yang disebut tujuan.
Begitu juga, bahwa Allah tidak akan menurunkan suatu perintah untuk dilaksanakan manusia atau melarang suatu perbuatan, kecuali di balik perintah dan larangan tersebut ada tujuan dan maksud yang besar. Oleh karena semua pekerjaan memiliki tujuan yang handak dicapai, maka di sitiluah pentingnya melakukan evaluasi terhadap suatu amal atau aktifitas.
Melakukan evalausi berarti melakukan penilaian terhadap suatu perbuatan, sejauhmana tercapainya tujuan yang sudah ditetapkan. Dengan evaluasi, seseorang akan mengetahui apa kesuksesan yang sudah dicapai, apa kekurangan, dan mesti diperbaiki, apa kendala yang dihadapi, dan sebagainya. Dengan mengetahui semua itu, diharapakan akan menjadi pedoman untuk berbuat yang lebih baik di masa berikutnya.
Dalam surat al-Hasyr [59]: 18, Allah mengingatkan manusia akan perlunya melakukan evaluasi terhadap setiap amalnya. Seperti firman-Nya;
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dalam ayat di atas Allah swt berpesan, agar manusia melakukan penilaian terhadap semua apa yang telah dilakukannya, untuk menjadi pedoman berbuat yang lebih baik di hari esoknya. Seperti layaknya seorang tukang yang membuat sebuah rumah, sebelum selesai dan menyerahkannya kepada pemilik rumah yang akan memberikan upahnya, terlebih dahulu dia harus melakukan peninjauan dengan seksama terhadap pekerjaannya. Jika terdapat kekurangan, dia mesti memperbaikinya, sehingga dia mendapatkan hasil maksimal dari pekerjaannya itu.
Selanjutnya, pemilik rumah juga puas terhadap pekerjaannya. Sehingga, dia akan memperoleh upah sesuai dengan harapannya atau bahkan akan mandapatkan “bonus” dari pemilik rumah. Kesuksesannya terhadap pekerjaan tersebut, akan menjadi modal baginya untuk hari esoknya. Andaikata orang tersebut akan membuat rumah lagi pada masa berikutnya, tentulah dia akan dipercaya kembali. Atau bahkan, jika ada ada orang lain yang hendak membuat rumah, tentulah dia akan dicari dan diberikan kepercayaan sebagai tukangnya.
Tentu saja, akan berbeda halnya dengan tukang yang mengerjakan pekerjaan secara acak dan asal-asalan, serta tanpa melakukan evaluasi terhadap kerjanya. Begitu dia menyerahkan hasil kerjanya, pemilik rumah akan kecewa dan untuk masa berikutnya dia akan sulit mendapatkan kepercayaan lagi.
Begitu juga seorang guru misalnya, dalam mengajar mestilah melakukan evaluasi terhadap anak didiknya. Jika anak didiknya mendapatkan nilai bagus berarti dia sukses mengajar dan kesuksesan ini akan dijadikan pedoman untuk mengajar dan mencapai hasil yang lebih baik untuk masa mendatang. Jika nilai anak didiknya jelek dan kurang memuaskan, maka berarti dia gagal dan mesti mencari cara dan metode lain yang lebih baik untuk menghasilkan perubahan yang lebih baik pada masa berikutnya.
Ada hal yang menarik dari pesan Allah dari ayat di atas, di mana perintah bertaqwa disebutkan dua kali. Pertama, sebelum evalusi dan kedua, setelah evaluasi. Begitulah isyarat Allah kepada manusia, bahwa taqwa pertama adalah landasan untuk melakukan perbuatan dengan sebaik-baiknya, serta dengan kemampuan yang maksimal. Akan tetapi, jika masih terdapat kekurangan, maka mestilah dia memperbaikinya dengan segenap kemampuan dan dengan upaya maksimal, itulah taqwa yang kedua. Begituah hendakanya manusia beramal, lakukanlah suatu perbuatan dengan maksimal, kemudian setelah dievaluasi perbaiki dengan maksimal pula.
Ibadah puasa dan serangkaian ibadah lainnya yang kita laksanakan selama Ramadhan, mestilah juga dievaluasi sebelum kita menyerahkannya kepada Allah, maka perlu diperhatikan segala sesuatunya, termasuk memperbaiki segala bentuk kekurangan dan ketidaksempurnaannya. Sehingga, ketika diserahkan kepada Allah, Allah swt merasa “puas”, sehingga kita berhak atas balasan berupa maghfirah, sorga dan keridhaan-Nya.
Jika kita kembali hubungkan dengan tema kita di atas, qiyamul lail dan muhasabah, maka dapat kita simpulkan bahwa waktu terbaik untuk melaksanakan muhsabah, penghitungan diri atau evaluasi itu dalah saat malam hari tersebut. Sebab, saat itu bukan hanya suasana yang tenang, hening dan khusu’, tetapi hati manusia juga dalam situasi yang paling bening dan jernih karena berada pada saat yang paling dekat dengan Allah.

Ihkwan Fillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More